Melihat Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap Saat Imbal Hasil Obligasi AS Naik

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Imbal hasil obligasi Amerika Serikat cenderung meningkat. Tercatat imbal hasil obligasi AS sentuh 1,7 persen pada pekan ini. Lalu bagaimana dampaknya terhadap reksa dana pendapatan tetap?

Mengutip catatan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang disebabkan kekhawatiran meningkatnya inflasi dan suku bunga akibat pemulihan ekonomi membuat imbal hasil obligasi dunia juga meningkat termasuk Indonesia.

Imbal hasil obligasi pemerintah berdenominasi rupiah bertenor 10 tahun saatini berada di atas level 6,5 persen, meningkat dari kisaran 5,9 persen pada akhir 2020.

Jika imbal hasil meningkat, artinya harga obligasi turun. Lalu bagaimana peluang di reksa dana pendapatan tetap?

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja menuturkan, di tengah kenaikan imbal hasil, obligasi Indonesia pun tidak terhindari dari kenaikan.

Akan tetapi, hal menarik bahkan dengan kenaikan yang terjadi sepanjang tahun berjalan, imbal hasil riil atau imbal hasil dikurangi dengan ekspektasi inflasi, obligasi Indonesia masih menjadi salah satu paling tinggi di kawasan.

"Dan sangat menarik terutama dilihat oleh investor asing di negara maju," ujar dia dalam catatan dikutip Minggu, (21/3/2021).

Ia menambahkan, gabungan kondisi inflasi yang rendah, imbal hasil dan suku bunga riil yang menjadi salah satu tertinggi di dunia, likuiditas domestik yang melimpah, dan potensi meningkatnya arus dana asing di tengah kepemilikan yang sudah rendah menjadi faktor pendukung pasar obligasi Indonesia pada 2021.

Ia menuturkan, dengan perbaikan fundamental Indonesia dan potensi ekonomi Indonesia sedang menuju ke dalam tahap jalur pemulihan, kondisi saat ini dapat menjadi momen bagi investor untuk mendiversifikasikan dana ke reksa dana pendapatan tetap.

Mengenal Reksa Dana Pendapatan Tetap

Ilustrasi investasi | unsplash.com/@precondo
Ilustrasi investasi | unsplash.com/@precondo

Freddy menjelaskan, reksa dana pendapatan tetap merupakan instrumen investasi yang diterbitkan oleh perusahaan manajer investasi, yang di dalamnya terdiri dari efek-efek obligasi.

Sebuah produk reksa dana pendapatan tetap berisi banyak obligasi sekaligus, dengan berbagai jenis, baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun swasta. Manajer investasi memiliki sejumlah variasi produk reksa dana pendapatan tetap.

"Ada produk yang mengkhususkan sebagian besar portofolionya ke obligasi korporasi, ada juga yang fokus pada obligasi pemerintah. Dengan isi yang berbeda-beda, tentu saja masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, baik dari sisi risiko maupun potensi imbal hasil. Sebagai investor, Anda sendiri yang bisa memilih mana yang paling sesuai untuk Anda,” kata dia.

Freddy menambahkan, dalam investasi berlaku prinsip high risk high return. Dengan imbal hasil sejalan dengan risiko. Investasi reksa dana pendapatan tetap memiliki tingkat risiko menengah dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu yang terpenting adalah tren suku bunga baik global maupun domestik.

"Di tengah tren suku bunga dunia yang tetap rendah, obligasi dapat menjadi pilihan untuk mengoptimalkan dana kita namun dengan eksposur risiko yang lebih rendah dibandingkan investasisaham,” kata dia.

Ia menuturkan, memang diperkirakan 2021 ini imbal hasil investasi obligasi tidak akan sespektakuler

2020. Namun, ia menilai potensi hasil dan peluang di pasar obligasi masih menarik bagi investor yang inginmeminimalkan risiko dan volatilitas.

"Harus diingat, penting selalu untuk melakukan diversifikasi atas porfotolio investasi Anda sesuai profil risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu,” kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini