Membangun Papua dengan merawat toleransi umat beragama

Masyarakat Provinsi Papua dikenal sangat majemuk dengan beragam etnis, suku, agama, bahasa, budaya dan adat-istiadat. Namun dalam kehidupan sosial toleransi antarumat beragama di "Bumi Cenderawasih" itu dikenal sangat rukun dan damai.

Kehidupan antarumat beragama yang kondusif menjadi modal besar untuk membangun Tanah Papua yang lebih sejahtera dan berkeadilan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kehidupan masyarakat di Papua sangat toleran dan hidup berdampingan dengan siapapun. Ini tidak lain karena warga Papua sangat menghargai toleransi kehidupan antarumat beragama," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua KH Syaiful Islam Payage saat mengunjungi umat Islam dan meresmikan masjid pertama di Kabupaten Supiori, belum lama berselang.

Payage menegaskan untuk persoalan agama negara Indonesia secara konstitusional telah mewajibkan warganya untuk memeluk satu dari agama-agama yang diakui eksistensinya sebagaimana tercantum dalam Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945.

Toleransi kerukunan antarumat beragama di Tanah Papua menjadi nilai penting karena saling menghormati agama yang dianut setiap masyarakat dengan mengembangkan konsep dasar ukhuwah (persaudaraan).

Dari ajaran toleransi beragama, kata dia, kesadaran seseorang warga untuk menghargai, menghormati, membiarkan dan membolehkan pendirian, pandangan, keyakinan, kepercayaan.

Bahkan, nilai toleransi beragama akan memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan, perilaku dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda kepercayaan.

"Toleransi beragama adalah untuk menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain dengan tidak mencampuri urusan masing-masing,"ujarnya.

Diakuinya umat Islam di Papua mengembangkan konsep dasar ukhuwah dalam tiga aspek, yaitu ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim melalui ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan satu bangsa.

"Dan ukhuwah insaniyah atau persaudaraan dengan sesama sebagai manusia ciptaan Allah SWT," kata Payage.

Sedangkan tipe toleransi umat beragama, menurut dia, di antaranya toleransi beragama pasif yakni sikap menerima perbedaan sebagai sesuatu yang bersifat faktual.

Sementara toleransi beragama aktif, lanjutnya, adalah nilai toleransi yang melibatkan diri dengan yang lain di tengah perbedaan keyakinan.

"Toleransi beragama aktif merupakan ajaran semua agama. Hakekat toleransi adalah hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai di antara keragaman," katanya.

Ia mengatakan masyarakat Papua secara bergotong-royong melakukan upaya-upaya di berbagai sektor kehidupan pembangunan untuk saling membantu satu dengan lainnya.

"Gotong royong dengan saling membantu kebaikan sebagai implementasi dari nilai-nilai Pancasila dan pengamalan ajaran toleransi kehidupan antar umat beragama," katanya.

Sementara itu, Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap menyebut kehidupan toleransi kehidupan umat beragama di tengah masyarakat Papua yang sangat majemuk dapat disatukan dengan Pancasila.

Pancasila dalam kehidupan saat ini, menurut dia , mempunyai keistimewaan karena mampu menembus perbedaan etnis, agama, budaya dan bahasa.

"Ajaran nilai-nilai Pancasila senantiasa terpatri setiap pribadi masyarakat dan anak sejak dini untuk diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," katanya saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2022.

Melalui nilai yang terkandung dalam Pancasila masyarakat diminta untuk mendukung setiap program pemerintah sebagai implementasi sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Ketika ada program pemerintah yang sedang direalisasikan pekerjaan di suatu tempat wilayah Papua maka tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat sehingga harus didukung bersama," katanya.

Sebagai contoh, Kabupaten Biak Numfor sudah masuk dalam agenda program strategis nasional seperti pembangunan bandara antariksa serta penyelenggaraan Sail Teluk Cenderawasih 2023.

Pelaksanaan program strategis nasional pemerintah ini, menurut dia, harus berjalan dengan lancar karena dampaknya secara ekonomi sangat nyata untuk membuka lapangan kerja bagi anak-anak Biak.

"Saya berharap masyarakat Biak Numfor untuk mendukung program pemerintah daerah sebab kebijakan ini dibuat untuk
mensejahterakan masyarakat orang asli Papua," katanya.

Tugas dan kewajiban dari pemerintah, menurut Herry Naap, akan melaksanakan berbagai kebijakan strategis pembangunan daerah yang sudah diprogramkan dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan.

Bupati mengatakan jika program pemerintah sudah dibuat dan dijalankan maka manfaat yang akan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat di berbagai kampung dan distrik.

Saling menjaga toleransi

Ketua DPRD Biak Milka Rumaropen menilai keterlibatan antarumat beragama untuk mendukung program pembangunan di Kabupaten Biak Numfor sangat nyata dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Sebagai contoh, ketika melaksanakan hari besar keagamaan dalam kepanitiaan tertentu melibatkan semua komponen warga berbagai lintas agama.

Begitu juga ketika menghadiri pembangunan sarana rumah ibadah warga Kristiani, menurut Milka, umat beragama lain yang diundang hadir ikut memberikan dukungan dengan menyisihkan sumbangan membantu penyelesaian pembangunan rumah ibadah.

"Kebersamaan dalam menjaga toleransi hubungan antar umat beragama dengan baik maka sangat mendukung kelancaran pembangunan yang dilakukan pemerintah," katanya.

Contoh lain, yakni saat warga Biak non-Muslim menjaga semangat toleransi beragama, yakni ketika umat Islam merayakan Idul Fitri dengan mendukung pelaksanaan pawai takbir keliling bersama pemerintah.

Semangat nilai toleransi yang saling menghormati antarwarga menjadi penguat membangun Tanah Papua, khususnya Biak Numfor yang religius, berkarakter dan berbudaya sebagaimana visi pemerintah yang digagas Bupati Herry Ario Naap.

Sedangkan contoh kerukunan antar umat beragama yang baik, lanjutnya, pada waktu perayaan halal bihalal dalam komunitas atau organisasi kemasyarakatan tertentu yang menjadi panitia penyelenggaranya melibatkan warga non Muslim.

Begitu juga ketika umat Kristiani melaksanakan perayaan Natal di lingkungan kelompok masyarakat tertentu, lanjut Milka,juga telah melibatkan masyarakat dari berbagai lintas agama sebagai panitia.

"Ini semua memberikan contoh bertapa kuatnya nilai-nilai toleransi antar umat beragama yang dipegang masyarakat Biak yang majemuk," katanya.

Koordinator Sekretariat Bersama LSM Biak Simon mengakui adanya keterlibatan antarumat beragama untuk saling membantu kegiatan acara sosial keagamaan tertentu merupakan bentuk toleransi dan gotong royong dengan sesama makhluk sosial.

"Nilai toleransi antarumat beragama dan semangat bergotong royong dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di tanah Papua sebagai modal besar membangun tanah Papua yang aman dan sejahtera," katanya.

Ia berharap pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah terkait untuk merangkul semua potensi organisasi kemasyarakatan nusantara dan LSM untuk menjadi mitra pemerintah kabupaten membangun Biak Numfor yang lebih sejahtera.

"Dibutuhkan peran serta dari semua elemen warga dalam mewujudkan berbagai program strategis nasional di Kabupaten Biak Numfor," katanya.

Pada akhirnya, merawat kehidupan toleransi kerukunan antarumat beragama yang harmonis di Tanah Papua adalah bagian dari partisipasi nyata masyarakat untuk membantu pemerintah membangun "Bumi Cenderawasih" yang kondusif, maju mandiri dan sejahtera dalam bingkai NKRI.

Baca juga: Bicara kerukunan beragama, staf Kemenag Aceh diundang ke Papua Barat

Baca juga: Kemenag : kerukunan umat beragama Biak jadi model

Baca juga: Tokoh muslim Tolikara apresiasi penanganan kerusuhan

Baca juga: Wapres apresiasi kerukunan umat di Papua Barat terus terawat

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel