Membangkitkan ekonomi melalui mi sagu di Kota Ambon

Demi mau membantu para petani sagu di Maluku, Dyah Puspita, perempuan asal Jawa Tengah yang tinggal di Kota Ambon, Maluku, ini mencoba menciptakan mi berbahan sagu dan dijual kepada khalayak luas, bahkan ke tingkat menteri.

Dengan bekal pengetahuan membuat mi sejak 2016, Dyah Puspita mencoba beriinovasi dari mi terigu ke mi sagu pada 2020 akibat pandemi COVID-19 yang menimpa hampir semua masyarakat Indonesia, termasuk di Maluku.

Sejak pendemi COVID-19 segala hal terhambat, hingga pasokan terigu mulai susah, kapal-kapal mengalami keterlamabatan berlabuh yang akhirnya bahan baku berkurang. Dari situlah Dyah mencoba menggantinya dengan sagu selain terigu karena di Maluku banyak sagu. Bahkan, sagu juga baik untuk kesehatan.

Mi dari sagu mungkin terdengar agak aneh, tetapi bagi Dyah, dalam masa pandemi COVID-19, semua orang ingin hidup sehat dan memakan sesuatu yang berbahan alami. Dyah melihat peluang itu ada di Maluku.

Hasrat Dyah yang ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi di masa pandmi COVID-19, membuatnya tak ingin berdiam diri. Perempuan 38 tahun itu terus berjuang memperkenalkan mi sagu kepada masyarakat Maluku.

Hampir setiap hari Dyah bersama beberapa karyawannya mengenakkan pakaian rapih seadanya berdiri di depan swalayan-swalayan, dan mal menawarkan mi sagu yang sudah dikemas dalam bungkusan sederhana kepada setiap orang yang lalu lalang.

Meskipun dilirik dengan tatapan-tatapan membingungkan dan meremehkan, Dyah bersama beberapa karyawannya mencoba kuat menepis malu dan tetap semangat menawarkan produk mi sagu itu kepada siapa saja.

Tidak berhenti di situ. Dyah juga gencar mengurus dan memperjuangkan perizinan atau legalitas produk hingga pengajuan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga izin Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sebab menurut Dyah dengan lengkapnya semua perizinan, produknya akan lebih cepat naik kelas dan akan lebih mudah untuk disebarluaskan hingga ke luar Maluku.

Karena jika semua perizinan lengkap, dia bisa masuk di swalayan lokal dan nasional yang ada di Kota Ambon. Yang paling lama pengurusannya itu di dinas kesehatan, hingga sebulan.

Usahanya mulai menampakkan titik cerah ketika kedatangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno di Ambon dalam kegiatan pameran usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Mall ACC Ambon pada November 2021.

Karena menteri yang merasakan olahan mi sagu, hingga memperkenalkannya dengan slogan “Belum afdal ke Maluku kalau belum makan mi sagu”, mi sagu yang awalnya dipandang sebelah mata, perlahan-lahan sudah mulai banyak diminati. Mi sagu juga akhirnya dilirik Dinas Pariwisata Maluku. Dyah bersama karyawannya diberi toko kecil untuk mengembangkan usaha mi sagu ini di pelataran gong perdamaian Ambon bersama para UMKM lainnya.

Dyah semakin bersemangat, ketika Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Maluku Widya Pratiwi menghubunginya untuk mencoba mi sagu tersebut. Hingga saat ini, Istri Gubrnur Maluku itu selalu menjamu setiap tamu dengan mi sagu hasil produksi Dyah yang berujung meningkatkan hasil penjualan Dyah hingga 40 persen.

Awalnya hanya dipesan teman-temannya, di mana per bulan dia hanya memperoleh omzet Rp10 juta hingga Rp20 juta. Tapi sekarang dia bisa menghasilkan Rp30 juta sampai Rp50 juta. Kalau ada kegiatan, seperti acara wisuda, atau pernikahan, bisa sampai Rp75 juta per bulan.

Ditambah lagi setelah Pemerintah Provinsi Maluku memecahkan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) berupa penyajian berbagai jenis makanan olahan berbahan sagu terbanyak di Lapangan Merdeka Ambon, 20 Agustus 2022. Pasda momen itu, dagangan Dyah semakin meningkat karena masyarakat banyak yang baru mengetahui kalau ternyata ada mi sagu di Kota Ambon.

Mi sagu ini rasanya hampir sama dengan mi ayam pada umumnya, namun, mi sagu punya berbagai macam varian. Selain ditaburi daging ayam di atasnya, pembeli juga bisa mencoba mi sagu yang memiliki toping ikan cakalang yang telah disuwir. Uniknya lagi, mi sagu juga ada yang disediakan di atas pangsit mangkok. Pangsit yang dibuat besar berbentuk mangkok juga berbahan sagu ini, menarik perhatian setiap orang dan rasanya sudah pasti membuat ketagihan. Selain mi sagu kuah, Dyah juga memberi mi sagu goreng bagi yang tidak punya selera kuah.

Melalui semua usaha yang telah diupayakan, diharapkan masyarakat Maluku dari semua kalangan bisa menikmati mi sehat berbahan sagu ini, agar sagu yang juga menjadi identitas Maluku ini tidak punah, dan tetap dibudidayakan.

Bagi dia, sangat tidak lucu kalau orang di luar Maluku sudah menikmati mi sagu, sementara orang Maluku belum makan mi sagu. Mi sagu kini sudah terkenal di Jakarta, di Bandung, di Makassar. Karena itu sangat tidak masuk akal jika orang di Maluku tidak kenal, padahal sagu ini dikenal sebagai identitas Maluku.

Kearifan lokal

Dyah Puspita memilih sagu karena sagu sendiri banyak terdapat di Maluku. Dia juga ingin membantu petani sagu yang sudah bersusah payah, mulai dari menebang pohon sampai menjadi sagu yang memakan waktu bisa sampai dua minggu.

Sagu yang tadinya disia-siakan, akhirnya dimanfaatkan oleh Dyah. Selama ini sagu hanya sering dikenal dengan olahan menjadi papeda, tapi Dyah memilih menjadikannya sebagai mi. Papeda belum tentu semua orang bisa makan atau suka, tapi mi hampir semua kalangan menyukainya.

Dyah mulai bekerja sama dengan beberapa petani sagu. Dari setiap pohon yang ditebang dan misalnya mendapat 30 tumang, Dyah mengambil 25 tumang secara bergilir setiap seminggu sekali dari masing-masing petani yang telah ia ajak kerja sama.

Dyah yang mengembangkan mi sagunya ini, mengajak kerja sama petani sagu dari berbagai daerah, mulai dari Negeri Rutong Kecamatan Leitimur Selatan, Pulau Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Saparua, dan Tulehu, Maluku. Hal ini bertujuan agar sebagian petani sagu di Maluku mendapatkan bagian untuk menjual habis sagu olahan mereka.

Peneliti pada Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan sangat bersyukur sebab sekarang sagu di Maluku sudah banyak diolah menjadi bahan makanan, bahkan yang sudah menjadi mi sagu ini, salah satunya.

Oleh karena itu, ia masih sangat optimistis potensi sagu akan sangat tinggi di Maluku, karena selain fungsinya yang sehat, olahan dari sagu ini sudah banyak diminati masyarakat, terutama tepung sagu.

“Saya masih optimis dengan sagu yang ada di Maluku karena dilihat dari fungsi-fungsinya sekarang banyak yang menjadi olahan makanan pokok, dan itu masih sangat penting di Maluku,” kata Peneliti di Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Rein E. Senewe, M.Sc, di Ambon, Senin (22/8).

Meskipun demikian, sagu sangat perlu dipertahankan, karena tercatat, 10 tahun terakhir, potensi sagu mulai menurun dari sisi luasan lahan.

Di Maluku sendiri, dalam angka Badan Pusat Statistik, di atas 10 tahun lalu ada 60 ribu hektare lahan tanaman sagu, sekarang terjadi penurunan, bahkan sekarang data di BPS 2022 hanya da sekitar 30-an ribu hektare. Berarti terjadi penurunan dari sisi luas lahan.

Penyebab dari penurunan luasan lahan karena fungsi lahan sagu yang dialihfungsikan, seperti perluasan areal tanaman padi, pembangunan rumah serta gedung-gedung perkantoran.

Oleh karena itu untuk mempertahankan sagu ini tetap terjaga di Maluku, perlu ada pengembangan dari sisi perluasan lahan areal, dengan cara menanam kembali pada habitat sagu yang sebenarnya, seperti di lahan-lahan yang berair, dan becek. Tidak lupa juga masyarakat memanfaatkan potensi sagu itu sendiri, seperti mengolahnya menjadi makanan yang bisa dikembangkan hingga ke masyarakat luas.

Agar Maluku tidak kehilangan identitasnya, maka sudah sepatunya, kita semua mempatahankan sagu, baik dari sisi tanaman dan arealnya, maupun dari sisi budaya kuliner atau makanan utama.