Melihat Gerak Saham Emiten Rokok Terkait Tarif Cukai Bakal Naik

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah akan menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2022. Pemerintah membidik penerimaan cukai sebesar Rp 203,9 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2022. Penerimaan cukai itu meningkat 11,9 persen dari outlook penerimaan cukai APBN 2021.

Namun, pemerintah belum mengumumkan besaran kenaikan tarif cukai rokok tersebut. Lalu bagaimana gerak saham emiten rokok dengan sentimen itu?

Pada sesi pertama perdagangan, Jumat (27/8/2021), saham emiten rokok cenderung beragam. Saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) stagnan di posisi Rp 468 per saham. Saham WIIM dibuka naik empat poin ke posisi Rp 472 per saham. Saham WIIM berada di level tertinggi Rp 472 dan terendah Rp 464 per saham. Total frekuensi perdagangan 712 kali dengan volume perdagangan 37.143. Nilai transaksi Rp 1,7 miliar.

Sementara itu, saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun 1,04 persen ke posisi Rp 950 per saham. Saham HMSP dibuka stagnan di posisi Rp 960 per saham. Saham HMSP berada di level tertinggi Rp 965 dan terendah Rp 950 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.526 kali dengan volume perdagangan 77.448 kali dengan nilai transaksi Rp 7,4 miliar.

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) susut 0,85 persen ke posisi Rp 31.925 per saham. Saham GGRM dibuka naik 100 poin ke posisi Rp 32.300 per saham. Saham GGRM berada di level tertinggi Rp 32.300 dan terendah Rp 31.900 per saham. Total frekuensi perdagangan 802 kali dengan volume perdagangan 2.224. Nilai transaksi Rp 7,1 miliar.

Sementara itu, saham PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) naik 2,44 persen ke posisi Rp 252 per saham. Saham ITIC dibuka stagnan di posisi Rp 246 per saham. Saham ITIC berada di level tertinggi Rp 260 dan terendah Rp 242 per saham. Total frekuensi perdagangan 517 kali. Volume perdagangan 36.562. Nilai transaksi Rp 917,9 juta.

Di sisi lain, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung melemah. IHSG melemah 0,42 persen ke posisi 6.032,82. Indeks LQ45 tergelincir 0,64 persen ke posisi 844,80. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan. IHSG berada di level tertinggi 6.066,49 dan terendah 6.021,95.

Sebanyak 289 saham melemah sehingga menekan IHSG. 189 saham menguat dan 158 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 834.162 kali dengan volume perdagangan 12,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5,7 triliun.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tarif Cukai Rokok pada 2022 Bakal Naik

Petugas memperlihatkan rokok ilegal yang telah terkemas di Kantor Dirjen Bea Cukai, Jakarta, Jumat (30/9). Rokok ilegal ini diproduksi oleh mesin dengan total produksi 1500 batang per menit. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas memperlihatkan rokok ilegal yang telah terkemas di Kantor Dirjen Bea Cukai, Jakarta, Jumat (30/9). Rokok ilegal ini diproduksi oleh mesin dengan total produksi 1500 batang per menit. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Pemerintah bakal menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada tahun depan. Penerimaan cukai pada RAPBN tahun anggaran 2022 diprediksi sebesar Rp 203.920 miliar, atau tumbuh 11,9 persen dibandingkan outlook 2021.

Akan tetapi, pemerintah sejauh ini belum mengumumkan besaran kenaikan tarif cukai rokok tersebut. Terkait hal ini, Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Nirwala Dwi Heryanto, mengatakan besaran tarif tersebut akan diumumkan setelah UU APBN 2022 diketaok dan disetujui oleh pemerintah dan DPR.

“Di situ kita baru lihat seberapa besar tarif cukai yang harus dinaikkan, bahkan di nota keuangan disebutkan ada ekstensifikasi BKC (Barang Kena Cukai), jadi tidak semata-mata rokok," tutur Nirwala dalam konferensi pers pada Kamis, 26 Agustus 2021, dikutip dari Kanal Bisnis Liputan6.com.

Kebijakan tersebut, menurut Nirwala, seharusnya keluar tidak terlalu lama setelah UU APBN disetujui. Lantaran dari sana akan diketahui target cukai sebenarnya.

Keuntungannya, kata Nirwala, cukai memiliki instrumen kenaikan dan penurunan, sehingga target cukai disebut bisa dipenuhi. Hal ini disebut karena ketepatan perhitungan dalam penyusunan struktur tarif. Pihaknya berharap Oktober sudah mulai.

“Karena kalau Oktober, perusahan lebih mudah melakukan forecasting untuk tahun 2022, dan kita dalam persiapan pita juga akan lebih tertata rapi," ujar Nirwala.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel