Melbourne Masih Lockdown 7 Hari Lagi, Apa Saja yang Bisa Dicapai

·Bacaan 3 menit

Warga Melbourne harus tetap menjalani lockdown tujuh hari lagi, saat petugas berupaya menghentikan penyebaran varian COVID-19 yang sangat menular.

Hingga Kamis pagi (3/06/2021), ada 63 kasus aktif dan 5.200 kontak erat yang harus dimonitor selama dua pekan ke depan.

Bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah.

Apa alasan di balik perpanjangan 'lockdown'?

Menurut pejabat tertinggi bidang medis negara bagian Victoria, Profesor Brett Sutton, alasan utama perpanjangan lockdown adalah untuk memastikan kasus baru tidak menyebar ke mana-mana.

Selain itu juga agar kasus baru tidak semakin merambah banyak lokasi lainnya dan mata-rantai penularan.

Saat ini ada lebih dari 350 lokasi penularan telah diidentifikasi, kebanyakan berupa pusat perbelanjaan yang ramai, pasar, dan pertokoan.

Menurur Profesor Brett, satu-satunya alasan mengapa Melbourne belum melihat jumlah kasus yang lebih banyak adalah karena adanya langkah-langkah yang telah diterapkan.

"Saya menjelaskan soal R0 [jumlah reproduksi] dari virus ini, mungkin lima," katanya merujuk pada jumlah reproduksi virus.

"Artinya, tanpa membatasi perilaku, tanpa melakukan pelacakan, setiap orang akan menularkan kepada lima orang lainnya," jelas Profesor Brett.

Bagaimana menghentikan penularan dalam tujuh hari?

Dalam keterangan pers sebelumnya, Profesor Brett ditanya apakah 'lockdown' selama tujuh hari sudah cukup untuk mengendalikan wabah.

"Semoga satu minggu sudah cukup, namun kita melihat pertambahan lokasi penularan. Kita harus mempertimbangkan hal ini dalam memperpanjang lockdown," katanya.

Ia mengaku tidak begitu khawatir bila banyak jumlah kontak erat dan banyak kasus baru, sepanjang semuanya berada dalam karantina.

Menanggapi perpanjangan lockdown ini, Profesor Sharon Lewin, direktur lembaga riset bidang medis Doherty Institute, mengatakan Melbourne bisa menilai apakah wabah ini bisa diredam pada akhir minggu kedua lockdown.

"Bila kita melihat jumlahnya menurun ke arah yang seharusnya, misalnya enam kasus atau kurang, hal itu akan memberikan kepercayaan diri untuk melakukan pelonggaran aturan," jelasnya.

Masalahnya saat ini adalah jumlah kasus misterius yang cukup banyak.

Profesor Mike Toole dari lembaga riset lainnya, Burnet Institute, menyebutkan adanya kekhawatiran karena petugas pelacakan kontak sampai kini masih berusaha mengidentifikasi hubungan penularan antara seorang warga Melbourne asal India, yang tertular virus di karantina hotel di Adelaide, dengan kasus pertama dalam wabah saat ini.

Pengujian genom telah mengkonfirmasi jika wabah sekarang berasal dari pria berusia 30-an yang tinggal di daerah Wollert tersebut, namun "mata rantai yang hilang" belum ditemukan.

Belum diketahui, misalnya, bagaimana seorang perawat terinfeksi di rumah perawatan lansia Arcare di daerah Maidstone.

Petugas juga masih berusaha mencari tahu bagaimana sebuah keluarga beranggotakan empat orang dari Victoria terinfeksi dalam perjalanan liburan ke New South Wales.

Epidemiolog yakin wabah dapat dihentikan

Namun, Profesor Mike menilai petugas pelacakan kontak telah melakukan tugasnya dengan baik.

Jumlah kasus yang teridentifikasi tidak besar dan menurutnya tidak mungkin seluruh mata-rantai penularan terlewatkan.

"Apa yang akan dilakukan petugas pelacakan kontak pada dasarnya adalah menyelesaikan tugasnya, menjangkau kontak terakhir dari kasus tersebut," jelas Profesor Mike.

"Melihat besarnya jumlah orang yang dites, saya yakin kita bisa mengatasi hal ini," ujarnya.

Namun, menurut Profesor Sharin, pelonggaran 'lockdown' bukan berarti warga Melbourne nantinya bisa kembali bebas tanpa aturan protokol kesehatan seperti tiga bulan sebelumnya.

"Ada tahapan pelonggaran, seperti yang diterapkan di pedalaman Victoria saat ini," katanya.

Lantas bagaimana prediksi Profesor Brett Sutton, yang masukannya akan dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan tentang 'lockdown'?

"Saya kira kecenderungannya sangat baik," katanya.

"Dalam 48 jam terakhir terlihat lebih banyak orang yang tidak menular berada dalam masyarakat. Itu pertanda baik," ujarnya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.