Memahami Peran Penting Pria dalam Menumpas Kekerasan terhadap Perempuan dari Kacamata Perempuan Ini

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Rachel Mantock termasuk salah satu yang mengamati pemberitaan mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan, terkait pembunuhan Sarah Everard yang berusia 33 tahun di London. Selain itu, juga ada pembunuhan massal 6 perempuan Asia da 2 lainnya di Atlanta.

Keinginan untuk terbebas dari pemberitaan tersebut merayapi Rachel ketika tindakan kekerasan terhadap perempuan justru mendominasi siklus berita, membanjiri liputan di mana-mana. Di hari ketika diskusi seputar kekerasan terhadap perempuan menempati urutan paling populer, para pria akan menggunakan putri atau istri mereka sebagai tameng.

Ini adalah taktik membungkam untuk melarikan diri dari kebenaran yang tidak menyenangkan. Semua pria adalah bagian dari sistem patriarki yang berlaku bagi seluruh perempuan, dengan sukarela atau tidak, mereka semuanya, baik saudara laki-laki, anak laki-laki, suami, atau ayah seseorang.

Bulan lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrisson dengan berani mengklaim bahwa ia berempati terhadap seorang kolega yang mengatakan bahwa ia mengalami pelecehan seksual di gedung pemerintah, hanya setelah ia berbicara dengan istrinya. Pria membutuhkan istri mereka untuk membuat mereka berempati, yang tidak dapat mereka kumpulkan sendiri, adalah fenomena menakutkan.

Aktor Matt Damon mengatakan bahwa ia sangat takut setelah memiliki 4 anak perempuan, ketakutan yang sama yang ada di dalam diri perempuan sejak remaja. Kanye West mengatakan bahwa Kim Kardashian telah mengajarinya untuk menghormati perempuan.

Rachel ingin melepaskan dirinya dari narasi online untuk memberdayakan dirinya sendiri. Ada sesuatu yang disosiatif dengan kekerasan terhadap perempuan, pada tubuh perempuan, yang diperlakukan seolah-olah bukan milik mereka sendiri.

Perempuan bukan konsumsi publik

Rachel berusaha membuka mata siapa saja bahwa pria, semua kaum pria memiliki peranan penting untuk menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih sangat marak
Rachel berusaha membuka mata siapa saja bahwa pria, semua kaum pria memiliki peranan penting untuk menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih sangat marak

Rachel merasa bahwa perempuan masih dianggap sebagai konsumsi publik dan sampai sekarang, semua orang bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Ini terlalu sering terjadi, bahkan pada pria yang kita kenal dan percayai, yang memperlakukan kekerasan yang mereka anggap biasa pada tubuh perempuan.

Hubungan seks atas dasar suka sama suka dan kekerabatan yang terjalin menjadi alasan paling umum bagi para pria untuk menormalkan tindakan kekerasan pada perempuan. Kekerasan jelas menghancurkan perempuan, terkadang dengan cara yang tidak bisa dipulihkan.

Shana Brice dibunuh oleh pacarnya pada usia 19 tahun setelah melaporkan diri ke polisi sebanyak 5 kali, karena diuntit. Ia bahkan pernah didenda karena dianggap membuang-buang waktu polisi.

Kaum perempuan tidak berhutang budi terhadap siapapun atas kisah-kisah heroik, jadi tidak ada yang bisa merasa lebih baik atau bahkan mengagumi keuletan mereka yang tak kenal lelah untuk berusaha mengatasi masalah yang ada. Beberapa dari mereka bertahan hidup dan yang lain ada yang tertatih-tatih terus menerus berada dalam krisis.

Mitos tentang perempuan kuat telah dibalik, sekali lagi untuk membebaskan pria dari kerugian mereka. Kebenaran yang sebenarnya jauh lebih sulit bagi kaum pria untuk dilihat.

Rachel menyaksikan sendiri ayahnya berteriak di TV dan menyebut Christine Blasey Ford pembohong saat ia menuduh Hakim Agung Brett Kavanaugh menyerangnya di pesta sekolah. Brett adalah pria yang sama yang bersumpah ia akan bereaksi dengan kemarahan terhadap pria manapun yang ia tahu telah menyentuhnya atau ketiga saudara perempuan Rachel.

Disonansi kognitif yang dilakukan ayah dan suami dengan rela membungkus diri mereka, di mana kekerasan terjadi pada perempuan lain, menghancurkan istri dan anak perempuan mereka. Semua perempuan itu berarti tidak memiliki makna apapun bagi mereka.

Rachel juga pernah mengalami pelecehan seksual, di mana keluarganya tidak ada yang mengetahuinya

Rachel berusaha membuka mata siapa saja bahwa pria, semua kaum pria memiliki peranan penting untuk menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih sangat marak
Rachel berusaha membuka mata siapa saja bahwa pria, semua kaum pria memiliki peranan penting untuk menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih sangat marak

Terakhir kali ayahnya memberi tahu Rachel bahwa ia terlalu marah saat menjelaskan tentang cara perempuan takut pada pria, Rachel membentaknya dan menceritakan pengalaman pelecehan seksual terburuk yang pernah dialaminya. Serangan kekerasan terhadap perempuan oleh pria bukan hanya terjadi dalam berita.

Kemungkinan besar hal itu juga terjadi pada putri atau istrimu, secara terang-terangan atau terselubung. Kemanusiaan harus diakui secara individu, bukan melalui lensa bagaimana kita terkait sebagai putri, istri, saudara perempuan, dan ibu.

Menurut RAINN, 9 dari 10 remaja korban kekerasan seksual adalah perempuan. Sebanyak 59% penyerangnya adalah kenalan korban, sementara 34% adalah anggota keluarga sendiri.

Pria yang melakukan tindakan ini bukanlah minoritas kecil dan gila. Mereka adalah teman, keluarga, kolega, dan bahkan kamu sendiri.

Sebagai ayah, suami, putra, atau saudara, ketika kamu menangkis, diam, dan melihat masalah sebagai sesuatu yang dilakukan pria lain, kamu mencekik perempuan, membuat kami lebih tidak aman daripada sebelumnya. Rachel merasa sampai kaum pria bisa memahami hal ini, kontribusi apapun hanya akan menjadi wacana atau suara yang menyakitkan saja.

#Elevate Women