Melihat Kinerja Keuangan Emiten BUMN Sepanjang 2020, Siapa Paling Moncer?

·Bacaan 12 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir, mengungkapkan laba bersih BUMN turun dari 2019 sebesar Rp 124 triliun menjadi Rp 28 triliun. Hal ini disebabkan pandemi COVID-19 yang juga menekan kinerja perusahaan-perusahaan BUMN.

Erick juga mengungkapkan, pendapatan perusahaan pelat merah tanah air turun dari Rp 1.600 triliun menjadi Rp 1.200 triliun. Oleh sebab itu, Kementerian BUMN mulai tahun ini akan memiliki buku secara konsolidasi melalui sistem terintegrasi. Perkiraannya, buku itu akan selesai pada September 2021.

Melalui buku itu, Kementerian bisa mengintegrasikan data antar perusahaan BUMN untuk dilakukan pemetaan masalah dan evaluasi secara komprehensif. Dengan begitu, solusi yang diambil dalam pemecahan masalah di perusahaan pelat merah bisa dilakukan dengan tepat.

Lalu bagaimana kinerja emiten BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2020? Liputan6.com mencoba merangkum kinerja emiten BUMN yang masuk dalam IDXBUMN 2020. Indeks ini mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan tercatat yang merupakan BUMN, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan afiliasinya.

Secara umum, emiten yang mencatatkan penurunan cukup dalam selama utamanya saat pandemi, yakni perbankan, konstruksi dan transportasi.

Sementara sektor lainnya, seperti telekomunikasi justru moncer. Hal ini merujuk pada akselerasi digital yang terjadi sejalan dengan pemberlakukan pembatasan sosial selama pandemi. Selain itu, juga ada emiten farmasi yang kecipratan berkah dari pandemi covid-19.

Berikut rangkuman kinerja keuangan emiten BUMN yang masuk IDX BUMN20 sebagai berikut, ditulis Senin, (7/6/2021):

1.PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mencatatkan kinerja keuangan positif dan solid sepanjang 2020. Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 1,5 triliun atau naik 463 persen dibandingkan 2019.

Penjualan emas menjadi penyumbang terbesar dari pendapatan perusahaan dengan nilai Rp 19,36 triliun atau 71 persen dari penjualan sepanjang 2020 sebesar Rp 27,37 triliun.

Hingga kuartal pertama tahun ini, Antam mampu meraup penjualan Rp 9,21 triliun pada kuartal I 2021. Dari raihan ini, Perseroan mampu mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 630,37 miliar pada 31 Maret 2021 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 281,83 miliar.

Kinerja Emiten BUMN Lainnya

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Carlos Muza)

2.PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)

Pada 2020, BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun. Angka ini mengalami penurunan sekitar 78,7 persen yoy dibandingkan laba bersih di 2019 sebesar Rp 15,38 triliun.

Dari sisi rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4 persen. Lebih besar dibandingkan 2019 yang sebesar 133,5 persen.

Sementara hingga Maret 2021, BBNI mencatat laba bersih sebesar Rp 2,39 triliun. Posisi laba bersih diakui Direktur Utama BNI Royke Tumilaar lebih baik dari Maret 2020.

Laba bersih yang diperoleh sejalan dengan dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio yang ditetapkan pada level 200,5 persen, atau lebih tinggi dari posisi akhir 2020, yakni 182,4 persen.

3.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)

Laba perseroan sepanjang 2020 sebesar Rp 18,66 triliun. turun 45,8 persen (yoy) dibandingkan 2019 senilai Rp 34,414 triliun. Dana pencadangan pada periode tersebut mencapai 237,73 persen dan total aset BRI Group menembus Rp 1.511,81 triliun. lebih rendah 45.65 persen year on year (yoy) dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 sejumlah Rp 34,37 triliun.

Hingga kuartal I-2021, BRI mencatatkan laba Rp 6,86 triliun hingga kuartal I-2021. Perolehan laba tersebut menurun 16 persen dari periode sama 2020 sebesar Rp 8,17 triliun.

4.PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)

Laba bersih BBTN melesat 665,71 persen yoy pada 2020. Yakni menjadi Rp 1,60 triliun dari posisi Rp 209 miliar pada periode yang sama pada 2019.

Hingga kuartal I-2021, Bank BTN berhasil menorehkan peningkatan laba bersih sebesar 36,75 persen yoy dari Rp 457 miliar di kuartal I-2020 menjadi Rp 625 miliar.

5. PT Bank Pembangunan Daerah Jabar dan Banten Tbk (BJBR)

BJBR berhasil membukukan laba bersih secara konsolidasi Rp 1,68 triliun sepanjang 2020, naik 8 persen dibandingkan 2019 senilai Rp 1,56 triliun. Pencapaian laba ini melampaui industri perbankan yang mencatatkan laba terkontraksi 33% selama periode 2020 lalu.

Sementara pada kuartal pertama tahun ini, BJBR membukukan laba bersih Rp 479,32 miliar atau kenaikan 14,2 persen dari periode yang sama tahun lalu di angka Rp 419,61 miliar.

6. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)

BMRI membukukan laba bersih secara konsolidasian sebesar Rp 17, 1 triliun sepanjang 2020. Angka tersebut terkontraksi 37,71 persen dari Rp 27,5 triliun pada 2019.

Hingga kuartal I-2021, PT Bank Mandiri Tbk masih alami penurunan laba. Realisasi laba bersih mencapai Rp 5,9 triliun pada kuartal I 2021. Angka ini turun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 7,92 triliun.

7. PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS)

Kinerja BRIS melesat sepanjang 2020. Bank ini meraup laba bersih Rp 248 miliar atau melonjak 235,14 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Februari lalu, tiga bank syariah BUMN, yakni PT Bank BRISyariah, PT Bank Syariah Mandiri dan PT BNI Syariah, dengan entitas penerima yakni PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS).

Bank hasil merger tersebut kemudian berubah menjadi Bank Syariah Indonesia, namun tetap dengan kode perdagangan BRIS di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun sepanjang kuartal I-2021, BRIS mencatatkan laba bersih senilai Rp 742 miliar. Nilai ini naik 12,85 persen yoy dibandingkan dengan akhir kuartal I-2020 lalu yang sebesar Rp 657 miliar.

Kinerja ELSA hingga PGAS

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)

8. PT Elnusa Tbk (ELSA)

ELSA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 7,73 triliun pada 2020, turun sebesar 7,85 persen dari Rp 8,38 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara, pada tahun lalu laba bersih merosot 30,12 persen menjadi Rp 249,08 miliar dari Rp 356,47 miliar pada 2019.

ELSA mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 1,8 triliun pada kuartal I 2021. Realisasi pendapatan ini turun dari kuartal I 2020 sebesar Rp 2,05 triliun.

Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat Rp 1,6 miliar. Capaian laba ini merosot dari periode kuartal I 2020 sebesar Rp 51,77 miliar.

9. PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)

Jasa Marga mengantongi pendapatan total Rp 13,7 triliun tahun lalu, turun 48 persen yoy dari Rp 26,35 triliun pada 2019.

Pendapatan tol Jasa Marga tergerus 13,52 persen secara tahunan menjadi Rp 8,76 triliun. Sedangkan pendapatan konstruksi merosot 73,18 persen menjadi Rp 4,12 triliun dari sebelumnya Rp 15,36 triliun.

Penurunan pendapatan turut menekan laba bersih Jasa Marga hingga 77,3 persen yoy dari Rp 2,21 triliun menjadi Rp 501,05 miliar.

10. PT Kimia Farma Tbk (KAEF)

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membukukan pendapatan sebesar Rp 10 triliun pada 2020. Perolehan itu tumbuh 6,4 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp 9,4 triliun.

Dari raihan tersebut, laba Perseroan tercatat Rp 17,63 miliar pada 2020. Berbanding terbalik dengan 2019, perusahaan mengalami kerugian Rp 12,7 miliar.

Berlanjut, Perseroan berhasil mencatatkan penjualan neto kuartal I-2021 sebesar Rp 2,30 triliun. Mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,40 triliun.

Dari angka itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tertekan hingga 33,90 persen yoy menjadi Rp 17,29 miliar. Sebelumnya, laba tahun berjalan KAEF tercatat Rp 26,16 miliar di kuartal I-2020.

11. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

PGAS membukukan penurunan kinerja sepanjang 2020. Emiten pelat merah ini membukukan kerugian bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai USD 264,77 juta, berbanding terbalik dari bottom line PGAS pada 2019 yang membukukan laba bersih USD 67,58 juta.

Penurunan laba bersih ini seiring dengan penurunan pendapatan senilai USD 2,88 miliar. Menurun 25,02 persen dari realisasi pendapatan tahun 2019 yang mencapai USD 3,85 miliar.

Namun, kejadian itu segera berbalik pada kuartal pertama tahun ini. PGAS mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk senilai USD 61,57 juta sepanjang kuartal I-2021. Realisasi ini naik 28,87 persen dari laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya USD 47,77 juta.

Namun, emiten pelat merah ini membukukan pendapatan senilai USD 733,15 juta, turun 16,09 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD 873,80 juta.

Kinerja PTBA hingga SMGR

Ilustrasi laporan keuangan. (Photo by Serpstat from Pexels)
Ilustrasi laporan keuangan. (Photo by Serpstat from Pexels)

12. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Sepanjang 2020, PTBA mencatatkan raihan pendapatan Rp 17,32 triliun. Nilai itu menurun 20,48 persen year on year (yoy) dari Rp 21,78 triliun pada 2019.

Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 2,38 triliun. yang juga turun 41,16 persen yoy dari Rp 4,06 triliun pada 2019.

Hingga kuartal I-2021, (PTBA) membukukan laba bersih senilai Rp 500,51 miliar. Realisasi ini menurun 44,58 persen dari realisasi laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 903,25 miliar.

13. PT PP (Persero) Tbk (PTPP)

PTPP mencatatkan pendapatan usaha senilai Rp 15,83 triliun pada 2020 atau turun 32,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp 23,57 triliun. Tekanan pada pos pendapatan pun menggerus laba PTPP pada masa pandemi menjadi Rp 128,75 miliar atau turun 84,28 persen dari posisi sebelumnya Rp 819,46 miliar.

Hingga kuartal pertama 2021, (PTPP) telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp 2,5 triliun. Kontrak baru yang telah diraih terdiri dari induk sebesar Rp 1,35 triliun dan anak perusahaan sebesar Rp 1,15 triliun.

Sedangkan tender yang diikuti pada periode tersebut memiliki total nilai Rp 8 triliun, yang masih terdapat sebagian besar tender belum diumumkan pemenangnya.

14. PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR)

SMBR membukukan penjualan senilai Rp 1,72 triliun. Realisasi itu turun 13,88 persen dibandingkan pencapaian pada 2019 senilai Rp1,99 triliun.

Sejalan dengan hal itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami tekanan lebih dalam sebesar 63,48 persen menjadi Rp 10,98 miliar dari sebelumnya Rp 30,07 miliar di 2019.

Keadaan itu segera pulih pada kuartal pertama 2021. Perseroan membukukan pendapatan senilai Rp 403,50 miliar atau naik 20,17 persen dibandingkan perolehan pada kuartal I- 2020 senilai Rp 335,76 miliar.

Dari raihan itu, SMBR meraup laba bersih SMBR sebesar Rp 17,9 miliar pada kuartal I-2021. Kondisi ini berbanding terbalik dengan realisasi di kuartal I-2020, di mana perusahaan mengalami kerugian hingga Rp 64,16 miliar.

15. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)

Pada 2020, SMGR mencatatkan pendapatan sebesar Rp 35,17 triliun atau turun 12,87 persen dibandingkan 2019 yakni Rp 40,37 triliun.

Dari raihan ini, Perseroan mencatatkan laba bersih tahun 2020 sebesar Rp 2,79 triliun, naik 16 persen dari torehan laba bersih di periode tahun sebelumnya yang hanya Rp 2,39 triliun.

Seperti beberapa emiten semen lainnya, kinerja Perseroan kian membaik memasuki tahun ini. Pada laporan keuangan per 31 Maret 2021, Perseroan mencatatkan laba sebesar Rp 450,36 miliar atau naik 0,87 persen dibanding 31 Maret 2020 sebesar Rp 446,45 miliar.

Namun, pada periode yang sama, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 8,07 triliun atau turun 5,86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 8,58 triliun.

Kinerja TINS hingga WSKT

Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel

16. PT Timah Tbk (TINS)

Anak usaha MIND ID yang berkantor pusat di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung ini mencatatkan pendapatan yang turun 21,33 persen menjadi Rp 15,21 triliun pada 2020. Padahal pada 2019 , pendapatan TINS tercatat Rp 19,34 triliun.

Pada saat yang bersamaan, TINS berhasil tekan rugi bersih pada kinerja 2020 mencapai Rp 340,60 miliar. Susut dari rugi bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp 611,28 miliar.

Hingga kuartal pertama 2021, TINS berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba bersih senilai Rp 10,34 miliar. Laba ini berbanding terbalik dari pada kuartal pertama 2020, dimana TINS membukukan kerugian bersih hingga Rp 412,85 miliar.

Raihan itu bahan terjadi saat pendapatan emiten pelat merah ini membukukan penurunan. Tercatat, TINS membukukan pendapatan senilai Rp 2,44 triliun, menurun 44,78 persen dari pendapatan di periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 4,42 triliun.

17. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Telkom Indonesia mencatat pertumbuhan kinerja positif sepanjang 2020. Ini ditunjukkan dari kenaikan laba dan pendapatan. Perusahaan telekomunikasi pelat merah ini mencatat pendapatan Rp 136,46 triliun pada 2020. Realisasi pendapatan itu tumbuh 0,66 persen menjadi Rp 135,56 triliun pada 2019.

Sejalan dengan itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun tumbuh 11,46 persen yoy menjadi Rp 20,80 triliun dari sebelumnya Rp 18,66 triliun. Prospek kinerja TLKM juga disebut-sebut masih akan bersinar seiring dengan pemanfaatan jaringan telekomunikasi di era digital saat ini.

18. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) Tbk (WIKA)

WIKA membukukan laba bersih sebesar Rp 322,34 miliar pada 2020. Laba bersih ini didukung oleh penjualan perusahaan yang tercatat sebesar Rp 16,54 triliun hingga akhir tahun lalu.

Kontribusi terbesar dari penjualan didapat dari sektor infrastruktur dan gedung yang kemudian diikuti secara berturut-turut oleh sektor industri, energi & industrial plant serta properti.

Sepanjang kuartal pertama 2021, WIKA ini mencatatkan pendapatan senilai Rp3,92 triliun atau turun 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp4,19 triliun.

Penurunan pendapatan pun turut menekan laba Perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk WIKA. Turun 21,21 persen menjadi Rp78,16 miliar pada kuartal I-2021 dari Rp 99,21 miliar pada kuartal I-2020.

19. PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP)

PT Waskita Beton Precast Tbk mencatat penurunan pendapatan sepanjang 2020. Pendapatan tercatat Rp 2,21 triliun. Realisasi pendapatan itu merosot 70,38 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 7,46 triliun.

Beban pokok pendapatan susut 5,8 persen dari Rp 5,90 triliun pada 2019 menjadi Rp 5,55 triliun pada 2020. Hal itu mendorong perseroan mencatat rugi kotor mencapai Rp 3,34 triliun pada 2020. Jumlah itu berbalik kondisinya pada 2019 dengan meraih laba kotor Rp 1,56 triliun.

Hingga saat ini, perseroan belum merilis laporan keuangan kuartalan. untuk diketahui Waskita Beton tengah dalam proses hukum terkait gugatan PKPU. Dilansir dari keterbukaan informasi BEI tertanggal 2 Juni 2021, Perseroan mengumumkan bahwa pada persidangan ke-tujuh Majelis Hakim menolak permohonan PKPU yang diajukan Pemohon untuk seluruhnya.

20. PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)

Waskita Karya mengantongi pendapatan sebesar Rp 16,19 triliun sepanjang 2020. Jumlah tersebut turun 48,42 persen dari realisasi pada 2019 yang capai Rp 31,39 triliun.

Penurunan tersebut berimbas pada kerugian bersih yang dicatatkan Perseroan sepanjang 2020 mencapai Rp 7,38 triliun. Padahal di tahun sebelumnya WSKT masih membukukan laba bersih sebesar Rp 938,14 miliar.

Teranyar, (WSKT) teken master agreement dengan BUMN konstruksi China Communications Construction Company Co Ltd (International) atau CCCC.

Waskita Karya dan CCC teken perjanjian untuk membentuk aliansi strategis pembangunan infrastruktur transportasi dan industri lainnya di Indonesia. Kerja sama antara kedua perusahaan mencakup pengembangan infrastruktur transportasi dan industri lainnya seperti proyek Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung, Tol Ciawi-Sukabumi, pipa distribusi BBM Cikampek-Plumpang, dan revetment Pelabuhan Benoa Bali.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel