Membawa produk UMKM Indonesia jadi masyhur di pasar dunia

Perjalanan wirausahawan Mark Zuckerberg dalam membangun raksasa teknologi media sosial Facebook (yang kini juga menguasai Instagram dan WhatsApp), telah dikisahkan antara lain dalam film berjudul "The Social Network".

Film itu menceritakan bagaimana Zuckerberg membangun Facebook dari sekadar ide hingga menjadi perusahaan kelas dunia. Salah satu pesan yang bisa dipetik dari "The Social Network" adalah tidak ada sukses tanpa kerja keras, serta rintangan akan selalu ada dalam tangga menuju kesuksesan.

Setiap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia pasti mempunyai impian yang sama agar usahanya dan kesuksesannya bisa sebesar yang dialami oleh Mark Zuckerberg, atau bahkan mungkin melebihinya.

Terkait UMKM di Indonesia, pengamat ekonomi digital sekaligus peneliti UMKM dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengungkapkan ada dua jenis produk UMKM Indonesia yang paling banyak diminati di pasar global, yakni produk artisan dan kuliner.

Dia menilai keberagaman produk kuliner Nusantara akan menjadi senjata ampuh untuk memberi UMKM Indonesia keunggulan di pasar dunia. Demikian pula produk artisan yang juga punya potensi besar di luar negeri.

Namun untuk memaksimalkan potensi tersebut ada dua hal yang perlu menjadi perhatian menurut Nailul, yakni kapasitas produksi dan standardisasi.

Pelaku usaha dinilai harus bisa memenuhi permintaan dalam jumlah besar yang datang secara tiba-tiba dan mampu menjaga standar kualitas produknya di setiap lini produksi.

Lebih lanjut dia mencontohkan dengan produk makanan, produknya harus dikemas dengan sedemikian rupa sehingga mampu bertahan dalam jangka waktu panjang untuk menuju ke negara tujuan dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor.

Terkait standardisasi, Nailul mengatakan pemerintah Indonesia sudah mempunyai sistem Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tantangan bagi pemerintah adalah bagaimana pemerintah melalui instansi terkait memberikan pelatihan bagi para pelaku usaha agar bisa memenuhi standar tersebut.

Apabila hal tersebut bisa dilakukan, niscaya produk kuliner Indonesia bisa bertengger di rak toko dan pasar mancanegara, dan bersaing dengan produk kuliner tersohor dari negara lain.
Baca juga: Sekolah ekspor berupaya tumbuhkan eksportir baru dari kalangan UMKM

Kreativitas

Setelah membenahi urusan standardisasi dan kapasitas produksi, pelaku usaha kini harus menciptakan kanal untuk memasarkan produknya. Ada banyak aspek yang berperan dalam pemasaran suatu produk, salah satunya adalah kreativitas dan melihat ruang kosong di suatu pasar.

Dalam hal ini Nailul mencontohkan dengan produk kelapa Thailand yang dijual di supermarket dan berbagai toko daring di Indonesia. Kelapa asal Thailand tersebut dikemas sedemikian rupa dengan sehingga tahan lama dan bisa langsung disantap tanpa perlu dikupas lagi.

Kelapa adalah buah yang umum ditemui di Indonesia, namun para pelaku usaha di Negeri Gajah Putih dengan jeli melihat pangsa pasar di Tanah Air dan dengan kreatif mengemas produknya hingga akhirnya masyarakat Indonesia tertarik membeli produk kelapa Thailand dibanding kelapa lokal.

Kemudian untuk mencapai laba maksimal, cara yang paling optimal adalah menjual langsung kepada importir maupun konsumen. Namun saat ini para pelaku usaha Tanah Air masih mengandalkan pihak ketiga untuk mengekspor produknya.

Meski demikian, hal itu sudah mulai bergeser dengan kehadiran marketplace atau lokapasar yang mampu menjangkau konsumen mancanegara.

Namun seiring dengan kesempatan, pasti akan muncul hambatan baru yakni persaingan harga. Keberadaan lokapasar tersebut membuat konsumen bisa langsung membandingkan harga, dan konsumen kerap memilih produk produksi massal dengan harga yang lebih murah dibanding produk artisan yang umumnya dibanderol lebih tinggi.

Sedangkan dari sisi regulator, Nailul menilai Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah harus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan sebagai pemegang otoritas untuk perdagangan produk Indonesia di pasar mancanegara.
Baca juga: Mendag paparkan upaya pasarkan produk UMKM hingga ke pasar global

Masih kecil

Dia juga menilai bahwa partisipasi UMKM dalam total ekspor Indonesia masih terbilang kecil yakni masih di bawah 20 persen. Meski pangsa pasar mancanegara terbuka lebar, pelaku usaha produk artisan Tanah Air masih memilih untuk memperkuat pemasaran dan pencitraan produknya di dalam negeri.

Salah satunya adalah Rima Yuni yang mengusung jenama Soe Art dengan produk tas dengan pewarna berbahan alami yang berbasis di Lamongan, Jawa TImur.

Dia mengatakan produknya sudah beberapa kali mendapatkan pesanan dari luar negeri dan yang terbaru adalah pesanan 400 unit tas artisan dari Jepang.

Dirinya mengaku terbuka selalu siap melayani dengan pesanan yang datang dari luar negeri, namun fokus upaya pemasaran produknya tetap menitikberatkan di pasar domestik.

Brand Soe Art yang berdiri pada 2014 juga menyediakan produknya untuk dijual secara daring melalui lokapasar dan media sosial, dan dari sana Rima juga mendapatkan pesanan dari konsumen mancanegara.

Fokus pada pasar dalam negeri dilakukannya karena pasar domestik adalah pasar terbesarnya dan paling mudah dijangkau.

Dari segi regulator, Rima menilai pemerintah sangat aktif berperan dalam memfasilitasi para pelaku UMKM untuk berpartisipasi di pasar domestik nasional, yang terbaru adalah dirinya difasilitasi untuk mengikuti Jakarta Fair Kemayoran 2022. Pada ajang itu dirinya juga mendapatkan pesanan tas untuk diekspor ke Uni Emirat Arab.

Geliat UMKM dalam negeri juga tak luput dari perhatian pemerintah, dalam hal ini melalui Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang menyatakan siap memasarkan produk UMKM ke pasar internasional.

Zulkifli mengatakan UMKM saat ini mengisi 61 persen ekonomi nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Hal itulah yang menjadi pendorong Kementerian Perdagangan untuk memfasilitasi UMKM agar bisa semakin berkembang.

Pemerintah saat ini juga tengah berupaya untuk membuka jalur distribusi baru yakni melalui Dubai di Uni Emirat Arab.

Secara garis besar, hal yang punya peran besar dalam membangun sebuah UMKM yang sukses di panggung dunia adalah pelaku usaha yang kuat, produk artisan berkualitas, regulasi yang mendukung dan pasar yang potensial.

Saat ini Indonesia telah memiliki semuanya. Bila ditanya kapan produk Indonesia bisa masyhur? Jawabannya adalah saat pelaku usaha dan pemerintah bisa membuat produk yang banyak dipakai warga mancanegara, sebagaimana halnya Facebook, Instagram, dan WhatsApp yang kini telah biasa digunakan oleh banyak orang dari beragam negara di dunia.

Baca juga: Presiden Jokowi minta pelaku UMKM mulai incar pasar ekspor
Baca juga: Kadin: Digitalisasi bantu dorong UMKM jadi bagian rantai pasok global

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel