Memahami Kaitan Pandemi COVID-19 dengan Stunting pada Anak

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Pandemi COVID-19 sebenarnya bisa dibilang merupakan pertama kalinya bagi semua orang untuk membatasi aktivitas sosial dengan orang lain dalam waktu yang lama. Pernahkah terlintas di pikiranmu bagaimana pandemi COVID-19 ini akan memengaruhi kondisi kesehatan mental anak, terutama stunting?

Mayoritas anak neurotipikal akan dapat bersosialisasi dengan baik tanpa stunting, walaupun diharuskan menggunakan masker. Banyak sosialisasi terhadi secara implisit melalui interaksi dengan pengasuh. Bercakap-cakap dengan anak, tanyakan bagaimana perasaannya dan tetapkan batasan akan membuat jalan sosialisasi yang mereka butuhkan.

Tidak masalah untuk mengalami pembatasan aktivitas dalam waktu satu sampai dua tahun, karena perkembangan emosional anak adalah proses seumur hidup. Tidak ada keahlian dan domain di mana anak tidak bisa menjadi lebih baik atau bekerja, seperti dilansir dari nytimes.com.

Perlu dicatat bahwa ada variabilitas budaya yang sangat besar dalam apa yang disebut sebagai sosialisasi normal untuk anak. Ada banyak budaya di mana anak kecil jarang melihat siapapun, kecuali sepupu dan saudara mereka, yang sangat mereka kenal. Mereka baik-baik saja begitu sampai di sekolah, tanpa stunting dan mereka tetap memiliki keterampilan sosial.

Anak usia 0 sampai 2 tahun

Ilustrasi ibu dan anak mengenakan masker | pexels.com/@ketut-subiyanto
Ilustrasi ibu dan anak mengenakan masker | pexels.com/@ketut-subiyanto

Jika kamu memiliki bayi selama pandemi, kamu akan baik-baik saja selama 18 sampai 24 bulan, selama kamu memiliki setidaknya satu orang dewasa yang berpengetahuan dan penuh perhatian. Ini karena sebagian besar bayi bermain sendiri dengan mainan atau berinteraksi langsung dengan orang dewasa, dan mereka hanya memiliki repertoar emosional yang terbatas, mereka tidak peduli dengan emosi anak-anak lain.

Anak-anak seusia ini tidak dapat memenuhi kebutuhan sosial satu sama lain. Mereka hanya dapat memberi tahu orang-orang ketika mereka membutuhkan sesuatu. Sebelum 18 bulan, anak belum memulai tugas perkembangan yang oleh para psikologi disebut teori pikiran, yaitu pemahaman bahwa orang lain memiliki pikiran yang berbeda dengan pikiran mereka.

Anak usia 2 sampai 5 tahun

Ilustrasi anak bermain sambil belajar | pexels.com/@tatianasyrikova
Ilustrasi anak bermain sambil belajar | pexels.com/@tatianasyrikova

Apa yang diperoleh anak dari bersosialisasi dengan anak lain di tahun-tahun prasekolah adalah penalaran moral. Mereka perlu mempelajari apa yang adil, apa yang benar, dan mereka mempelajarinya dari kebersamaan dengan anak lain.

Mereka bisa mempelajarinya dari saudara kandung, namun bagaimana jika mereka adalah anak tunggal? Ketika berinteraksi dengan teman sebaya, anak akan belajar bahwa mereka bahwa mereka tidak selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Anak usia sekolah dasar

Walaupun anak usia sekolah dasar membutuhkan dukungan yang sama seperti anak usia prasekolah, pada saat anak berusia 7 atau 8 tahun, mereka menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka, entah itu melalui interaksi virtual atau bersepeda bersama di lingkungan sekitar.

Satu-satunya hal yang perlu dikhawatirkan adalah pola penurunan. Jika pola ini berlangsung selama seminggu dan ini karena tekanan dari versi terbaru sekolah mereka, segeralah bicara dengan dokter anak.

#Elevate Women