Memahami Kemarahan Presiden Jokowi hingga Terucap Kata 'Bodoh'

Merdeka.com - Merdeka.com - Belakangan ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlihat memarahi para menterinya di depan publik. Terakhir, Jokowi sampai melontarkan kata 'bodoh' saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (Rakornaswasin BPKP) di Jakarta, Selasa (14/6).

Pengamat Politik dari Universitas Padjajaran (Unpad) Muradi menilai kemarahan Jokowi merupakan puncak ketidakpuasan terhadap kinerja para menteri kabinet Indonesia Maju.

"Saya kira itu sinyal bahwa beliau marah, ngomel karena menteri udah 'dableg' kalau dalam bahasa Jawa. Ini sudah tidak bisa dikasih tahu makanya keluar kata itu (bodoh)," katanya saat dihubungi merdeka.com, Selasa (14/5).

Dia mengatakan, Jokowi yang kental akan tradisi politik Jawa tidak akan mudah meluapkan kemarahan di depan publik. Yang mana dalam tradisi politik Jawa, ada proses dan tahapan dalam mengambil sebuah keputusan.

"Tradisi Jokowi kan tradisi politik Jawa itu pasti ada tahapannya seperti dipanggil, diajak ngobrol, pakai bahasa yang santun dan tahapan itu sudah dilalui makanya sudah capek sudah lah kita marahin aja sekalian," paparnya.

Muradi mengungkapkan, kemarahan Jokowi akhir-akhir ini juga menjadi sinyal akan adanya perombakan kabinet atau reshuffle.

"Saya kira ke arah sana (reshuffle), apalagi besok Rabu Pon pasti saya kira ada yang diganti kita lihat saja nanti," terangnya.

Jokowi: Bodoh Sekali Kita

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kesal mendapati dalam negeri dibanjiri produk impor. Padahal, belanja impor menggunakan uang dari rakyat, dari sederet pajak yang dibebankan.

"Ini uang rakyat, uang yang dikumpulkan dari pajak baik PPN, PPh Badan, PPh perorangan, PPh karyawan, bea ekspor, dari PNBP dikumpulkan dengan cara yang tidak mudah kemudian belanjanya belanja produk impor," kata Jokowi.

Saking kesalnya, Jokowi sampai melontarkan kata 'bodoh'.

"Bodoh sekali kita. Maaf. kita ini pintar-pintar, tapi kalau caranya seperti ini bodoh sekali kita. Saya harus ngomong apa adanya."

Kemarahan itu dilontarkan Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (Rakornaswasin BPKP) di Jakarta, Selasa (14/6).

"Saya minta APIP BPKP mengawal serius program ini dan harus berhasil. belanja produk dalam negeri harus berhasil," tegasnya.

Tiga Momen Kemarahan Jokowi

5 April 2022

Saat itu, Jokowi meradang. Minyak goreng langka menjadi biang keladinya. Imbas kelangkaan, harga minyak goreng melambung tinggi.

Di tengah gejolak kesulitan yang dihadapi rakyat, Jokowi makin kesal lantaran jajaran menteri di bawahnya tidak ada yg memberi penjelasan. Setidaknya, agar rakyat paham penyebab sulitnya minyak goreng diperoleh.

Kemarahan itu ketika ia memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara.

"Kepada semua menteri, kebijakan yang diambil itu tepat. Sikap-sikap dan pernyataan-pernyataan kita harus memiliki sense of crisis harus sensitif terhadap kesulitan-kesulitan rakyat," katanya.

Belum kelar minyak goreng, rakyat juga dihantam kenaikan Pertamax. Pun, Jokowi meminta menteri di Kabinetnya untuk mempunyai sense of crisis.

"Jangan seperti kita seperti biasanya dan tidak dianggap masyarakat melakukan apa-apa, tidak ada statement, tidak ada komunikasi," tambahnya.

"Harga minyak goreng sudah 4 bulan, tidak ada penjelasan apa-apa. Kenapa ini terjadi, kedua Pertamax menteri tidak memberikan penjelasan apa-apa mengenai ini, hati-hati," bebernya.

28 April 2022

"Semua harus memiliki sense of crisis."

Lagi-lagi Jokowi mengingatkan para menterinya untuk memiliki sense of crisis. Kali ini, ia menyentil para pembantunya saat membuka acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2022.

Jokowi lalu berbicara mengenai situasi global yang penuh ketidakpastian. Dia bilang beberapa negara masih bergulat menekan penyebaran Covid-19, bahkan masih melakukan lockdown.

"Kemudian terjadi gangguan supply chain yang dampaknya ke mana-mana, belum lagi dunia yang dihantam perang antara Rusia dan Ukraina yang memunculkan krisis energi dan krisis pangan," ungkapnya.

Jokowi melanjutkan, inflasi global juga meningkat tajam dan pertumbuhan ekonomi global mengalami perlambatan. Dia mencontohkan tingkat inflasi di Turki dan Amerika yang lebih tinggi dari biasanya.

"Negara kita alhamdulillah masih berada terakhir masih berada di 2,6 persen, ini yang harus bersama-sama kita perbaiki, kita pertahankan," ujar Jokowi.

24 Mei 2022

Saat itu, Jokowi menyentil pimpinan daerah dan K/L yang minim realisasi penyerapan penggunaan produk dalam negeri.

"Ini Pemda mana, ini Kementerian mana, ini lembaga mana, biar kapok, tayangkan. mana komitmennya? Ini komitmen, Rp802 triliun realisasi Rp110 triliun. Tak tunjukin nanti. Ini tapi masih sabar saya. Jangan dulu. tunggu dulu," kata Jokowi dalam arahannya pada Gerakan Bangga Buatan Indonesia, Selasa (24/5).

Ketika itu, Jokowi sampai mengancam akan membuka data ke publik siapa-siapa saja pimpinan daerah, K/L yang hobi belanja impor. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel