Meghan Markle Blak-blakan Trauma Jadi Keluarga Kerajaan

Donny Adhiyasa
·Bacaan 2 menit

VIVAMeghan Markle, istri Pangeran Harry, mengaku hidup bersama Kerajaan Inggris begitu sulit sehingga terkadang dirinya "tidak ingin hidup lagi". Dalam wawancara eksklusif bersama Oprah Winfrey, perempuan bergelar Duchess of Sussex itu menceritakan salah satu momen terendah dalam hidupnya.

Adalah saat Pangeran Harry ditanya salah satu anggota keluarga kerajaan mengenai "seberapa gelap" kulit putranya yang akan lahir di masa mendatang, Meghan pun merasakan tekanan berat hingga depresi dan trauma menghadapi situasi tersebut, seperti yang dilansir laman Buzzfeednews.

Pangeran Harry juga mengungkap bahwa ayahnya, Pangeran Charles, tak lagi mau menerima panggilan teleponnya saat ia menyatakan ingin mundur dari kehidupan kerajaan.

Meghan menyatakan kondisi kesehatan mentalnya menderita semenjak ia menjadi anggota keluarga kerajaan. Selama wawancara dengan Oprah pada 7 Maret, 2021. Meghan mengatakan hidupnya selalu terbayang-bayang dengan pikiran untuk bunuh diri selama kehamilan pertamanya. Tetapi ia takut untuk memberi tahu suaminya, Pangeran Harry.

"Saya malu mengatakannya pada saat itu dan malu harus mengakuinya kepada Harry. Tetapi saya tahu bahwa jika saya tidak mengatakannya, maka saya akan melakukannya," ungkap Meghan dalam penuturannya kepada Oprah.

Kemudian ketika dia mengumpulkan keberanian untuk menyuarakan kebutuhannya akan bantuan mengenai kesehatan mentalnya kepada Harry, Harry pun siap mendukungnya. Namun keluarga kerajaan, sama sekali tidak memberikan dukungan.

Meghan menyatakan bahwa ia sempat bertanya kepada seorang bangsawan senior tentang kemungkinan Meghan mencari perawatan medis ketika ia memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Kemudian, keinginan Meghan pun ditolak, Pejabat bangsawan itu memberitahu bahwa hal itu tidak akan mungkin, dengan alasan "itu tidak akan baik untuk institusi/kerajaan kami".

Kemudian Meghan mencari dukungan dari departemen SDM istana, dan mereka bersimpati dengan perasaannya, tetapi ia berkata bahwa mereka tidak dapat membantu karena dia bukan anggota staf yang digaji. Bahkan Pangeran Harry pun ragu Meghan bisa mendapatkan bantuan nyata di dalam tembok istana.

Terlepas dari semua itu, yang menyangkut ketraumaannya terhadap kehidupan kerajaan dan serangan yang tiada henti yang menyerang psikisnya, Meghan lebih dekat dengan kedamaian di luar kehidupan kerajaannya.

Kemudian Meghan dan Harry pindah ke California bersama putra mereka yang baru menginjak usia 1 tahun. Mereka menemukan hiburan dalam persahabatan dari salah satu orang kepercayaan terdekat Putri Diana.

Hidup mereka pun jauh lebih damai dan tentram setelah perpindahannya tersebut. Dan pasangan itu bersiap-siap untuk menyambut bayi nomor dua, dengan penuh harapan.

"Aku sangat berduka. Maksudku, aku bisa kehilangan ayahku. Aku bisa kehilangan seorang bayi kecilku. Dan aku hampir kehilangan namaku. Maksudku, identitasku akan hilang dengan seketika.Dan aku berharap orang-orang dapat melihat sisi lain hidupku untuk mengetahui bahwa hidup itu berharga untuk dijalani," kata Meghan Markle.
Laporan: Prima Nadia Rahayu