Megi, sang pembawa perubahan dari pedalaman Meratus

·Bacaan 4 menit

Megi, demikian panggilan akrab Megi Raya Soeseno, siang itu tampak lelah bersama belasan pemuda Desa Liyu di Kawasan Watu Badinding Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Mereka beristirahat sejenak setelah bergotong-royong membersihkan Kawasan Watu Badinding, salah satu kawasan wisata yang dikelola Pokdarwis Rano Liyo.

Kegiatan ini rutin mereka lakukan setiap Senin, sejak dibukanya Kawasan Watu Badinding menjadi area wisata.

Sebagai Ketua Pokdarwis Ranoo Liyo, Megi punya tanggung jawab mengelola kawasan wisata alam itu dengan menggerakkan sekaligus merangkul warga setempat.

"Warga Desa Liyu ingin bukti nyata apa yang dikerjakan bersama tidaklah sia-sia," tutur Megi yang kini sedang berjuang bersama membangun desa, salah satunya melalui sektor pariwisata.

Sejak kepulangannya ke Desa Liyu setelah merantau ke berbagai daerah, putra tokoh adat Dayak Deah Desa Liyu itu diberi tantangan oleh kepala desa untuk mendorong perubahan dan kemajuan desanya.

Awalnya Megi sempat bingung dan tidak tahu cara yang tepat mengembangkan potensi desanya, guna mendorong perubahan wujudkan desa yang maju.

Kebetulan akhir 2018, Megi terpilih mengikuti program "Capacity Building" yang diinisiasi PT Adaro Indonesia dan Yayasan Adaro Bangun Negeri ke Kawasan Wisata Dieng Provinsi Jawa Tengah.

Di sana Megi dan belasan peserta program, tercerahkan oleh ilmu dan pengetahuan yang dibagikan oleh Pokdarwis Pandawa Lima Dieng.

Sepulangnya dari Dieng, peserta mengikuti program lanjutan berupa Workshop Desa Wisata Berbasis Masyarakat, untuk mendapatkan wawasan membuat perencanaan desa.

Megi bersama pengurus Pokdarwis pun mencoba mengelola dan mengembangkan objek wisata Pemandian Watu Badinding secara bertahap.

Mulai dari melengkapi fasilitas bersantai bagi pengunjung, wahana wisata hingga arung jeram untuk menarik minat para pengunjung.

Pokdarwis terus mempromosikan tempat wisata ini termasuk fasilitas yang tersedia.

Alam memesona

Potensi alam yang memesona serta ragam budaya Dayak Deah yang dimiliki Desa Liyu di Kecamatan Halong tersebut, jadi modal untuk pengembangan desa menjadi kawasan wisata.

Panorama goa, air terjun dan sungai sebagai wahana rafting yang menantang, menjadi modal bagi warga untuk mengembangkan desa menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru daerah.

Bahkan, untuk mengangkat potensi budaya desa tersebut, Megi bersama kepala desa dan warga sekitar, melaksanakan festival budaya dayak, yang disebut Mesiwah Pare Gumboh, yaitu budaya tentang kesyukuran warga Dayak terhadap hasil panen dan kemakmuran yang kini mereka dapat.

Festival yang dikemas dengan apik yang didukung oleh Adaro dan YABN, banyak mendapatkan perhatian wisatawan dari berbagai daerah juga pemerintah daerah.

Selain itu, kini juga sedang dikembangkan upaya pemberdayaan kelompok dan masyarakat desa untuk menggali potensi kerajinan di daerah tersebut, sehingga bisa mendukung pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kerajinan anyaman, sasirangan dan lainnya, kini mulai berkembang di desa yang berada di kaki Pegunungan Meratus tersebut.

Gadis Dayak Desa Liyu saat menari pada festivalMesiwah Pare Gumboh.(Antaranews Kalsel/Istimewa)
Gadis Dayak Desa Liyu saat menari pada festivalMesiwah Pare Gumboh.(Antaranews Kalsel/Istimewa)

Target 100 ribu pengunjung

Semangat dan cita-cita Megi untuk melakukan perubahan di desanya, agar lebih maju, mendapatkan dukungan penuh dari warga sekitar yang ingin desanya juga maju.

Melihat semangat dan geliat warga yang mendukung untuk membangun dan menuju perubahan, membuat Megi optimistis Desa Liyu bisa bangkit dan bisa dikenal secara luas.

Semangat Megi tiba-tiba membuncah, tidak tanggung-tanggung dia ingin 100 ribu orang datang dan menyaksikan keindahan budaya dan keelokan alam Liyu yang masih perawan.

Didukung Adaro dan bimbingan Yayasan Adaro Bangun Negeri, berbagai program dipersiapkan dan dilakukan, mulai dari perbaikan infrastruktur, pengembangan budaya, ekonomi bahkan pola pikir warga, dipersiapkan menuju perubahan.

Saat ini, Megi bersama warga sekitar sedang mempersiapkan "guest house" dan sarana "camping" untuk pengunjung.

Megi optimistis dan berani menargetkan 100 ribu pengunjung bakal datang ke Kawasan Watu Badinding bisa tercapai, asalkan semuanya dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

Padahal penduduk Desa Liyu tak lebih 500 orang namun. Semangat Megi cukup mengejutkan, menargetkan 100 ribu pengunjung bisa menikmati panorama alam dan sejuknya air Sungai Liyu yang membelah Kawasan Watu Badinding.

Obsesi Megi pun terpenuhi karena dalam satu hari kawasan wisata ini dipadati pengunjung hingga 700 orang.

Tekad Megi dan warga Desa Liyu, ternyata juga mampu menyedot perhatian pemerintah daerah, yang kini juga membantu mempromosikan keelokan Desa Liyu.

Kini, Megi tidak sendiri, karena bukan hanya Adaro yang mendampinginya, tetapi juga Dinas Pariwisata, Kesatuan Pengelolaan Hutan Kabupaten Balangan dan media lokal hingga nasional.

Mereka terus membantunya untuk mewujudkan Desa Liyu menjadi destinasi wisata, bukan hanya bagi warga Kalsel, tetapi juga nasional bahkan internasional.

Sejak dibukanya Kawasan Watu Badinding menjadi area wisata untuk umum pada akhir September 2020, masyarakat Desa Liyu dibuat sibuk setiap harinya, khususnya Sabtu dan Minggu.

Kontribusi pengunjung tentunya jadi pemasukan bagi kas Desa Liyu, sekaligus tambahan pendapatan bagi warga yang terlibat dalam pengelolaan objek wisata ini.

Megi adalah contoh pemuda pedalaman, yang kini sedang berjuang, bukan hanya untuk mewujudkan mimpinya, tetapi juga mimpi ratusan warga desanya, untuk bisa ikut menikmati perubahan dan pesatnya pembangunan.

Perubahan yang mereka perjuangkan sendiri dengan tangguh, yang tumbuh dari dalam diri sendiri dan diimplementasikan melalui kesungguhan dan rasa optimistis.

Hanya dengan ketangguhan menghadapi berbagai persoalan yang terjadi, maka semua akan bisa terus tumbuh, seperti tema HUT ke-76 Kemerdekaan RI, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Semoga ke depan, akan lahir, satu, 10,100, bahkan 1.000 Megi, yang tangguh dan mampu membawa tanah air ini terus tumbuh.

Baca juga: Pemprov Kalsel kembali buka kawasan wisata alam Tahura Sultan Adam

Baca juga: Dispar Kalsel promosikan wisata alam melalui "Tour de Loksado"

Baca juga: Kemendes PDTT dorong puluhan desa di Kalsel jadi desa wisata

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel