Melirik Upaya Petugas Kesehatan dalam Pemantauan Pasien COVID-19

·Bacaan 3 menit

VIVA – Indonesia saat ini tengah berada dalam kondisi pandemi COVID-19 yang masih berada di puncak penambahan angka positif setiap harinya. Hari ini (09/07/2021) total kasus yang tercatat sudah sejumlah 2,455,912 terkonfirmasi positif.

Hal tersebut cukup membuat masyarakat Indonesia menjadi cemas dan khawatir, ditambah lagi dengan terus meningkat angka kematian setiap harinya. Namun sisi lain yang jarang dilihat oleh masyarakat, padahal angka kesembuhan pasien COVID-19 juga lebih meningkat hari demi hari.

Salah satu upaya pemerintah untuk mencegah terjadinya virus COVID-19 dengan melakukan vaksinasi kepada masyarakat. Target vaksinasi saat ini mengharuskan untuk diberikan kepada masyarakat satu juta dosis vaksin setiap harinya di Bulan Juli ini.

Jenis vaksin yang sudah masuk ke Indonesia adalah Vaksin Sinovac dan Vaksin AstraZeneca yang sama-sama memberikan kekebalan tubuh dari COVID-19. Sehingga masyarakat tidak perlu memilih jenis vaksin mana yang akan diterima.

Sejumlah vaksin sudah diterima oleh sebagian masyarakat, namun tetap perlu pelaksanaan dari upaya 6M guna mengurangi penularan, yaitu dengan memakai masker yang benar. Menjaga kebersihan tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, menjaga pola makan sehat dan istirahat cukup, serta menjauhi kerumunan.

COVID-19 dapat menyerang siapa saja, tidak mengenal gender, usia, pekerjaan, pendidikan dan lain sebagainya. Sampai akhirnya virus tersebut sampai pada saya sendiri yang mungkin sedang lengah akan protokol kesehatan dan sedang berada pada kondisi imun yang rendah. Saya memang belum mendapatkan vaksin karena ketika ingin mendaftar, kondisi tubuh saya tidak memungkinkan.

Setelah keluar hasil positif oleh laboratorium tempat saya tes swab beberapa waktu lalu, saya segera melaporkan diri kepada RT di lingkungan tempat saya tinggal agar dapat diketahui dan dipantau oleh pihak puskesmas selama saya melakukan isolasi mandiri, tepatnya adalah Puskesmas Jatijajar. Gejala yang saya alami cukup ringan, sehingga tidak perlu isolasi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang telah disediakan.

Ketika hari pertama isolasi mandiri, pihak puskesmas menanyakan terkait gejala yang saya alami melalui pesan singkat di whatsapp, yang tadinya saya pikir akan dilakukan melalui sambungan telfon dan ada kunjungan ke rumah tetapi ternyata tidak.

Adanya laporan ke puskesmas menjadi awal tersambungnya pasien COVID-19 yang sedang isolasi mandiri di rumah dengan sistem pelayanan kesehatan dari pemerintah. Karena puskesmas menjalankan perannya sebagai pelaksana 3T terkhususnya treatment.

Namun, banyak sekali masyarakat di luar sana yang sudah terkonfirmasi positif tetapi tidak melaporkan kepada puskesmas karena banyak alasan seperti pelayanan yang terbilang cukup lama dan tidak responsif. Hal tersebut memang sempat saya rasakan ketika dipantau oleh pihak puskesmas. Tanggapan pihak puseksmas adalah tidak setiap pasien COVID-19 dipantau kondisi setiap saat karena yang dipantau cukup banyak jumlahnya.

Beberapa hari kemdian, pihak puskesmas tetap memantau tetapi tidak rutin setiap hari dan hanya melalui pesan singkat. Hal tersebut cukup membantu saya dalam memberikan update kondisi terkait gejala yang dirasakan serta untuk pemberian obat selanjutnya.

Akan tetapi, sangat disayangkan sedikitnya intensitas pihak puskesmas dalam pemantauan pasien COVID-19 yang sekiranya bisa lebih baik lagi. Misal kader wilayah setempat dapat diikutsertakan dalam pemantauan yang kemudian dapat berkoordinasi dengan pihak puskesmas, sehingga dapat terbantu sedikit. Atau upaya lain melibatkan mahasiswa tingkat akhir yang juga bisa membantu dalam pemantauan pasien COVID-19.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel