Meluapkan Kemarahan Itu Wajar tapi Kenali Cara Mengolahnya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Ketika memiliki rasa kecewa atau ketidakpuasan pada sesuatu, marah kerap menjadi salah satu respons yang muncul pada diri kita. Marah memang merupakan suatu hal yang waja selain itu marah pun juga suatu pilihan.

Menurut pendiri Spirit of Universal Life (SOUL) Arsaningsih atau yang biasa dikenal dengan Bunda Arsaningsih, marah merupakan suatu hal yang wajar dan menjadi salah satu sikap dalam menghadapi sebuah masalah.

"Itu adalah sesuatu yang wajar. Menjadi suatu sikap kita dalam menghadapi seperti pandemi, kehilangan orang yang dicintai, masalah kerjaan, masalah keluarga," ujar Arsaningsih dalam live Instagram bersama Liputan6.com pada Kamis (16/9/21).

Arsaningsih menjelaskan, marah merupakan suatu pilihan dan memiliki beberapa kriteria dalam proses meluapkannya. Ada orang-orang yang memilih untuk meluapkan lewat tindakan, ada pula yang memilih untuk memendam.

Namun, jika dihubungan dengan bahasa energi, wanita yang dikenal dengan metode Soul Meters ini mengungkapkan bahwa rasa marah sebenarnya memiliki pancaran radiasi dan bisa melukai banyak orang.

"Marah yang terpendam itu meradiasi keluar dan berefek tidak hanya untuk diri kita, tapi juga orang lain. Oleh karena itulah, kita belajar mengolah rasa marah ini agar tentunya kita bisa menjalani hidup dengan damai," katanya.

Menerima dan Mengolah Rasa Marah

Menurut Arsaningsih, sosok pertama yang paling terluka ketika rasa marah muncul adalah diri sendiri. Selanjutnya kemarahan tersebut pun sangat berpotensi melukai orang-orang di sekeliling kita seperti keluarga, teman dekat, juga rekan kerja.

"Maka jalan yang paling mendamaikan supaya kita bisa mengolah rasa itu menerima, sadari. Ketika sudah terlatih, kita sudah aware kalau sudah mau marah, sudah menyadari. Jadi bisa menyelesaikan dengan cara damai," ujarnya.

Menyelesaikan dengan cara marah pun dinilai harus menggunakan tahapan yang tepat. Kita dapat memulainya dengan mengidentifikasi dan mencari jati diri sendiri.

Kemudian meminta maaf dan memaafkan jadi tahap selanjutnya. Hal tersebut dianggap dapat menghindari emosi yang meledak-ledak.

"Prosesnya yang paling pertama diperlukan adalah mengidentifikasi dulu diri kita. Kenali diri kita, jati diri kita. Kenapa saya ini pemarah, gampang tersinggung, dikit-dikit emosian. Kita cari kenapa sumbernya,"

"Tentu yang tahu adalah diri kita ya, bukan orang lain. Diri kita coba lihat kedalam. Kalau saya terus marah, saya akan bermasalah. Jadi bukan dengan cara meledakan atau memendam, tapi kita harus hadapi dan menyelesaikannya," ujar Arsaningsih.

Dengan begitu, secara tidak langsung seseorang dinilai dapat memiliki kesadaran untuk menjalankan hidup dengan lebih baik dan damai.

Infografis

Banner Infografis Deretan Efek Negatif Marah bagi Kesehatan Tubuh. (Liputan6.com/Lois Wilhelmina)
Banner Infografis Deretan Efek Negatif Marah bagi Kesehatan Tubuh. (Liputan6.com/Lois Wilhelmina)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel