Mematikan AC Cegah Penularan COVID-19? Begini Penjelasannya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus positif COVID-19 hingga saat ini masih belum surut di Tanah Air. Bahkan beberapa hari belakangan ini, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia menunjukkan tren kenaikan.

Kondisi kian mengkhawatirkan terjadi pada akhir pekan lalu, kasus COVID-19 di Indonesia mencatatkan kenaikan yang tertinggi yakni 21.342 kasus per hari.

Di tengah kasus yang meningkat, sejumlah masyarakat juga masih dibayang-bayangi dengan sejumlah kabar terkait dengan COVID-19. Salah satunya yang masih ramai adalah perubahan suhu yang dapat mempengaruhi penyebaran. Lantas bagaimana pendapat ahli terkait hal ini?

Terkait hal tersebut, Spesialis penyakit dalam, dr. Robert Sinto, SpPD K-PTI menjelaskan ketika awal pandemi semua berpikir virus ini berkaitan dengan musim.

Sehingga kemudian diharapkan dengan musim dingin berubah menjadi musim panas angka penularannya turun. Namun kemudian dunia mencatat bahwa di musim panas pun terjadi gelombang pandemi virus corona tahun lalu.

"Sehingga sampai sekarang belum bisa mengaitkan antara pandemi dengan perubahan musim, yang justru berpengaruh adalah mobilitas manusia, yang dicatat mereka yang paling penting adalah perilaku manusia yang lebih signifikan mempengaruhi penularan virus ketimbang masalah musim," kata Robert dalam program Hidup Sehat tvOne, Rabu 30 Juni 2021.

Lebih lanjut, Robert menjelaskan, musim mempunyai pengaruh menekan atau mengurangi kekebalan tubuh. Tetapi ada fakta lainnya lebih penting daripada sekedar musim untuk bisa meningkatkan risiko pandemi terus berkepanjangan lebih penting bertanggung jawab diri manusia.

"Pada perubahan musim, akan terjadi perubahan pada segitiga infeksi jadi secara lingkungan berubah, secara imun tubuh berubah dan virus berubah. Pada musim dingin udara lebih lembab sehingga virus lebih subur hidupnya," ungkap Robert.

Dia melanjutkan, pada keadaan musim dingin masyarakat cenderung menutup pintu, menutup jendela karena tidak ada sinar matahari. Padahal, lanjut Robert sinar matahari bisa membunuh virus yang ada,.

Selain itu, kata Robert, pada musim dingin juga kita cenderung berkumpul di dalam rumah padahal perkumpulan orang faktor transmisi antara satu orang ke orang lain, sinar matahari kurang dan sinar matahari potensial pengaruh pada kadar vitamin D dalam tubuh seseorang yang memiliki efek imunitas.

"Ada banyak hipotesis menjelaskan itu, tetapi terkait virus corona ini, ada penelitian lain menunjukkan musim itu kalah perannya dibandingkan perilaku manusianya. Kalau musim panas kalau tidak menjaga dengan baik maka bukan mustahil virus itu tetap ada meski musim panas," kata Robert.

Robert juga menjelaskan mengenai penggunaan AC atau pendingin ruangan. Tidak sedikit dari masyarakat yang memutuskan untuk menyalakan AC dengan tujuan untuk mencegah penyebaran virus COVID-19.

"Prinsipnya bukan panas-dinginnya, kalau kita mematikan AC kemudian membuka ventilasi dan kita membuat sirkulasi, sirkulasinya yang penting dan kita membuat sinar matahari masuk ke ruangan tersebut maka salah satu cara cegah transmisi corona di dalam ruangan. Mematikan AC ada sirkulasi udara," jelas Robert.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel