Membangkang polisi, warga Iran protes penembakan pesawat

Dubai , Uni Emirat Arab (AP) - Para demonstran Iran tidak mengindahkan keberadaan sejumlah besar polisi pada Minggu (12/1) malam saat mereka menyatakan protes terhadap negara mereka, yang selama beberapa hari membantah telah menembak jatuh sebuah pesawat Ukraina yang membawa 176 orang.

Kekacauan itu merupakan situasi terbaru yang memperkeruh keadaan di ibu kota di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.

Video-video yang beredar di Internet memperlihatkan para pemrotes meneriakkan slogan-slogan antipemerintah dan mereka berjalan melewati stasiun-stasiun kereta bawah tanah serta trotoar. Banyak di antara mereka yang berjalan mengelilingi Azadi, atau Lapangan Kebebasan, setelah ada ajakan bagi orang-orang untuk berdemonstrasi di sana.

Beberapa video lain memperlihatkan protes serupa sedang berlangsung di kota-kota Iran lainnya.

Para pengunjuk rasa kerap mengenakan penutup kepala dan wajah, mungkin agar tak dapat dikenali kamera-kamera pengawas. Beberapa video daring tampak memperlihatkan polisi sedang menembakkan gas air mata secara sporadis. Kendati demikian, tidak ada penindakan besar-besaran terhadap para pedemo.

Sementara itu saat menyampaikan pidato mengharukan di parlemen, kepala Garda Revolusi menyatakan permintaan maaf atas penembakan yang mengenai pesawat itu dan menegaskan bahwa penembakan tersebut merupakan kesalahan tragis.

"Saya bersumpah atas nama Allah bahwa saya berharap saya berada di pesawat tersebut dan jatuh bersama mereka dan terbakar, bukan menyaksikan insiden tragis ini," kata Jenderal Hossein Salami. "Sepanjang hidup saya, saya tidak pernah merasa sangat malu seperti ini. Tidak pernah."

Media pemerintah Iran, juga beberapa kantor berita dan media semiresmi, belum melaporkan aksi unjuk rasa tersebut. Namun, kelompok-kelompok internasional pembela hak telah mendesak Iran untuk mengizinkan warga menyampaikan protes secara damai sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang dasar negara itu.

"Setelah mengalami trauma berturut-turut secara nasional dalam waktu singkat, warga harus diizinkan untuk berduka dalam keadaan aman serta meminta pertanggungjawaban," kata Hadi Ghaemi, direktur eksekutif Center for Human Rights di Iran, yang berpusat di New York. "Nyawa para warga Iran tidak boleh terancam dalam menjalankan hak-hak konstitusional mereka untuk berkumpul secara damai."

Polisi antihuru-hara, dengan berseragam warna hitam serta mengenakan helm, sebelumnya membentuk barisan di Lapangan Vali-e Asr, di Universitas Teheran dan lokasi-lokasi utama lainnya.

Para personel Garda Revolusi berpatroli keliling kota dengan sepeda motor sementara para anggota pasukan keamanan dengan seragam biasa juga dikerahkan di mana-mana.

Para warga berjalan sambil menundukkan kepala ketika mereka melewati polisi, dengan harapan tidak menarik perhatian para petugas keamanan tersebut.