Melihat Kondisi Terkini Gunung Merapi yang Semakin Aktif

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas Gunung Merapi semakin meningkat usai statusnya naik dari waspada menjadi siaga beberapa waktu lalu.

Hal tersebut disampaikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). BPPTKG pun meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya terkait aktivitas Gunung Merapi yang semakin tinggi.

"Gempa multiphase Gunung Merapi per Jumat ini, semakin tinggi, dengan menunjukkan pergerakan magma sudah makin ke permukaan sekitar 1,5 kilometer," ujar Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida di sela menghadiri acara kunjungan Kepala BNPB Doni Monardo, di Tempat Penampungan Pengungsian Sementara (TPPS) Desa Tlogolele Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng, Jumat, 20 November 2020.

Menurut Hanik, Gunung Merapi mengalami 59 kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Jumat, 20 November 2020 mulai pukul 00:00-24:00 WIB.

"Selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat 385 kali gempa hybrid atau fase banyak, 69 kali gempa hembusan, 45 kali gempa vulkanik dangkal, serta satu kali gempa tektonik," papar dia.

Warga tiga desa yang masuk di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi, Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pun mulai mengungsi.

Berikut kondisi terkini Gunung Merapi yang semakin aktif dihimpun Liputan6.com:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

BPPTKG Perkirakan Arah Letusan

Petugas dari komunitas Siaga Merapi memantau aktivitas gunung merapi dari Lapangan Stiper, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Status Gunung Merapi sudah dinaikkan pada 5 November 2020 lalu dari waspada level II menjadi siaga level III. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas dari komunitas Siaga Merapi memantau aktivitas gunung merapi dari Lapangan Stiper, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Status Gunung Merapi sudah dinaikkan pada 5 November 2020 lalu dari waspada level II menjadi siaga level III. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyampaikan aktivitas Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta semakin tinggi sehingga masyarakat diminta lebih meningkatkan kewaspadaan.

"Gempa multiphase Gunung Merapi per Jumat ini, semakin tinggi, dengan menunjukkan pergerakan magma sudah makin ke permukaan sekitar 1,5 kilometer," kata Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida di sela menghadiri acara kunjungan Kepala BNPB Doni Monardo, di Tempat Penampungan Pengungsian Sementara (TPPS) Desa Tlogolele Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng, Jumat, 20 November 2020.

Menurut Hanik Humaida, hal tersebut terdeteksi dari kegempaan multiphase (MP) sudah tinggi, dan magma betul-betul sudah semakin ke permukaan, tetapi belum sampai muncul di puncak Merapi.

Hanik Humaida mengatakan risiko ancaman tertinggi dimulai dari batas barat laut, barat hingga ke tenggara.

Daerah yang ada di posisi barat laut ke tenggara dari Gunung Merapi ini, diharapkan lebih meningkatkan kewaspadaan. Namun, warga di daerah utara dan timur laut hingga timur juga tidak boleh kehilangan kewaspadaan.

"Potensi bahaya arah letusan Merapi, utamanya masih ke Kali Gendol, tetapi karena guguran dari puncak berkali-kali ke arah barat dan barat laut, maka ada potensi juga ke Kali Lamat dan Senowo," kata Hanik, dikutip Antara.

Prediksi Bahaya Erupsi Gunung Merapi

Aktivitas warga di bawah kaki Gunung Merapi, Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Jawa Tengah, Kamis (19/11/2020). Status Merapi sudah dinaikkan menjadi Siaga (level III) oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sejak 5 November 2020. (Liputan6.com/JohanTallo)
Aktivitas warga di bawah kaki Gunung Merapi, Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Jawa Tengah, Kamis (19/11/2020). Status Merapi sudah dinaikkan menjadi Siaga (level III) oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sejak 5 November 2020. (Liputan6.com/JohanTallo)

Menurut Hanik, bentuk erupsi Gunung Merapi seperti apa nantinya, hingga saat ini, data tidak menunjukkan kejadian seperti pada 2010.

Sehingga, kata dia, kondisi ini, tidak perlu sangat dikhawatirkan, tetapi harus tetap meningkatkan kewaspadaan.

Kendati demikian, ujar Hanik, bagaimana pun jika terjadi erupsi atau membawa awan panas atau letusan itu, menjadi sesuatu yang berbahaya. Namun, aktivitas Merapi menunjukkan data tidak seperti kejadian 2010.

"Kalau prediksi kami, data seperti kejadian erupsi 2006, tetapi lebih besar sedikit," kata Hanik.

Hanik menjelaskan, soal pertumbuhan kubah lava di puncak Merapi belum ada yang menuju ke permukaan. Jadi, kata dia, belum ada kubah lava baru di puncak Merapi.

Alami 59 Kali Gempa Guguran

Aktivitas gunung merapi terlihat dari Lapangan Stiper, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekonologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada 5 November lalu menaikkan status Gunung Merapi menjadi siaga level III. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Aktivitas gunung merapi terlihat dari Lapangan Stiper, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekonologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada 5 November lalu menaikkan status Gunung Merapi menjadi siaga level III. (Liputan6.com/Johan Tallo)

BPPTKG menyatakan, Gunung Merapi mengalami 59 kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Jumat, 20 November 2020 mulai pukul 00:00-24:00 WIB.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan resminya di Yogyakarta, Sabtu, 21 November 2020 menyebutkan selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat 385 kali gempa hybrid atau fase banyak, 69 kali gempa hembusan, 45 kali gempa vulkanik dangkal, serta satu kali gempa tektonik.

Berdasarkan pengamatan visual di gunung api aktif itu teramati asap berwarna putih dengan intensitas tebal dengan ketinggian 50 meter di atas puncak.

Dikutip dari Antara, pada periode pengamatan itu, terdengar suara guguran sebanyak sembilan kali (lemah hingga sedang) dari Pos Pemantauan Gunung Merapi (PGM) Babadan dan satu kali dari PGM Kaliurang.

Berikutnya, laju deformasi Gunung Merapi diukur menggunakan electronic distance measurement (EDM) Babadan rata-rata 12 cm per hari.

BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak.

Penambangan dan wisata diminta dihentikan

Aktivitas gunung merapi terlihat dari Lapangan Stiper, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekonologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada 5 November lalu menaikkan status Gunung Merapi menjadi siaga level III. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Aktivitas gunung merapi terlihat dari Lapangan Stiper, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekonologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada 5 November lalu menaikkan status Gunung Merapi menjadi siaga level III. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Hanik menyampaikan, BPPTKG meminta untuk penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan.

BPPTKG meminta pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah juga diminta mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

Warga Mengungsi

Pengungsi Gunung Merapi mengenakan masker di lokasi pengungsian di Desa Glagaharjo, Sleman, Jawa Tengah, Rabu (18/11/2020). Kondisi Gunung Merapi yang memasuki level siaga membuat beberapa desa dengan radius 5 Km dari puncak Gunung Merapi mengungsikan penduduknya. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pengungsi Gunung Merapi mengenakan masker di lokasi pengungsian di Desa Glagaharjo, Sleman, Jawa Tengah, Rabu (18/11/2020). Kondisi Gunung Merapi yang memasuki level siaga membuat beberapa desa dengan radius 5 Km dari puncak Gunung Merapi mengungsikan penduduknya. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang melaporkan, 817 warga yang tinggal di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III telah diungsikan ke 9 titik pengungsian, menyusul status Gunung Merapi menjadi Siaga. Jumlah pengungsi tersebut mengalami peningkatan sebanyak 210 orang terhitung sejak dua pekan lalu.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edy Susanto mengatakan, warga Desa Keningar memilih turut mengungsi kendati wilayahnya berada di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Mereka memilih mengungsi karena takut dan trauma akibat erupsi Gunung Merapi 2010.

"Desa Keningar di luar rekomendasi prakiraan bahaya BPPTKG namun atas dasar rasa takut dan trauma akibat kejadian erupsi 2010, maka Pemerintah Desa setempat memfasilitasi evakuasi pengungsian," kata Edy Susanto dikutip dari siaran pers BNPB, Minggu (22/11/2020).

Rincian jumlah dan lokasi pengungsian meliputi, 118 warga dari Desa Krinjijng mengungsi di Balai Desa Deyangan Kecamatan Mertoyudan.

Sebanyak 115 warga dari Desa Ngargomulyo mengungsi di Gedung NU Ketaronedung Futsal Tejowarno, Gedung PPP Prumpung dan PAY Muhammadiyah di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Kemudian, sebanyak 110 warga dari Desa Keningar mengungsi di SDN 1 Ngrajek dan kediaman Kepala Desa Ngrajek, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid. Selanjutnya sebanyak 476 warga dari Desa Paten mengungsi di Desa Banyurojo dan Desa Mertoyudan di Kecamatan Mertoyudan.

Dari data akumulasi yang dihimpun, pengungsi Gunung Merapi tersebut terdiri dari 279 laki-laki dan 538 perempuan.

Adapun ibu hamil sebanyak 13 orang, ibu menyusui 33 orang, lansia laki-laki 46 orang, lansia perempuan 122 orang, balita laki-laki 81 orang, balita perempuan 70 orang, anak laki-laki 57 orang, anak perempuan 61 orang.

Siapkan Skenario Terburuk Dampak Letusan Gunung Merapi

Erupsi Gunung Merapi. (Liputan6.com/Yanuar H)
Erupsi Gunung Merapi. (Liputan6.com/Yanuar H)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menyiapkan rencana kontingensi terkait pengungsian bencana meletusnya Gunung Merapi.

"Setiap kabupaten punya rencana kontingensi karena ini jadi tanggung jawab bersama. Di provinsi juga ada rencana kontingensi terkait erupsi ini," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah Syafrudin saat mengunjungi tempat evakuasi sementara di Balai Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dikutip Antara.

Mengenai kemungkinan terjadinya letusan Gunung Merapi, pihaknya juga mempersiapkan skenario terburuk.

"Kalau kejadian memburuk kami akan buka pos pendamping dengan berbagai bidang, antara lain bidang logistik dan bidang kesehatan," kata Syafrudin.

Sementara itu, dikatakannya, terkait persiapan yang sudah dilakukan oleh tiga kabupaten yang terdampak letusan Merapi, yaitu Kabupaten Klaten, Magelang, dan Boyolali tidak sama.

"Kalau Magelang sudah diungsikan ke tempat evakuasi akhir karena Magelang sudah siap dari awal, termasuk menerapkan 'sister village'. Ada 800 pengungsi dari empat desa, yaitu Desa Krinjing, Paten, Ngargomulyo, dan Desa Keningar," papar Syafrudin.

Untuk di Kabupaten Klaten ada tiga desa yang seluruhnya masih berada di tempat evakuasi sementara, yaitu di Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo.

Selanjutnya, untuk di Boyolali pengungsi juga masih di tempat evakuasi sementara, di Desa Klakah, Jrakah, dan Tlogolele.

Sementara itu, terkait sejumlah warga yang belum ingin turun ke tempat evakuasi sementara, pihaknya meminta instansi terkait untuk ikut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ancaman.

"Lihat perkembangan juga karena mengenai ancaman (letusan Gunung Merapi), ini bukan bagian BPBD," jelas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: