Melonjak di Amerika Latin saat korban meninggal akibat corona global lewati 400.000

Santiago (AFP) - Meningkatnya angka kematian di Amerika Latin telah turut mendorong angka kematian akibat virus korona global di atas 400.000 pada Minggu, bahkan ketika Eropa keluar dari lockdown virusnya dengan tingkat infeksi yang semakin terkendali di sana.

Paus Fransiskus, yang berbicara kepada umat Katolik di Lapangan Santo Petrus pada Minggu untuk pertama kalinya sejak darurat kesehatan mulai, mengatakan yang terburuk telah berakhir di Italia dan menyatakan simpati kepada mereka yang beradas di negara-negara Amerika Latin yang paling keras terdampak.

"Kehadiran Anda di alun-alun ini adalah petunjuk bahwa di Italia fase epidemi akut telah berakhir," kata Fransiskus ketika Vatikan memastikan bahwa tidak ada lagi kasus COVID-19 di kalangan pekerja atau di dalam Kota Vatikan.

"Sayang di negara-negara lain -saya memikirkan beberapa dari mereka- virus terus merenggut banyak korban."

Brazil memiliki jumlah korban meninggal dunia paling tinggi ketiga di dunia -lebih dari 36.000 orang tewas- tetapi Presiden Jair Bolsonaro mengkritik langkah diam di rumah yang diberlakukan oleh para pejabat setempat dan mengancam akan keluar dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia.

Jumlah korban meninggal dunia juga naik tajam di Meksiko, Peru, dan Ekuador, sementara di Chile, total kematian kini sudah mencapai 2.290.

Menteri Kesehatan Chile Jaime Manalich mengatakan pada Minggu bahwa beberapa kesalahan penghitungan yang ditunjukkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada Maret dan April telah diperbaiki sehingga mendorong jumlah korban naik dari 1.541 pada Sabtu.

Tetapi di Kuba yang komunis, Presiden Miguel Diaz-Canel menyatakan pandemi itu "terkendali" setelah negara kepulauan itu mencatat hari kedelapan berturut-turut tanpa kematian akibat COVID-19, sehingga jumlahnya korban meninggal 83 orang.

Jumlah infeksi telah mencapai hampir tujuh juta di seluruh dunia sejak COVID-19 muncul di China akhir tahun lalu yang memaksa sebagian besar dunia terkunci dan mendorong perekonomian dunia menuju penurunan terburuk sejak Depresi Besar.

Namun demikian, kekhawatiran gelombang kedua penyakit mematikan ini telah memberi jalan dalam meredakan kekhawatiran terhadap perekonomian yang mendorong negara-negara Eropa membuka kembali perbatasan dan dunia usaha, dan mereka yang berada di seantero Asia dan Afrika untuk perlahan-lahan kembali ke kehidupan normal.

Pada 19.00 GMT, total 400.581 kematian dicatat di seluruh dunia, menurut penghitungan AFP menggunakan angka resmi - angka yang dua kali lipat dalam satu setengah bulan terakhir.

Sementara hampir separuh dari kematian tercatat di Eropa, Amerika Serikat tetap menjadi negara yang paling terpukul dengan lebih dari 110.000 kematian, diikuti oleh Inggris yang jumlah korban meninggal dunianya melebihi 40.500.

Minggu malam, angka kematian harian AS, pada 691, adalah yang terendah dalam satu pekan, menurut data Johns Hopkins University.

Jumlah kasus virus corona di Arab Saudi melampaui 100.000 pada Minggu, kata kementerian kesehatan, setelah lonjakan baru infeksi.

Kerajaan itu mengalami infeksi yang melonjak karena melonggarkan langkah-langkah lockdown di mana jumlah kasus harian melebihi angka 3.000 dalam hari kedua berturut-turut pada Minggu.

Di Eropa, negara-negara perlahan-lahan bekerja menuju normal pasca-pandemi, dan berusaha menghidupkan kembali sektor-sektor pariwisata tepat pada musim panas dan kembali membuka aktivitas bisnis.

Pemerintah Inggris pada Minggu menyatakan akan membuka kembali tempat ibadah untuk beribadat pada 15 Juni.

Tetapi British Airways dan maskapai-maskapai berbiaya rendah EasyJet dan Ryanair mengajukan gugatan hukum terhadap rencana pemerintah dalam memaksa pendatang yang tiba di Inggris untuk melakukan isolasi diri selama dua pekan.

Dalam pernyataan bersama, mereka mengatakan langkah itu bakal menghancurkan pariwisata dan bahkan menghancurkan lapangan kerja lebih banyak lagi.

Uni Eropa mengatakan bisa membuka kembali perbatasannya untuk para pelancong dari luar kawasan itu awal Juli setelah beberapa negara di dalam blok itu membatalkan pembatasan terhadap pendatang Eropa lainnya.

Prancis menandai ulang tahun pendaratan D-Day 1944 dengan sebagian kecil dari kerumunan besar yang terlihat dalam tahun-tahun sebelumnya akibat pembatasan jaga jarak sosial yang ketat.

Namun di Afrika Selatan, tempat Presiden Cyril Ramaphosa memberikan izin kepada tempat-tempat ibadat untuk buka kembali mulai 1 Juni, hanya sedikit yang kembali ke kebaktian.

"Saya berdoa di rumah, Tuhan mendengarkan saya dengan baik ketika saya berdoa di rumah bersama keluarga saya," kata penjual sayur berusia 57 tahun, Gloria Msibi, kepada AFP.

"Saya cinta gereja tetapi sangat berbahaya berada di ruang tertutup dengan begitu banyak orang."

OPEC pada Sabtu sepakat memperpanjang kesepakatan April guna memangkas produksi hingga Juli, yang bertujuan mendorong pemulihan harga minyak setelah terpukul oleh turunnya permintaan.

China melaporkan penurunan dalam perdagangan luar negerinya karena permintaan konsumen yang lemah dan melemahnya permintaan di pasar-pasar utama luar negeri.

Pabrik-pabrik di India juga kesulitan buka kembali karena kelangkaan tenaga kerja. Negara ini perlahan-lahan keluar dari lockdown ketat yang membuat jutaan buruh migran kembali ke kampung-kampung asal mereka.

burs-jj/wai/it/to