Melihat Kejahatan Rasial dari Kacamata Seorang Perempuan Asia yang Hidup di Amerika Ini

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Saat wabah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi dan Christine Liwag Dixon terisolasi, ia memutuskan membuat jurnal untuk mencatat pengalamannya. Christine takut meninggalkan rumah, bukan hanya karena ada virus di luar sana yang tidak dapat dikendalikan oleh siapapun, namun karena wajahnya yang dianggap tidak aman.

Christine takut pergi keluar karena ia telah melihat teman dan kerabatnya dari Asia disalahkan atas pandemi COVID-19. Christine merasa dirinya bukan hanya tidak memiliki kemampuan untuk menjinakkan virus ini, namun juga tidak bisa menjinakkan rasisme yang menyertainya.

Meningkatnya kejahatan rasial terhadap orang Asia-Amerika sudah dimulai, namun hanya mendapatkan sedikit perhatian. Terkadang, Christine merasa bahwa reaksinya berlebihan.

Baru-baru ini, seorang pria kulit putih masuk ke sebuah tempat spa di Georgia dan menembak 8 orang secara brutal. Enam di antaranya adalah perempuan Asia, yaitu Xiaojie Tan, Daoyou Feng, Soon C. Park, Hyun J. Grant, Suncha Kim, dan Yong A. Yue, sedangkan dua korban lainnya adalah Paul Andre Michels dan seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya.

Seberapa besar kemungkinan Christine menjadi target kejahatan rasial? Itu tergantung pada apa yang kamu anggap sebagai kejahatan rasial.

Hebatnya, banyak orang tidak berpikir bahwa kejadian di atas adalah pembunuhan besar-besaran. Secara statistik, kemungkinan menjadi korban kekerasan fisik atau seksual sebagai perempuan Amerika keturunan Asia cukup tinggi, yaitu 21% hingga 55% perempuan Asia di Amerika Serikat telah melaporkan diri sebagai korban.

Penembakan di Georgia menewaskan 6 perempuan Asia

Ilustrasi Kekerasan pada Anak Credit: pexels.com/Kirk
Ilustrasi Kekerasan pada Anak Credit: pexels.com/Kirk

Penembakan tersebut bukanlah satu-satunya tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan Asia dalam setahun terakhir. Dari 3.795 kejahatan terhadap orang Asia-Amerika yang dilaporkan dari 19 Maret 2020 hingga 28 Februari 2021, sebagian besar adalah terhadap perempuan Amerika-Asia, dengan 2,3 kali lebih banyak insiden daripada yang dialami oleh kaum pria.

Bukan hal yang mengherankan jika perempuan begitu sering menjadi sasaran, terutama jika kamu mempertimbangkan bagaimana perempuan Asia dipandang di Amerika. Mereka dianggap sebagai orang asing abadi, terlepas dari kewarganegaraan atau di mana mereka dilahirkan, akan selalu ada orang yang melihat mereka sebagai spesimen eksotik yang datang dari Timur.

Christine sendiri sering mengalami pelecehan yang dinormalisasi oleh orang lain. Suatu kali, ia sedang mengantre untuk memperbarui SIM ketika seorang pria di belakangnya bertanya, "Maaf, tapi bolehkah aku bertanya siapa kamu? Apakah kamu kebetulan orang dari Kepulauan Pasifik?"

Christine menjawab, "Aku orang Filipina." Lalu dijawab lagi oleh pria tersebut, "Ah, itu menjelaskan. Aku pernah ditempatkan di Filipina saat masih muda dan perempuan paling cantik memang berasal dari sana," sambil melihat ke payudara Christine saat istrinya berdiri tepat di sampingnya.

Kaum pria sering memberi tahu Christine apa yang mereka ketahui tentang tubuhnya. Mereka bersumpah bahwa vaginanya lebih ketat daripada perempuan kulit putih, mereka memberi tahu bahwa Christine tidak tahu kesenangan sejati karena Asia tidak memiliki pria sejati.

Christine pernah ditawari uang untuk seks dan ada beberapa pria yang mencoba mengangkat roknya. Christine telah mengalami pelecehan rasial dan seksual sampai ia sering menangis.

Pelecehan yang dialami oleh Christine bukan sekali dua kali terjadi pada perempuan Asia di Amerika

Ilustrasi/copyrightshutterstock/Tinnakorn jorruang
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Tinnakorn jorruang

Banyak pria agresif, tapi beberapa dari mereka mencoba merayunya di awal. Mereka memohon pada Christine untuk membisikkan rahasia Tiongkok kuno di telinga mereka, bersumpah akan memperlakukan Christine seperti seorang permaisuri, dan menawarkan untuk meletakkan bunga sakura di kakinya.

Hiperseksualisasi perempuan Asia memainkan peran besar dalam kekerasan yang dihadapi. Mengetahui betapa kejamnya pria ketika mereka ditolak membuat Christine berpikir tentang penembak tersebut, yang mengatakan bahwa ia melihat korbannya sebagai godaan, yang perlu disingkirkan.

Perempuan mengalami misogini setiap hari, namun menjadi orang Asia menambah lapisan dehumanisasi. Seorang misoginis mungkin akan berkata, "Hei, payudara yang bagus," namun pria yang menargetkannya berdasarkan ras dan jenis kelamin lebih cenderung mengatakan sesuatu seperti, "Wow, aku belum pernah melihat perempuan Asia dengan payudara besar."

Christine tidak ingin menjalani hidup dalam ketakutan, namun ia mendapati dirinya bergulat dengan kecemasan setiap kali ia harus meninggalkan rumah. Ia memakai gaun dengan saku, sehingga ia punya tempat untuk menyimpan semprotan merica.

Seperti itulah rasanya menjadi perempuan Asia di Amerika. Mereka terikat oleh trauma dan kesedihan, dan juga oleh amarah.

Mereka marah karena suaram mereka sering dibungkam, mereka marah karena rasisme dan misogini yang mereka alami sepanjang hidup, mereka marah karena butuh enam perempuan Asia yang terbunuh hingga orang-orang akhirnya mulai bicara tentang peningkatan rasisme yang telah mereka jalani selama setahun terakhir. Mereka telah berbicara selama ini, hanya belum banyak orang yang mendengarkan.

#Elevate Women