Melihat Kebudayaan Indonesia pada Film Raya and the Last Dragon

·Bacaan 4 menit

VIVA – Walt Disney Animation Studios memproduksi film animasi pertama yang terinspirasi oleh beragam budaya Asia Tenggara termasuk Indonesia yang berjudul Raya and the Last Dragon. Pada sepanjang petualangan raya mencari naga terakhir, penonton disuguhkan tampilan audio-visual dari berbagai suasana khas Asia Tenggara.

Dikenal akan kekayaan budaya serta keindahan alamnya, beberapa negara Asia Tenggara tersebut digabungkan ke dalam satu cerita. Mulai dari motif, warna, arsitektur, makanan hingga nilai kebiasaan serta adat istiadat kehidupan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara hadir di film Raya and the Last Dragon garapan Disney.

Film yang tayang pada Maret lalu ini sebelumnya disiapkan selama beberapa tahun terakhir. Agar mendapatkan unsur kebudayaan yang terlihat nyata dan maksimal, para pembuat film melakukan riset ke enam negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos dan Singapura.

Budaya Indonesia dalam Film Raya and the Last Dragon

Seniman asal Indonesia, Griselda Sastrawinata ikut terlibat sebagai visual development artist bersama Luis Logam sebagai story artist pada film Raya and the Last Dragon. Dilansir dari ANTARA, beberapa tokoh pegiat budaya yaitu Dewa Berata dan Emiko Susilo pun turut serta terlibat dalam film ini. Menjadi bagian dari tim konsultan, keduanya dikhususkan pada bagian budaya Indonesia seperti tari, upacara tradisional hingga musik gamelan.

Dalam proses produksi filmnya, sekelompok ahli ikut andil membantu dalam memberikan wawasan budaya serta adat dari tiap negara yang terdiri dari antropolog, arsitek, linguis, penari hingga pemain musik tradisional.

Dilansir dari detik.com, film yang disutradarai Carlos López dan Don Hall ini menyuguhkan baik visual maupun audio yang tak asing bagi masyarakat Indonesia, antara lain:

1. Keris

Salah satu modal keberanian yang Raya selalu bawa bersamanya untuk menghadapi musuh dalam perjalanan yang ia tempuh demi menyelamatkan negeri Kumandra adalah pedangnya. Bentuk pedang milik Raya terlihat seperti lekukan bergelombang yang menyerupai senjata tradisional keris yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

2. Simbol Buto Ijo

Terdapat adegan Ayah Raya yang muncul dengan sebuah topeng berwarna hijau dan berwajah seram serta memiliki taring yang panjang. Topeng yang mirip dengan simbol Buto Ijo tersebut digunakan saat Benja, Ayah Raya saat sedang bertarung.

3. Pencak Silat

Raya sebagai seorang pendekar wanita tentu saja sangat handal dalam bela diri. Ternyata, bela diri yang ditekuni oleh Raya sedari kecil mirip dengan jurus gerakan bela diri tradisional Indonesia yaitu Pencak Silat.

4. Rumah Gadang

Kumandra yang terpecah menjadi lima suku, Fang adalah salah satu suku yang memiliki bangunan tradisional yang terinspirasi dari Rumah Gadang khas Padang, Sumatera Barat.

5. Gamelan

Film Disney memang khas dengan film animasi yang membuat para penontonnya dapat terbawa suasana film, maka tentu saja diperlukan musik latar atau back sound. Di film Raya and the Last Dragon penonton dimanjakan dengan suara-suara gamelan, musik tradisional khas Indonesia.

6. Batik

Selain itu, penonton dapat menemukan adegan beberapa warga yang sedang membatik. Walau hanya muncul dalam hitungan detik, namun adegan tersebut sangat jelas memperlihatkan seseorang yang tengah membuat pola diatas kain menggunakan canting.

Pandangan Pegiat Seni Budaya Indonesia pada Film Raya and the Last Dragon

Menurut Lita, Putri Tari DKI Jakarta 3 2020 dan salah satu bagian dari komunitas Belantara Budaya Indonesia, mengungkapkan film Raya and the Last Dragon sangat menakjubkan serta kreatif karena dapat dikemas dalam film animasi Disney sehingga dapat ditonton semua kalangan usia.

“Ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia yang begitu kaya, indah dan beragam kepada seluruh dunia,” ujar Lita.

Ia mengungkapkan cara Disney memproduksi film animasi seperti ini juga bisa menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya kepada generasi anak bangsa selanjutnya. Meski film besutan Disney berasal dari negara lain, namun jika generasi muda menonton film ini Lita mengungkapkan mereka pasti mendapat kebanggaan tersendiri hingga timbul rasa ingin terus mencintai budaya Indonesia.

“Seni dan budaya Indonesia harus dipelajari, dikembangkan, dicintai dan dilestarikan. Dari situ kita akan belajar, karena kalau bukan kita siapa lagi?,” papar Lita.

Memiliki sudut pandang yang berbeda dari Lita, salah seorang Dosen Seni Rupa berketurunan Indonesia di Emily Carr University of Art and Design Canada, Diyan Achjadi mengatakan, “Sebagai orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Amerika Serikat dan Kanada, disini sering sekali orang menyangka bahwa Asia itu semuanya sama, entah itu orangnya hingga kebudayaannya,”

Tentu sebagai orang Indonesia, Diyan merasa senang dapat melihat unsur-unsur kebudayaan Indonesia di film animasi Disney. Namun kekhawatiran Diyan, kebanyakan penonton yang bukan dari Indonesia kurang mengenal atau mengapresiasi budaya Indonesia, sebab film ini dipersembahkan hanya untuk merepresentasikan kebudayaan Asia Tenggara tanpa membedakan asal-usul atau kompleksitas dari sejarah budaya masing-masing negara.

Film Disney’s Raya and the Last Dragon menerima sambutan hangat dari banyak pihak. Tak lepas apresiasi serta kritik disampaikan dari berbagai sudut pandang masyarakat Indonesia termasuk para pegiat seni budaya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel