Megawati Ajak Milenial Kunjungi Makam Pahlawan Tanpa Nama

Bayu Nugraha, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, mengajak kaum muda kembali merenungkan keberadaan makam pahlawan tanpa nama. Ajakan Megawati agar para milenial mengingat jasa-jasa mereka, baik yang dituliskan dengan nama atau tidak dikenal yang ada di Taman Makam Pahlawan daerah-daerah.

"Saya selalu mengingatkan ada mereka yang jadi pahlawan itu anonim, tidak diketahui siapa dia. Apa artinya? Artinya karena pada waktu itu dia menyerahkan jiwa raganya bagi negara kita Republik Indonesia ini (tanpa perduli namanya dikenal)," ujar Megawati, saat berbicara di hadapan civitas akademika dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) secara virtual, Selasa, 10 November 2020.

Bagi Megawati, pesatnya kemajuan teknologi, harus bersamaan dengan hakikat kebangsaan yang benar, pengertian yang benar terkait ideologi Pancasila dalam artian luas. Untuk era kekinian, putri proklamator Bung Karno itu menyebut, teknologi seperti Google dan YouTube, sebagai mesin pencari informasi, perlu dimanfaatkan supaya kaum muda menggali berbagai sumber informasi terkait pembangunan bangsa.

Lebih jauh dari itu adalah mengimplentasikannya ke tengah-tengah masyarakat. Bukan mencari informasi yang belum tentu mengandung kebenarannya atau hoaks.

"Bagaimana menggelorakan semangat itu? Bukan hanya dengan pikiran dan bacaan, tetapi tidak masuk ke dalam dada kita," kata Megawati.

Di kesempatan yang sama, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, menilai sudah seharusnya akademisi Indonesia menggaungkan pemikirannya untuk kemajuan bangsa di kancah internasional. Sebab, Hasto menilai jejak kemajuan itu sudah ada dari para pendahulu, termasuk dari para pendiri bangsa.

Konferensi Asia-Afrika pada 1955 yang digagas Presiden Pertama RI Bung Karno merupakan salah satu bukti bahwa negara ini bisa menjadi sentral peradaban dunia saat itu. Tak lama setelah Indonesia merdeka, Bung Karno dan banyak tokoh, meyakinkan masyarakat dunia bagaimana ide dan gagasan sebagai modal kuat suatu bangsa. Hal itu lah, kata Hasto, pemuda dan akademisi juga perlu mengilhami hal tersebut.

"Para pemimpin bangsa kita begitu percaya diri, bagaimana dengan ide dan opini. Kita tak punya kekuatan militer yang kuat, kita tidak punya kekuatan modal yang kuat, tetapi kita berani mengadakan Konferensi Asia-Afrika. Dengan modal apa? Makanannya karedok, soto lamongan, ada ketela, getuk lindri, di situ ada disajikan dalam Buku Mustika Rasa," kata Hasto.

"Itu makanan yang dulu disajikan kepada para delegasi Konferensi Asia-Afrika. Kita tidak punya modal, kita punya ide karena pendidikan," kata Hasto memaparkan itu dalam dialog lanjutan di depan para akademisi yang hadir.

Baca juga: Maahir, Naik Sepeda ke 34 Provinsi dan 7 Gunung Selama 2 Tahun Lebih