Membandingkan Nasib Arteta dan Frank Lampard: Chelsea Kena Damprat karena Main Pecat, Sopankah Begitu?

·Bacaan 4 menit
Chelsea - Frank Lampard, Hakim Ziyech, Thiago Silva, Kai Havertz, Timo Warner, Ben Chilwell (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Publik sepak bola Inggris dibuat kaget menyusul kabar dipecatnya Frank Lampard dari kursi manajer Chelsea. Padahal, jauh-jauh hari Mikel Arteta dan Ole Gunnar Solskjaer yang gaung pemecatannya lebih santer.

Terlebih, Frank Lampard baru saja memenangi pertandingan Piala FA kontra Burnley beberapa hari lalu. Kemenangan yang sedikit memutus dahaga Chelsea setelah menelan hasil buruk di berbagai kompetisi.

Berbeda dengan manajer-manajer Chelsea sebelumnya yang jadi korban pemecatan Roman Abramovich, ditendangnya Frank Lampard dari kursi manajer di Stamford Bridge cukup mengejutkan. Sebab, legenda hidup The Blues ini diyakini bakal bertahan setidaknya semusim.

Banyak pertimbangan, satu di antaranya karena kedekatan emosional Roman Abramovich dengan Frank Lampard. Kedua figur telah saling mengenal cukup lama, ketika Chelsea belum dianggap sebagai 'tim besar'.

Ya, persahabatan Abramovich dan Lampard telah terjalin sejak Chelsea diakuisisi oleh taipan minyak asal Rusia tersebut. "Ini keputusan yang sangat sulit karena saya memiliki hubungan pribadi yang sangat baik dengan Frank Lampard. Saya begitu menghormatinya," kata Roman Abramovich.

"Dia adalah orang dengan integritas dan etika kerja tertinggi. Tapi, dengan situasi saat ini, kami sepakat bahwa hal terbaik adalah mengganti manajer," ujarnya lagi.

Sejatinya, jika merunut pada sejarah kelam korban kekejaman Roman Abramovich di Chelsea, mewajarkan dipecatnya Frank Lampard dengan membandingkan kinerja Mikel Arteta di Arsenal tidaklah apple-to-apple. Banyak suporter The Blues yang menyayangkan pemecatan tersebut.

Dipecatnya Frank Lampard semakin menegaskan betapa Chelsea dan Roman Abramovich-nya sangat tidak sabaran. Ironis jika mendengar kalimat respect the process yang pernah dikemukakan Abramovich beberapa kali, nyatanya ia begitu mudahnya memecat sang legenda.

Sah-sah saja kalau Roman Abramovich merasa hak prerogatifnya untuk memecat siapapun yang dianggap gagal karena telah menggentorkan dana besar pada awal musim ini. Kai Havertz, Timo Werner, dan Hakim Ziyech hanya sebagian yang totalnya mencapai 200 juta pounds lebih.

Tapi kalau alasannya hanya itu saja, Arsenal dan klub-klub lainpun sama. Manchester United misalnya, juga sudah keluar duit banyak awal musim ini. Awal musim jeblok. Pemain incaran urung terbeli. Tapi manajemen klub tetap memberikan kesempatan buat Ole Gunnar Solskjaer.

Mikel Arteta apalagi. Sejumlah perekrutan juga dicap gagal. Mulai dari Nicolas Pepe sampai David Luiz. Tapi Arsenal tetap memberikan kepercayaan penuh. Hasilnya bisa terlihat. The Gunners perlahan menunjukkan penampilan oke walau masih kesulitan menembus papan atas klasemen Liga Inggris.

Kena Damprat

Banyak suporter Chelsea yang sedih mengetahui legenda klub, Frank Lampard, jadi korban kesekiankalinya. Mereka merasa kalau mantan jebolan akademi West Ham yang sudah mendarah daging di Stamford Bridge itu berhak mendapatkan kesempatan dan dukungan lebih dari klub.

Ada juga yang berkomentar kalau Frank Lampard dan Mikel Arteta tidak bisa disandingkan. Arteta memulai segalanya dari bawah; tim tidak sempurna, bermain di Liga Europa, skuad ala kadarnya. Sementara Lampard diberkahi dengan gelontoran dana besar plus komposisi pemain yang ciamik.

Jadi pertanyaannya, sopankah Chelsea, dengan segala kewenangan Roman Abramovich di tangannya, memecat Frank Lampard yang baru sebentar di Stamford Bridge? Layakkah sang legenda klub dibandingkan dengan Mikel Arteta yang juga struggling bersama Arsenal?

Video