Membangun gampong di Aceh lewat pemuda berakhlak

Ratusan pria berpeci, mengenakan rompi berwarna hijau lumut, duduk di bawah tenda berwarna putih di halaman depan Pendopo Kabupaten Bireuen. Mereka datang dari berbagai pelosok gampong/desa di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, dalam rangka Apel Siaga Tenaga Kader Dakwah bersama Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Achmad Marzuki.

Pemilihan lokasi tersebut juga menjadi spirit bagi generasi muda di Aceh, di mana di gedung tersebut menyimpan sejarah. Pada 16 Juni 1948 pendopo yang saat ini ditempati Pj Bupati Bireuen tersebut pernah digunakan sebagai tempat persinggahan Bung Karno ( Presiden pertama RI) menjalankan roda pemerintahan selama satu minggu.

“Kekuatan sebuah bangsa ada pada moral dan akhlak para pemuda, sehingga kita bertekad untuk bersama-sama memperkuat generasi muda yang lebih kuat untuk mengapai masa depan dan menghadapi berbagai persoalan,” kata Ketua Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Aceh, Teungku Muhammad Yusuf A Wahab di Bireuen beberapa waktu lalu.

Baik buruknya sebuah negeri juga sangat tergantung pada penghuni sebuah kawasan, khususnya pemuda. “Baiknya pemuda di desa/gampong, maka akan naik ke tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan Indonesia umumnya,” katanya dalam kegiatan yang turut dihadiri Pj Bupati Bireuen, Aulia Sofyan.

Pihaknya bertekad membina anak -anak muda yang dimulai dari tingkat paling kecil, yakni desa, dan diharapkan akan berimbas pada tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi.

Oleh karena itu, pelatihan (training) yang diberikan kepada pemuda di Kabupaten Bireuen khususnya, dan Aceh umumnya, tidak terlepas dari beragam persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Persoalan itu di antaranya penggunaan barang haram narkoba yang merambah berbagai kalangan, termasuk kasus kekerasan dan pelecehan seksual kepada perempuan serta anak.

Bermula dari beragam persoalan yang kini melanda Aceh, Pimpinan Dayah Babussalam Al Aziziyah, Jeunieb bergerak cepat untuk melahirkan generasi muda berakhlak dan beretika lewat peran pemuda yang ada di tiap-tiap gampong.

Pelatihan TKD

Tenaga Kader Dakwah (TKD) yang digagas Teungku Muhammad Yusuf A Wahab atau yang lebih dikenal Tu Sop tersebut ikut menyasar dan dikembangkan di seluruh kabupaten/kota di seluruh Aceh.

Ada bekal awal yang disiapkan kepada TKD di gampong-gampong yakni adalah terkait Fardhu Ain. Fardhu ain adalah status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan oleh seluruh individu yang telah memenuhi syaratnya.

“Artinya, kita memberikan pembekalan terkait fardhu ain kepada seluruh peserta. Ketika mereka memahami dengan baik terhadap ibadah, dan ini bagian dari penyadaran kepada generasi muda, agar dapat melaksanakan dengan baik perintah Allah,” kata pelatih atau instruktur TKD, Tgk. Saifuddin Tarmizi.

Dalam pelatihan yang dikolaborasikan dengan beragam metode tersebut juga membentuk ruang diskusi terhadap berbagai persoalan yang ada di gampong, termasuk di dalamya penggunaan barang haram seperti narkoba dan kegiatan yang melanggar hukum lainnya, maupun judi online.

Dalam kegiatan tersebut peserta akan berdiskusi dan saling memberikan pendapat terhadap beragam masalah yang ada dalam gampong masing-masing.

Melalui pelatihan yang merangkul para pemuda di gampong-gampong tersebut, diharapkan akan menjadikan mereka sebagai generasi terdepan untuk mencegah berbagai perbuatan nahi mungkar yang dapat terjadi di tengah masyarakat.

Pembekalan yang diberikan ini juga bagian membentengi para pemuda yang ada di gampong-gampong terhindar dari perbuatan melawan hukum dan dilarang oleh Allah.

Pelatihan para pemuda dari berbagai kalangan tersebut telah menyasar kabupaten/kota di pantai barat dan timur Aceh. Rencananya kegiatan ini akan dikembangkan hingga ke seluruh daerah di Tanah Rencong tersebut.


Akhlak dan etika

Pj Gubernur Aceh, Achmad Marzuki, memiliki mimpi anak-anak muda Aceh disebar ke seluruh pelosok untuk memajukan provinsi itu, yang diawali dari pembekalan akhlak yang baik dan etika. Untuk memajukan ekonomi sebuah kawasan maka harus diikuti dengan generasi muda berakhlak baik dan beretika.

Karena itu, ia sangat mengapresiasi kegiatan yang di dalamnya merupakan anak-anak muda, sehingga diharapkan dapat berkontribusi besar untuk pembangunan Aceh yang lebih maju dan sejahtera dalam bingkai syariat Islam.

TKD juga dapat berpartisipdi aktif di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan dan menyampaikan pesan-pesan menjauhi narkoba kepada generasi muda. “Saya tidak bisa sendiri, semua harus bersama-sama. Apa yang bisa dilakukan untuk kemajuan Aceh akan saya laksanakan,” katanya.

Tenaga Kader Dakwah (TKD) diajak untuk berpartisipasi aktif dalam perbaikan akhlak generasi muda di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Dalam upaya pencegahan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, dalam rapat koordinasi kepala dinas pendidikan kabupaten/kota di Aceh juga dibahas masalah pembentukan karakter dan etika.

Selain itu, juga dikukuhkan TKD di Bireuen. Setiap desa/gampong nantinya akan ada pemuda-pemuda yang akan menjaga moral dan aqidah di semua wilayah. “Kita berharap dengan pendidikan moral, aqidah dan etika yang terbentuk dalam diri generasi muda, pada akhirnya akan menjadikan masyarakat Aceh sesuai dengan harapan,” katanya.

Aceh bertekad untuk maju, hebat, kuat serta generasi mudanya berakhlak dan beretika. Untuk wujudkan tekad tersebut, pemerintah setempat telah memulainya dari gampong. Dari lingkup terkecil itu diharapkan akan berimbas ke tingkat yang lebih luas.