Memaknai Kembali Rasa Sungkan di Masa Pandemi COVID-19

Syahdan Nurdin, oecanlesmana-684
·Bacaan 5 menit

VIVA – Siang itu, seperti biasa satu jam sebelum salat Jum’at dimulai, para Satgas Covid-19 di mana saya tinggal dan menjadi Humasnya, bersiap melakukan tugasnya.

Ada yang menyiapkan tempat cuci tangan berikut sabun cairnya. Ada pula yang memeriksa alat pendeteksi suhu tubuh digital. Belum lagi yang nantinya mendisiplinkan jaga jarak jama’ah salat Jum’at saat pengecekan suhu tubuh.

Pendeknya setiap anggota Satgas mempunyai peran masing-masing. Kesibukan yang akhirnya menjadi kenormalan dan kebiasaan rutin setiap Jum’at tersebut sudah praktis dijalankan tanpa harus diingatkan kembali bagi Satgas Covid-19.

Pemandangan ini menjadi hal yang hampir kita temukan di setiap pelaksanaan salat Jumat di masjid-masjid di setiap wilayah di Indonesia.

Aksesoris wajib para Satgas juga sudah terpasang rapih di tubuh masing-masing, seperti masker, sarung tangan, rompi Satgas Covid-19 membalut tubuh tegap mereka sebagai identitas diri.

Terlihat berwibawa memang, bukti mereka siap bertugas pada Jum’at itu. Juga Jum’at-Jum’at sebelum dan Jum’at pekan depan. Tak terasa, suara lantunan kalam ilahi perlahan mulai terdengar. Para Satgas pun bersiap pada posisinya.

Satu demi satu, jemaah salat Jum’at mulai berdatangan. Cek masker dan suhu berjalan lancar. Tak lama Khotib yang bertugas tampak dari kejauhan mendekati masjid. Sang Khatib tak sendiri, ia ditemani seorang pemuda, entah itu asistennya atau muridnya, saya belum dapat memastikan. Lalu ia pun masuk menuju gerbang masjid dan memarkirkan kendaraannya.

Saya siap menyambutnya. Oya, selain sebagai Humas Satgas Covid-19 RW, saya pun diamanahi Ketua Bidang Dakwah dan Peribadatan masjid. Namun sebelum sang Imam masuk masjid, ia harus melewati para Satgas Covid-19. Nah, di sini masalahnya. Ia tidak memakai masker. Begitu pula pemuda yang mengiringinya.

Anggota Satgas saling berpandangan satu sama lain. Tak lama, salah seorang di antara mereka menghampiri saya. “Pak, Imam tidak pakai masker, gimana pak?,” tanyanya.

“Ya udah tanyain kalau begitu,” jawab saya. “Sungkan pak, sama Ustadz,” tuturnya. “Yaa tetap harus ditanyakan bawa masker tidak?”. “Jika memang tidak bawa atau lupa, baru dikasih masker yang sudah kita siapkan,” tegas saya. “Siap!”. Ia pun kembali ke posisi semula.

Tampak mereka berdialog. Akhirnya, sang Imam dan pemuda yang menemaninya pun diberi masker dan cek suhu. Setelah ia mencuci tangan dengan sabun cair dan air mengalir, lalu saya pun menemuinya.

Kami pun menaiki tangga masjid dengan tenang. Sang Imam sempat meminta maaf karena lupa membawa masker. “Labbaik, ustadzi,” ujar saya.

Virus Yang Tak Pandang Bulu

Saudara, sekelumit cerita tadi adalah kejadian beberapa Jum’at lalu. Yang saya ingin tekankan adalah diksi “sungkan” yang diucapkan oleh Satgas Covid-19. Di Indonesia sebagai orang Timur, rasa sungkan atau segan, tidak enakan, malu atau rasa hormat kepada orang yang lebih tua, dihormati melekat/inhern dalam diri.

Namun, sepertinya rasa sungkan ini sebaiknya kita tempatkan kembali pada porsinya untuk hal sebagaimana saya kisahkan di atas. Sungkan menegur atau minimal mengingatkan orang-orang yang kita hormati, kita hargai untuk memakai masker, mencuci tangan atau menjaga jarak, menjadi tidak pas lagi.

Artinya rasa sungkan-sungkan ini tidak dapat kita letakkan pada kondisi pandemi Covid-19 yang terus melonjak angka infeksinya. Kalau kita cek paparan Covid-19, angka positif sudah mencapai angka 1.263.299 jiwa, sembuh 1.069.005 jiwa dan meninggal 34.152 jiwa (data covid19.go.id per 20/2/2021).

Sedih. Meski sudah sangat menjaga protokol kesehatan, namun tanpa kita duga sang virus tetap menyasar tanpa pandang bulu. Beberapa pekan lalu, sang Ketua DKM pun terkonfirmasi positif Covid-19. Meski berasal dari luar masjid, namun mau tak mau, suka tak suka semua yang pernah berinteraksi dengannya harus dilacak.

Seperti kita ketahui inkubasi virus Corona penyebab Covid-19 muncul rata-rata 2 hari bahkan sampai 14 hari setelah terinfeksi. Saya pun masuk dalam daftar lacak, hingga saya pun harus test swab antigen untuk memastikan. Alhamdulillah negatif dan saya dapat melanjutkan tugas beliau sebagai imam rawatib masjid.

Sampai di sini akhirnya saya hanya mengambil hikmahnya, bahwa sang virus tak pandang bulu. Kurang ikhtiar bagaimana lagi sang Ketua DKM. Ikhtiar zhohir sudah dilakukan dengan disiplin prokes dirinya dan lingkungan masjid dengan membentuk Satgas Covid Masjid. Ikhtiar batin pun sudah.

Setiap ba’da salat Subuh pembacaan Dzikir, Wirid dan Doa selalu istiqomah dijalankan. Namun Allah punya rencana lain.

Mungkin sudah waktunya, rasa sungkan direnungkan kembali penempatannya, dimaknai kembali lebih dalam. Selama ini kita kadang sungkan menegur teman yang memakai masker tidak sempurna.

Ada yang dipakai melorot ke dagu, ada yang mulutnya saja yang tertutup. Sungkan untuk menegur. Sungkan mengingatkan orang yang kita anggap lebih dari kita. Atau orang yang belum kita kenal.

Saat ini konfirmasi terpaparnya seseorang disebabkan infeksi Covid-19 sudah seperti e flyer webinar masa pandemi saja layaknya. Satu dua bersliweran di grup Whatsup pertemanan, kolega dan keluarga besar. Bergantian dengan notofikasi release selesai isoman.

Semua bisa jadi karena sungkan. Sungkan menolak dikunjungi. Sungkan menolak undangan arisan, jalan-jalan, kondangan dan makan bersama.

Bayangkan jika terpapar saat ini gegara jika kita sungkan tersebut. Na’udzubillaah. Belum tentu semua perumahan mempunyai Satgas Covid-19 yang memonitor dan sigap jika ada warganya yang terpapar.

Belum semua warga masyarakat yang siap jika ada yang terpapar. Isolasi mandiri yang harusnya dibantu untuk memasok bahan-bahan kebutuhan 10 hingga 14 hari, bisa jadi penderitaan bagi yang terpapar.

Satu dua teman saya mengungkapkan ini. Stigma negatif Covid-19 masih melekat. Belum lagi kapasitas rumah sakit sudah penuh. Tak ada lagi tempat. Ia dan keluarganya pun memilih menginap di Wisma Atlet. Lebih aman dan terjamin katanya.

Saatnya kita kesampingkan rasa sungkan saat ini. Jangan sungkan-sungkan lagi, Saudara. Tetap ikhtiar terus sambil disiplin menjaga protokol kesehatan. Tak perlu pusing dan buang waktu dengan sikap mereka yang abai, karena kata Sayyidina Ali r.a. “Teman yang bodoh lebih berbahaya dari musuh yang cerdas". (Suzan Lesmana, Pranata Humas LIPI)