Memasuki Ramadan, Haruskah Mudik?

Syahdan Nurdin, IkhsanHidayat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan. Bulan yang dinantikan kehadirannya oleh banyak orang terutama umat Islam di Indonesia. Segala macam kebutuhan dipersiapkan untuk menghadapinya. Termasuk persediaan makanan, bersih-bersih tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Nah, sejatinya, di bulan Sya'ban adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri dengan berbagai amalan di bulan tersebut. Karena di dalamnya pun terdapat amalan-amalan yang dianjurkan. Maka, kita berdoa, semoga apa yang kita kerjakan di bulan Sya'ban, kelak mendapat balasan dan kita pun siap lahir batin untuk menjalani ibadah pada bulan Ramadan.

Salah satu yang menjadi rutinitas menjelang Ramadan adalah pulang kampung atau yang biasa disebut dengan mudik. Untuk waktunya sebenarnya tak menentu, ada yang mudik ketika menjelang hari raya, ada pula yang sudah dilakukan pada awal bulan puasa. Tergantung selesainya tugas pekerjaan dan kesibukan lain seseorang.

Berbicara tentang mudik, tentu boleh-boleh saja, begitupun dengan pelaksanaannya. Apalagi kalau niat kita baik, yakni ingin berkumpul bersama orang tua, sanak saudara dan tetangga, itu adalah hal positif. Niatkan untuk menyambung tali silaturahmi, mengingat betapa keutamaan dari silaturahmi; yakni bertambah rezeki dan dipanjangkan umur seseorang.

Sebagaimana di dalam Hadits dari Anas bin Malik:

Artinya: “Barangsiapa yang senang diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi” (Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari)

Atau di dalam hadits lain yang menjelaskan pentinngnya silaturahmi:

Artinya: "Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia -bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat- daripada perbuatan zalim dan memutus silaturahmi." (HR Abu Daud).

Dengan silaturahmi inilah kita bisa menjalin kembali hubungan sesama. Orang yang dulunya jarang komunikasi, misalnya. Dengan momen mudik inilah bisa kembali dieratkan hubungan dengan orang tua, saudara, keluarga dan lainnya.

Namun di antara problem yang terjadi adalah mudik itu dengan niat lain, yang jauh dari unsur silaturahmi, maka akan sia-sia. Atau bahkan, kita sampai kewalahan, dikarenakan persiapan sebelum mudik itu yang kiranya justru menambah beban, seperti utang hanya untuk terlihat berhasil di tanah rantau, dll. Memang, kabar baik haruslah kita berikan kepada keluarga, namun jangan lupa diri sendiri.

Maka, ketika ada pertanyaan boleh atau tidak mudik itu? Jawabannya adalah boleh, tapi juga dengan melihat keadaan. Kalaupun tidak memungkinkan, mestinya ada waktu untuk merelakan agar tidak mudik, terlebih ketika wilayah rantauan yang jaraknya cukup jauh, cukup dengan memberikan kabar baik. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada saat ini, tentu akan sangat membantu.

Dan yang perlu diperhatikan juga bahwa covid-19 yang sampai saat ini masih melanda negeri, masyarakat kiranya bisa berikhtiar. Bahwa diantara bentuk ikhtiar ialah berjaga jarak dan tidak mudik. Silaturahmi harus tetap dijalin, meskipun dengan cara yang lain, agar hubungan tetap erat.

Memasuki Ramadan, bulan yang akan dilipatgandakannya amalan, umat Islam harus berlomba-lomba dalam beribadah. Dengan mengerjakan ibadah wajib dan dan memperbanyak Sunnah, sebab itulah yang akan mengantarkan kita pada ketaqwaan. Karena banyak keutamaan ketika kita telah bertaqwa. Maka, jangan sia-siakan bulan Ramadan ini. Bulan dengan beragam keistimewaan darinya. Jadikan Ramadan sebagai bulan perekat ukhuwah.