Melepas Rindu Sesaat di Persimpangan Jalan Brebes

Merdeka.com - Merdeka.com - Terik matahari kian menyengat. Panas semakin terasa di tengah deretan bus bersamaan menyalakan mesinnya. Mereka bersiap mengantar ratusan pemudik pergi ke kampung halaman.

Sugianto, terpaksa melewatkan Lebaran bersama keluarga. Saat orang lain bercengkrama dengan sanak keluarga. Dia justru mencari uang di jalan demi istri dan anaknya.

Sugianto sopir bus di Terminal Kalideres, Jakarta. Bersama kernetnya, Aleh akan membelah jalanan hari ini menuju Cepu, Jawa Tengah.

"Berangkat ke Cepu saya siang ini," kata Sugianto sambil berkipas memakai sepotong kardus untuk meredakan hawa panas.

Merenggangkan badan di bagasi busnya sebelum berangkat, Sugianto mengakui tak bisa rindu kumpul bersama sanak keluarga sambil menikmati opor dan rendang saat Lebaran.

Menyeruput kopi, Sugianto menceritakan dilema yang sulit Lebaran bersama keluarga, apalagi mudik ke kampung Halaman di Brebes.

"Mudiknya cuma berapa jam pas hari lebaran sempat pulang ke rumah," katanya.

Sugianto mengatakan, biasanya para sopir bus antar kota bisa mudik ke kampung halaman dengan 'curi-curi' waktu.

Curi-curi waktu mudik pada momen lebaran kali ini, kata Sugianto, dilakukannya saat malam takbiran usai dirinya mengantar penumpang ke Jawa Tengah.

Dia dengan Bus Hino Hijaunya menyempatkan diri mampir ke Brebes untuk melepas rindu sesaat kepada keluarga.

"Saat lebaran, saya pulang ke rumah bawa bus ini. Ya buat lebaran ke keluarga di hari itu. Lumayan lah masih sempet soalnya jalanan tidak macet jadi keburu," tuturnya.

Tak lama perjumpaan Sugianto dengan keluarganya, selepas malam, dia langsung kembali memacu busnya kembali ke Terminal Kalideres untuk keesokan harinya kembali mengangkut penumpang.

"Malamnya saya langsung berangkat lagi, ya cuma sebentar. Soalnya harus ngantar lagi kan," tuturnya.

Sugianto hanya mampu mengenang momen dirinya mudik untuk sekadar merayakan lebaran. Tiga tahun lalu, ketika 2019 tepatnya saat arus mudik masih normal sebelum pandemi Covid-19.

Caranya untuk melepas rindu kepada keluarga hanya dengan meminta anak dan istrinya menunggu di persimpangan ruas jalan dekat rumahnya.

Kala itu busnya yang dibawanya dari Jakarta ke Jawa Tengah melintas sebentar di Brebes. Dia pun lantas menghubungi sang istri untuk mengajak anaknya dan menunggu di persimpangan jalan.

Permintaan itu diutarakan Sugianto, karena dirinya yang sudah kangen dengan keluarga. Perjumpaan singkat itu terasa hangat, tak ada penumpang yang komplain karena pemberhentian sesaat itu. Mereka semua memahami jika sang sopir ingin melepas kangen sesaat dengan istri dan anaknya.

"Pernah, saya minta istri anak tunggu di pinggir jalan, terus saya ketemu sebentar. Dia ngasih bekal makanan terus saya kasih uang THR ke istri dan anak," ucapnya.

Sugianto mengaku jika mengingat momen-momen lebaran dengan keluarga selalu tersenyum sendiri. Tapi dia paham dengan risiko profesinya.

Bahkan, dia kembali tertawa apabila melihat tingkah laku istrinya yang pada lebaran tahun 2016 silam. Kala itu, istrinya tengah berada di rumah sendiri saat malam takbiran. Kemudian dia inisiatif untuk ikut Sugianto bekerja mengantar dari Jakarta menuju Jawa Timur.

Istrinya tak kuat menahan tangis karena merasakan risiko pekerjaan sang suami, mengantarkan pemudik bertemu keluarganya. Namun di sisi lain, suaminya malah meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah.

"Wah nangis istri saya, dia sampai bilang. 'Kok koe ngeterke wong liyo (penumpang) nyedak keluarga, tapi awak dewe malah menjauh (Kok kamu malah mengantar penumpang mendekat keluarga, tapi kita malah menjauh)," kata Sugianto sambil tirukan ucapan sang istri dengan bahasa jawa.

Sugianto hanya bisa menghibur sang istri saat itu. Menurut dia, pekerjaan sebagai sopir bus, tak kalah mulianya dengan pahlawan. "Saya bilang sudah risiko. Kalau boleh sombong, ya saya ini pahlawan mas, nganterin orang-orang, kaya gini ya. Iyakan pahlawan lah," gurau Sugianto.

Hari menjelang petang, sejumlah penumpang yang bakal diantarkan Sugianto pun satu-persatu mulai masuk. Dia bersama Aleh pun lantas bergegas memakai seragamnya untuk bersiap-siap mengantar para pemudik mendekat ke keluarganya, meski dirinya harus menjauh. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel