Memahami Akar Konflik Terbaru di Libya yang Tewaskan 32 Orang

Merdeka.com - Merdeka.com - Pertempuran terburuk selama dua tahun di Libya tiba-tiba merembet ke ibu kota, Tripoli, pada Sabtu. Bagaimana sebenarnya konflik dan kekerasan tersebut bermula? Berikut uraiannya, dikutip dari Al Arabiya, Senin (29/8).

Konflik mengemuka ketika kelompok-kelompok lokal mengambil posisi berbeda dalam pemberontakan 2011 yang menggulingkan Muammar Gaddafi.

Upaya transisi demokrasi meluncur di luar kendali ketika kelompok-kelompok bersenjata membangun basis kekuatan lokal dan menyatukan faksi-faksi politik yang bersaing, merebut kendali atas aset-aset ekonomi.

Setelah pertempuran Tripoli pada 2014, satu faksi termasuk sebagian besar anggota parlemen pindah ke timur dan mengakui Khalifa Haftar sebagai kepala militer, dan membentuk pemerintahan paralel.

Sebuah perjanjian yang didukung PBB mendorong pengakuan internasional terhadap pemerintah di Tripoli. Faksi Khalifa Haftar di timur menolak perjanjian tersebut dan Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Haftar menyerang Tripoli pada 2019.

Faksi bersenjata di Libya barat mendukung pemerintah Tripoli melawan faksi Haftar dan mereka berhasil memukul mundur serangan Haftar di 2020 dengan bantuan Turki. Kemudian terjadi gencatan senjata dan proses perdamaian baru yang didukung PBB.

Kemudian dibentuk pemerintahan baru, Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) di bawah Perdana Menteri Abdulhamid al-Dheibah yang ditugaskan menggelar pemilu nasional pada Desember 2021, tapi tidak ada kesepakatan terkait aturan pemungutan suara. Proses perdamaian itu pun gagal.

Di Libya timur, parlemen mengumumkan pemerintahan Dheibah tidak sah dan menunjuk pemerintahan baru yang dipimpin Fathi Bashagha. Dheibah menolak keputusan tersebut, mengatakan dia hanya akan menyerahkan kekuasaan setelah pemilu.

Sementara itu faksi Libya barat bergabung melawan Haftar agar tidak masuk ke Tripoli dan menilai Bashagha memang layak menduduki jabatan tersebut.

Bashagha berusaha memasuki Tripoli tak lama setelah ditunjuk pada Maret, tapi faksi pro Dheibah menghalangi konvoinya menuju Tripoli. Dia berusaha lagi pada Mei, tapi meninggalkan Tripoli setelah terjadi baku tembak.

Berbulan-bulan kemudian, aliansi dan koalisi di antara faksi-faksi Tripoli bergeser saat Dbeibah dan Bashagha mencoba untuk menarik pemain kunci. Di jalan-jalan Tripoli, angkatan bersenjata saling bergesekan di wilayah masing-masing.

Ketika pertempuran meletus antara dua kelompok pada Jumat malam, faksi-faksi yang bersekutu dengan Bashagha mulai meningkatkan serangan terkoordinasi dalam upaya baru untuk menempatkannya di ibu kota. Namun langkah tersebut gagal dan rupanya membuat Dbeibah semakin bercokol di ibu kota.

Beberapa politikus mengusulkan pembentukan pemerintahan baru yang dapat diterima semua pihak, namun kemungkinan besar akan coba ditolak Dbeibah.

Sementara itu, diplomasi terhenti dan kesepakatan tentang bagaimana mengadakan pemilihan sebagai solusi abadi untuk perselisihan politik Libya terlihat semakin jauh dari sebelumnya.

Upaya internasional untuk menengahi kesepakatan terhambat oleh ketidaksepakatan di antara negara-negara yang terlibat dan di antara faksi-faksi lokal yang diyakini banyak orang Libya ingin menghindari pemilu untuk mempertahankan kekuasaan.

Warga Libya yang berjumlah hampir 7 juta orang takut periode negosiasi dan penentuan posisi berikutnya, hanya akan kembali mengakibatkan pecahnya kekerasan. [pan]