Memasuki New Normal dan PSBB Transisi, Waspada Orang Tanpa Gejala

Lazuardhi Utama

VIVA – Memasuki periode kenormalan baru (new normal) dan rencana pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi di wilayah Jabodetabek yang segera diterapkan pemerintah merupakan saat yang tepat bagi masyarakat, baik individu maupun keluarga secara mandiri, serta perusahaan memfasilitasi karyawannya melakukan pemeriksaan PCR Swab Test.

Hal ini untuk menjamin bagi pribadi yang akan kembali beraktifitas terbebas dari Virus Corona COVID-19. Kendati terdapat individu yang terdeteksi wabah ini tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG), maka dapat segera melakukan isolasi mandiri serta dilakukan upaya perawatan untuk kesembuhan.

Berdasarkan data terbaru hingga Senin hari ini, 15 Juni 2020 pukul 12.00 WIB yang dilaporkan Gugus Tugas Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, kini ada 39.294 orang positif terinfeksi Virus Corona di Indonesia, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

Adapun total pasien sembuh mencapai 15.123 orang serta 2.198 orang meninggal dunia. Sementara jumlah COVID-19 di DKI Jakarta yang terkonfirmasi positif sebanyak 9.120 orang, dinyatakan sembuh sebesar 4.195 orang, dan meninggal dunia mencapai 557 orang.

Virus Corona SARS-CoV-2, penyebab COVID-19, diketahui ditularkan dari orang ke orang melalui kontak langsung, seperti tetesan air liur saat batuk atau bersin. Tapi, muncul perdebatan ilmiah dan penelitian yang tengah berlangsung mengenai penularan yang diturunkan dari pembawa asimptomatik atau orang tanpa gejala (OTG).

Berdasarkan data yang diolah, asimptomatik berarti seseorang yang telah terinfeksi virus, namun tidak merasa sakit atau mengalami gejala apa pun. Ini berbeda dari pra-gejala, yang berarti seseorang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal penyakit tetapi mengembangkannya nanti.

Bagi seseorang yang tidak menunjukkan gejala, waktu antara infeksi dan timbulnya gejala dapat berkisar dari 1-14 hari. Meski begitu, mayoritas orang yang terinfeksi menunjukkan gejala dalam lima hingga enam hari.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), gejala COVID-19 yang paling umum antara lain demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, sakit tenggorokan, diare, atau kehilangan bau atau rasa.

Untuk mendukung pemerintah dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 di Jabotedabek serta persiapan memasuki PSBB transisi, Ketua Pengurus Yayasan Tarumanagara, Gunardi, mengatakan Fakultas Kedokteran miliknya kini telah memiliki Laboratorium BSL-2 (Bio Safety Level 2).

Ini merupakan laboratorium yang digunakan untuk menguji agen penyakit yang cukup potensial membahayakan petugas laboratorium dan lingkungannya.

"SDM dan peralatan yang kami punya sudah bisa melakukan pemeriksaan PCR Swab Test. Kami juga menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk menjadi salah satu Laboratorium Pemeriksa Rujukan COVID-19," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif JSK Group, Dennis Jang Sang Kyu, mengaku tergerak untuk ikut memerangi pandemi dengan mendatangkan alat-alat pengujian dari Korea Selatan, yaitu PCR Swab Kit, Tenda Medis yang bertekanan, hingga Bilik Pengujian yang memungkinkan pengujian COVID-19 yang aman dan baik.

Direktur Ciputra Healthcare, Veimeirawaty Kusnadi, menambahkan PCR Swab Test diharapkan bisa mendorong OTG untuk melakukan pemeriksaan secara mandiri. “Saat ini banyak OTG, yang bila tidak diketahui dapat menular ke orang lain. Jika jumlahnya masif bisa mengakibatkan gelombang kedua COVID-19," papar dia.

Informasi saja, Ciputra Group bersama Jaya Samudra Karunia (JSK) Group dan Yayasan Tarumanagara menggelar Walk Thru PCR Swab Test COVID-19 serentak di 3 lokasi di Jakarta dan Tangerang, mulai 8 hingga 30 Juni 2020.