Melihat Sejarah yang Beda Bersama Syam Terrajana

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Yogyakarta- Syam Terrajana, pelukis berdarah Gorontalo yang saat ini berdomisili di Yogyakarta akhirnya memberanikan diri untuk menggelar pameran tunggalnya. Ruang Dalam Art House Yogyakarta menjadi tempat Syam Terrajana memajang 15 karya lukisan, 85 skesta, dan sebuah video art.

Pameran berjudul Pada Ruang yang Bercerita ini bisa dibilang berbeda dengan pameran lukisan kebanyakan. Mengapa?

Ya, Syam Terrajana bukan sekadar menunjukkan kesukaannya merespons banyak hal lewat goresan di kanvas. Di tempat ini, ia menghadirkan seni yang lintas batas.

Tak melulu gambar yang bisa dinikmati lewat pameran yang digelar pada 5 sampai 15 Maret 2021. Penyuka sastra pun bisa tersenyum-senyum sendiri saat membaca caption lukisan yang diksinya sangat puitis.

Masuk ke ruang pameran lukisan milik Syam Terrajana disuguhi lukisan berjudul adegan no. 01. Sosok laki-laki berkulit putih yang diinterpretasikan sebagai meneer masa kolonial sedang berdiri, sementara di hadapannya bersimpuh perempuan pribumi, nyai. Caption lukisan ini berbunyi

kenapa hati beta gulita

tuanku

cinta babi lagi buta

gegap gumpita; buruburu-birubiru

dijiwit cemburu

"Karya-karya lukisan dalam pameran ini semua berlatar sejarah, jadi semacam merespons sejarah dalam sudut pandang saya," ujar Syam Terrajana di Yogyakarta, Selasa (9/3/2021).

Dalam berkarya, ia memanfaatkan kolase foto. Sosok-sosok yang berada di dalam karyanya adalah foto-foto orang yang hidup di masa kolonial.

Ia mencari foto-foto itu lewat situs KITLV milik universitas Leiden yang memiliki kantor perwakilan di Jakarta. Sekalipun dokumentasi foto di dalam situs itu bisa diakses oleh siapa pun secara cuma-cuma, Syam Terrajana yang berada di Yogyakarta tetap mengirimkan pemberitahuan resmi tertulis untuk mengambil sejumlah foto yang akan dipakainya dalam pameran lukisan.

Multitalenta

Syam Terrajana menggelar pameran tunggal di Ruang Ndalem Art Space Yogyakarta 5 sampai 15 Maret 2021
Syam Terrajana menggelar pameran tunggal di Ruang Ndalem Art Space Yogyakarta 5 sampai 15 Maret 2021

Ia bercerita, sebenarnya dalam pameran ini ia ingin menampilkan dirinya sebagai seorang pelukis pemula yang menggelar pameran tunggal. Namun, sang kurator pameran, Sujud Dartanto, justru mendorongnya untuk melengkapi karyanya dengan menunjukkan sosok Syam Terrajana dengan segala kesukaannya.

“Awalnya saya tidak ingin, karena terlihat berlebihan sekali, semua-semua dipamerkan, tetapi mas Sujud bilang tidak apa-apa, itu bagian dari perjalananmu sampai saat ini,” ucapnya.

Caption yang puitis bukan dibikin asal-asalan. Caption yang nyastra banget ini menunjukkan kecintaan Syam Terrajana terhadap sastra. Dunia sastra dan menulis yang digelutinya sejak masih SMA.

Sastra yang dekat dengan pentas pertunjukan mengantarkannya menekuni dunia teater saat kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) lewat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Kedekatannya dengan dunia terater pun ditunjukkan lewat video art berdurasi 1:27 dalam pameran ini. Video teatrikal potongan-potongan adegan Syam Terrajana berproses dengan karya-karyanya di sebuah ruang kerja.

Satu lagi, dalam pameran ini ada sebuah pojok yang berisi 85 panel sketsa berukuran 15x15 sentimeter. Sketsa-sketsa ini dibikin untuk memberikan warna berbeda dalam ruang pameran.

Skesta berisi coretan Syam Terrajana tentang berbagai hal yang berloncatan di benaknya. Ia mengemas dengan satire, komedi, sampai sarkas.

Lewat panel sketsa ini seolah mempertegas sosok Syam Terrajana yang juga berprofesi sebagai jurnalis.

Jalan Terang di Tengah Kejenuhan

Syam Terrajana menggelar pameran tunggal di Ruang Ndalem Art Space Yogyakarta 5 sampai 15 Maret 2021
Syam Terrajana menggelar pameran tunggal di Ruang Ndalem Art Space Yogyakarta 5 sampai 15 Maret 2021

Syam Terrajana sebenarnya tidak benar-benar sengaja memilih untuk mengisi kejenuhannya sebagai jurnalis dengan melukis. Sebagai orang pesisir, rekan-rekan kerjanya justru lebih dulu untuk mengajaknya snorkeling.

“Kalau cuma snorkeling ketika itu ikut, tetapi kemudian yang lain mulai melengkapi beragam peralatan yang mahal, saya pikir ketika itu tidak bisa saya menghilangkan kejenuhan dengan cara semacam ini,” tuturnya.

Saat sedang jalan-jalan, ia justru menemukan buku sketsa tebal lengkap dengan alat warnanya di sebuah toko buku. Entah kenapa ia merasa tertarik.

Ia mulai menggunakan buku skesta itu, menggambar wajah teman-temannya.

“Ya tidak ada yang mengapresiasi juga, tetapi saya senang saja rasanya bisa menggambar,” kata Syam Terrajana sembari tertawa.

Sampai akhirnya ia pindah ke Yogyakarta dan bertemu dengan Gusmen Heriadi, seorang perupa Indonesia. Ia pun belajar dan mendalami lukisan dengan laki-laki yang dipanggilnya Uda Gusmen ini.

Selama belajar melukis, Syam juga kerap mengikuti beragam kompetisi melukis serta mengikuti pameran bersama di berbagai kota, seperti Amazing Things di Canggu Bali pada 2017, Maaledungga Gorontalo pada 2019, Art Jakarta 2020 virtual artfair, finalis UOB Painting Of The Year 2019, dan sebagainya.

Setelah tiga tahun belajar melukis, Uda Gusmen pun memberikan ruang bagi Syam Terrajana untuk mengadakan pameran tunggal di art space miliknya.

Saksikan video pilihan berikut ini: