Memaafkan dari Hati Memang Sulit, tapi Menyimpan Dendam Lebih Menyiksa Diri

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Viena Wirianto

“Membenci itu mudah tetapi memaafkan dari hati itu sulit sebab membutuhkan ketulusan hati.” Mungkin kalimat tersebut adalah sebuah kalimat yang tepat untuk saya berbagi kisah hidup saya.

Tahun 2018 boleh dikatakan sebagai tahun yang membawa saya ke titik terendah dalam hidup saya. Seseorang yang saya cintai menghancurkan hidup saya. Karier saya hancur yang digapai dengan sulit dan penuh perjuangan. Akhirnya dia membawa pada kehidupan yang terendah yaitu saya mengalami depresi paranoid. Rasanya seperti mimpi buruk, hidup saya kacau balau, saya tidak pernah bisa berpikiran positif. Saya hanya berpikir hanya untuk menyakiti diri saya, bulimia.

Tuhan memiliki rencananya sendiri pada saat saya berada di titik terendah dalam hidup. Saya dipertemukan dengan seseorang menemani saya dengan setia untuk bangkit dan menata hidup. Terlebih ketika paranoid saya kambuh, dia dengan sabar menenangkan saya, melindungi saya, membuat saya tertawa padahal dia sedang mengalami masalah yang jauh lebih rumit dari saya. Di situlah kami memulai persahabatan.

Pelan-pelan dia mulai membantu saya mengatasi depresi, menata hidup saya. Saya sudah bisa berpikiran positif. Saya sudah bisa tertawa dan dia mulai membimbing saya untuk memulai usaha dari titik nol dan berkembang dari hasil jerih payah saya sendiri.

Namun cobaan itu tidak berhenti. Orang yang saya cintai dan menyakiti saya datang Kembali dalam hidup saya. Setelah satu tahun kami tidak pernah bertegur sapa, dia meminta maaf atas semua perbuatan yang telah dia lakukan. Namun, dalam kondisi yang baru bangkit saya menerima maaf dia. Jujur saya katakan itu hanya di mulut saja, padahal di dalam hati saya penuh amarah, penuh dendam dengan dia yang telah menghancurkan hidup saya, rencana membalas dendam sudah ada di otak saya.

Sekali lagi Tuhan menginginkan saya belajar sesuatu yang berharga. Rasa dendam saya mulai luntur berganti dengan rasa kasihan, iba, dan mulai memaafkan dia dari hati saya karena saya menyaksikan sendiri hancurnya hidup dia. Namun dia terus menyakiti saya, tetapi saya tetap memaafkan semua perbuatannya dia. Sahabat dan keluarga saya sering protes kepada saya kenapa saya masih terus memaafkan dia yang terus menyakitkan saya dan tetap berbuat baik dengan dia dan tetap menolong dia?

Jawabannya sangat mudah, ketika saya berdoa dengan Tuhan tentang masalah hidup saya, kenapa dia harus datang kembali dalam hidup saya, entah dari mana, tiba-tiba terlintas di kepala saya ketika saya selesai berdoa. Bukannya saya sama seperti dia yang terus menyakiti Tuhan, atas semua perbuatannya saya, tapi Tuhan terus memaafkan saya.

Saya berulang Kembali menyakti Tuhan. Namun, saya tidak sadar Tuhan memiliki 1000 bahkan 1 juta cinta kasih untuk tetap diberikan kepada uma-Nya. Tanpa saya sadari Tuhan memberikan seseorang yang tidak sempurna tapi jauh lebih baik dari dia untuk menemani saya ketika saya jatuh dalam hidup.

Perlahan Memaafkan

Ilustrasi. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi. (Foto: pexels.com)

Dari situ saya tersadar akan cinta kasih Tuhan. Saya bangkit untuk memaafkan segala perbuatan dia yang menhancurkan hidup saya, karena dia tidak mengerti cinta kasih Tuhan. Tentu diperlukan kesabaran dan terus memaafkan dia.

Berjalan dengan waktu hubungan saya dengan dia semakin baik. Hingga suatu hari dia minta ketemu dengan saya berdua. Dia mengatakan kepada saya, dia malu dengan diri dia sendiri atas segala perbuatannya kepada saya. Cuma saya tetap mau berteman dengan dia di saat hidupnya jatuh dan porak poranda, menolong hidup dia, kehilangan pekerjaan dia, semua orang yang dianggap teman baiknya pun meninggalkan dia, hingga akhir dia mengungkapkan perasaan cintanya kepada saya dan minta Kembali jalinan cinta kami seperti dulu.

Namun saya katakan kepada dia, "Maaf saya tidak menerima cinta kamu sebagai kekasih, tapi saya bisa menerima cinta kasih kamu sebagai sahabat. Dan saya mau berterima kasih kepada kamu sebagai seorang sahabat saya karena kamu pada akhirnya mempertemukan saya dengan seseorang yang memang tidak sempurna, tetapi sangat baik untuk hidup saya, kamu yang telah memaksa saya untuk menerima cinta dari orang lain yang seharus untuknya kamu. Karena dia selalu ada di samping saya ketika paranoid saya kumat, ketika depresi saya kambuh dia menenangkan saya, dia ada untuk menghibur saya. Maaf saya telah memilih dia bukan kamu."

Percaya atau tidak dia yang menyakiti saya dulunya adalah seorang general manager yang notabene adalah atasannya saya. Namun hari ini dia menjadi bawahan sebab orang yang mendampingin saya di saat saya jatuh dalam titik terendah yang kini menjadi kekasih saya adalah seorang CEO dari perusahaan cukup terkenal tempat sahabat saya bekerja di sana hanya sebagai manajer.

Buah kesabaran dan ketulusan hati saya untuk memaafkan dengan tulus dari hati kepada orang yang pernah saya sangat cintai yang juga menghancurkan hidup saya akhirnya berbuah manis. Sebab pada akhirnya Tuhan menunjukan kepada saya seseorang yang tidak sempurna. Namun sangat sayang dan mencintai saya, bukan karena latar belakang dia atau karena materi yang dia miliki, tapi pribadi dia kepada saya.

Memang tidak sangat mudah, tapi kisah ini adalah bagian dari kisah hidup saya. Semoga kisah saya bisa berguna untuk semuanya.

#ElevateWomen