Melihat Tugas Perawat Tangani Covid-19, Dengarkan Curhat hingga Menyuapi Pasien

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa hari terakhir kanal media sosial di tengah masyarakat Indonesia diramaikan pesan "Kami Bekerja Untuk Kamu, Kamu di Rumah Untuk Semua, Untuk Indonesia". Slogan itu dibuat untuk memberi pemahaman kepada publik agar berjuang bersama memutus mata rantai wabah corona (COVID-19) dengan berdiam diri di rumah menghindari interaksi antarmanusia.

Sebab bukan perkara mudah harus berperang di garda terdepan 'medan pertempuran' melawan musuh yang tak kasat oleh mata. Hingga Jumat (20/3) sudah 25 tenaga medis di Jakarta terkonfirmasi positif COVID-19. Satu orang di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia.

Tidak dimungkiri, rasa takut saat ini menghinggapi para dokter, perawat, paramedis, dan seluruh jajaran rumah sakit yang sedang bekerja keras melayani dan merawat pasien terinfeksi COVID-19 di ruang isolasi rumah sakit tempat mereka bekerja.

"Kalau dari saya sih temen-teman semua ada rasa takut, tapi kembali lagi kita kan seorang perawat yang merawat pasien," ujar Wita Tamala, perawat pasien COVID-19 di ruang isolasi Pinere Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, yang dilansir dari Antara, Minggu (22/3/2020).

Balutan jubah hazmat (hazardous materials) lengkap dengan sarung tangan, masker, kacamata medis, dan penutup kaki cukup memberi ketenangan bagi perempuan yang sudah tiga tahun bekerja sebagai perawat itu saat berinteraksi dengan pasien.

Hari itu Wita mendapat tugas pukul 11.00 hingga 01.00 WIB untuk merawat pasien perempuan yang berstatus positif COVID-19 usai bepergian ke luar negeri.

"Ke dalam ruangan pasien itu kita juga harus menyapa dan memperkenalkan diri. Sebelum memegang pasien, kita juga harus cuci tangan dulu," katanya.

 

Dengarkan Curhatan

Biasanya Wita mengawali perawatan dengan menanyakan keluhan pasien hingga terjalin komunikasi intensif. Bahkan tidak jarang beberapa pasien terlibat curhat tentang kronologi kejadian yang berujung pada penyakit yang dia derita.

Wita menyebut upaya itu sebagai pendekatan psikologis terhadap pasien agar merasa tenang selama menjalani proses perawatan.

"Emang kita suka curhatan berdua sama pasiennya jadi lebih deket gitu sama pasiennya," katanya.

Obrolan yang dijalin seputar perjalanan pasien saat ke luar negeri dan interaksi mereka dengan warga negara asing. "Ya tentang dia jalan-jalan ke Eropa, dia ketemu orang-orang itu gimana di sana," katanya.

Curhatan tersebut dirasa Wita efektif meminimalisasi ketakutan pasien terhadap dampak COVID-19 selama masa penyembuhan di ruang isolasi Pinere. Sedikitnya ada empat pasien yang saat itu dirawat Wita di ruang isolasi berukuran 3x4 meter persegi dengan jarak dua meter antartempat tidur.

Selain sibuk dengan laporan rutin kondisi pasien kepada dokter, Wita juga berkewajiban menyuplai kebutuhan obat, vitamin hingga kenyamanan tempat tidur pasien. Bahkan sampai menyuapi asupan makanan hingga ke mulut pasien.

"Yang parsial, yang 'total care' itu kita selalu nyupain. Tapi kalau yang parsial dan mandiri itu enggak. Yang 'total care' aja," katanya.

Dukungan keluarga

Taat pada ketentuan standar operasional prosedur penanganan COVID-19 menjadi hal wajib bagi para perawat dalam bekerja, tidak hanya untuk keselamatan pribadi, tapi juga keluarga dan lingkungan mereka.

"Kalau keluarga udah saya jelasin saya ngerawat pasien virus corona. Dari keluarga sih enggak apa-apa, yang penting jaga kesehatan terus makanan yang bergizi, terus minum vitamin, dan banyak minum air putih," kata Wita.

Tidak jarang pula perawat terserang influenza selama merawat pasien. Bila keluhan dirasa ringan, mereka tetap menjalani pelayanan terhadap pasien.

"Kalau biasanya sih saya misalnya flu ya, flunya itu ringan, ya saya tetap merawat pasien, cuma saya akan lebih memakai masker terlebih dahulu biar gak menular ke temen atau ke pasien," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: