Membayangkan liga-liga elite Eropa musim depan

Manchester City telah menjuarai lagi Liga Premier Inggris untuk dua musim berturut-turut dengan hanya berselisih satu poin dari Liverpool yang berusaha membuat sejarah mengangkat empat trofi dalam satu musim.

Pun demikian dengan Bayern Muenchen yang untuk kesepuluh kali secara beruntun menjuarai Bundesliga, sedangkan Real Madrid dan Paris Saint Germain kembali menjadi nomor satu di Spanyol dan Prancis setelah satu musim lalu absen di puncak klasemen.

Sementara AC Mlian sukses memutus kemarau gelar nan panjang selama sebelas tahun setelah bertarung sampai laga terakhir melawan seteru satu kota, Inter Milan, persis City dan Liverpool di Inggris.

Di Belanda, Ajax Amsterdam menjuarai liga untuk musim ketiga berturut-turut. Di Portugal, Porto yang bersaing abadi dengan Benfica, menjadi juara setelah tahta juara musim lalu direbut Sporting Lisbon. Tiga klub Portugal ini adalah gudang pemain berbobot di Eropa.

Baca juga: Pemerintah Inggris beri lampu hijau pergantian kepemilikan Chelsea

Semua yang juara liga itu adalah tim-tim yang mengagungkan penguasaan bola dan permainan kolektif. Tetapi, adalah Manchester City dan Liverpool yang paling konstan mengamalkan sepak bola menyerang, tak peduli siapa lawan, tak peduli di mana laga dilangsungkan, baik kandang maupun tandang, baik di Inggris maupun di luar Inggris.

Tetapi antara Liverpool bersama Juergen Klopp dan Manchester City bersama Pep Guardiola, filosofi sepak bola kedua tim ini ternyata berbeda.

Guardiola bersujud ke kiblat sepak bola menyerang yang menekankan penguasaan bola, sedangkan Klopp memuja sepak bola menyerang yang bertumpu kepada terus menekan lawan sampai tak bisa menguasai bola.

Guardiola berpegang kepada juego de posicion, sedangkan Klopp berpijak pada gegenpressing yang ironisnya gagal total diterapkan Ralf Rangnick sang penemu, di Manchester United.

Dalam caranya masing-masing, kedua pelatih itu anti mengendurkan serangan dan tekanan. Mereka menyerang selama 90 menit, kalau perlu 120 menit, tak peduli siapa lawan mereka, entah yang gampang terteror atau tim yang solid dan maut dalam melancarkan serangan balik.

Keduanya antitesis dari pendekatan bermain sesuai kondisi lawan dan lapangan seperti diterapkan Rafa Benitez dan Alex Ferguson yang melihat dulu lawan sebelum menerapkan pola yang tepat dalam menghadapi, meredam dan menaklukkannya. Sudah pasti mereka berbeda 180 derajat dengan model sepak bola asal menang seperti diterapkan pelatih-pelatih semodel Jose Mourinho.

Sepak bola Eropa berubah besar sejak 2008 ketika Guardiola menukangi Barcelona. Mazhab penguasaan bola menjadi isme tersuci walau tak semua klub bisa menerapkan sebaik tim-tim asuhan Guardiola. Kondisi ini kemungkinan besar akan terus terjadi musim depan dan setelahnya, sekalipun Guardiola kini memiliki striker murni pada diri Erling Haaland yang sebenarnya tidak terlalu perlu jika mengingat betapa eksplosif dan produktifnya pemain-pemain sayap mereka.

Atau jangan-jangan Guardiola sengaja merekrut Haaland agar tidak jatuh ke tangan klub-klub yang piawai menyerap kekuatan serangan tim-tim seperti City untuk mereka muntahkan kembali sebagai serangan balik nan maut yang kerap membuat City tersandung atau gagal meraih poin penuh?

Yang pasti, sejak ada Guardola di kursi pelatih, produktivitas gol di Eropa, contohnya kompetisi Liga Champions, meningkat drastis; rata-rata tiga gol per pertandingan. Teknologi pertandingan yang kian canggih yang kian bisa menghindarkan kesalahan-kesalahan tidak perlu, khususnya Video Assistant Referee (VAR), membuat klub-klub yang menyembah sepak bola menyerang, menekan dan berorientasi penguasaan bola, menjadi kian diuntungkan.

Gelandang-gelandang eksplosif, para pemain sayap yang lincah nan menyengat bagai tawon yang diusik sarangnya, dan para striker, menjadi lebih terlindung dari tekel-tekel berbahaya dibandingkan, sebelum VAR dan lainnya diterapkan di lapangan hijau.

Di sisi lain, para bek, tak peduli bek tengah atau bek sayap, serta juga gelandang bertahan, menjadi lebih terukur dalam menekel lawan. Ironisnya, dalam klub-klub seperti City dan Liverpool, kemungkinan melakukan tekel kasar ini malah dihapus oleh turut rajinnya barisan belakang membantu serangan dan bahkan merancang gol. Semua menjadi turut menyerang, turut bertahan.

Baca juga: Manchester City juara Liga Inggris setelah tekuk Aston Villa 3-2


Menjadi kecenderungan

Tetapi pada Liverpool di bawah kepelatihan Juergen Klopp, situasi ini menjadi semakin maut oleh kemampuan tim dalam terus menekan lawan yang disebut Klopp sebagai sepak bola heavy-metal, yang konstan beradu fisik dan mental, tak peduli sedang memimpin atau tidak, tak peduli lawan itu kuat atau lemah.

Orang-orang seperti Thomas Tuchel di Chelsea, Antonio Conte di Tottenham Hotspur yang menyukai sepakbola atraktif, Xavi di Barcelona, Julian Nagelsmann di Bayern Muenchen, bahkan Thomas Frank di Brentford, Brendan Rodgers di Leicester, Gian Piero Gasperini di Atalanta, mempraktikkan apa yang dipraktikkan Guardiola dan Klopp. Demikian pula Mauricio Pochettino di Paris Saint Germain, yang memiliki trisula maut Neymar-Lionel Messi-Kylian Mbappe.

Itu juga termasuk Stefano Pioli di AC Milan. Dengan skuad yang menekankan kolektivitas persis Man City dan Liverpool di Inggris, Piola membangun kembali Milan menjadi tim yang yang paling sering menekan lawan di Serie A sepanjang musim 2021/2022.

Bertumpu kepada gelandang mungil Sandro Tonali tapi tangguh dalam bertahan dan tajam kala membantu serangan yang mirip kiprah Thiago Alcantara di Liverpool, Milan menjadi tim Liga Italia yang paling sering memaksa lawan salah mengumpan bola dan sekaligus memanfaatkan dengan maksimal kesalahan umpan ini.

Sebaliknya di Old Trafford, Ralf Rangnick berusaha keras mempraktikkan sepak bola menekan tapi gagal, sebagian karena dia harus mengakomodasi Cristiano Ronaldo yang telah berkurang kecepatannya dalam sepak bola tempo tinggi ala gegenpressing, dan juga juego de posicion-nya Guardiola.

Secara umum, pendekatan yang ditempuh Guardiola dan Klopp, telah menjadi common sense dalam sepak bola modern era ini. Tetapi masih ada tim yang tak mau terbawa "arus zaman", salah satunya Atletico Madrid bersama Diego Simeone, yang menakar tingkat kekuatan lawan sebelum mencomot strategi apa yang tepat untuk menghadapinya.

Meskipun masih banyak tim-tim seperti Atletico, pola bermain menekan dan menyerang menjadi situasi umum sepanjang musimm 2021/2022.

Jika melihat apa yang dicapai Guardiola, Klopp, Julian Nagelsmann, Stefano Pioli, dan lainnya saat ini, liga-liga Eropa musim depan akan semakin ingin menyuguhkan sepak bola menyerang yang atraktif sehingga nikmat diikuti, sekalipun hanya dari layar kaca atau ponsel.

Baca juga: Ajax Amsterdam tunjuk Alfred Schreuder gantikan Erik ten Hag

Fakta itu juga kian dikuatkan oleh tren klub-klub Eropa merekrut pelatih-pelatih berfilosofi menyerang yang tak lagi memiliki adagium "pertahanan terbaik adalah menyerang", tetapi "bertahan dan menyerang harus sama baiknya".

Salah satu petunjuk yang menguatkan tren itu adalah keputusan Manchester United merekrut Erik ten Haag yang memiliki filosofi dan pendekatan bermain yang jelas sampai dia mengantarkan Ajax Amsterdam tiga kali menjurai Liga Belanda dan acap menjadi salah satu dongeng yang paling menarik dalam Liga Champions.

Kedatangan Ten Haag di Inggris kian menguatkan adanya kecenderungan untuk terus mengarah kepada sepak bola menyerang, seperti ditunjukkan Man City dan Liverpool.

Indikasi lainnya adalah Mikel Arteta si mantan asisten Guardiola yang melatih Arsenal, Steven Gerrard yang jebolan sepak bola menyerang dan muridnya Jurgen Klopp dalam menukangi Aston Villa, Frank Lampard yang membedah Everton, Xavi yang membidani Barcelona untuk terlahir kembali menjadi kekuatan yang siap mendominasi Spanyol.

Musim 2022/2023 kemungkinan besar akan jauh lebih sengit. Tak saja di Liga Inggris dan Liga Italia yang harus menunggu pertandingan terakhir untuk bisa mengetahui siapa yang menjuarai dua liga elite ini, tetapi juga di hampir semua liga Eropa.

Mungkin Bayern sudah tak bersama lagi Robert Lewandowski musim depan. Mungkin nanti Ronaldo tak lagi mengenakan kostum Setan Merah. Mungkin juga bintang-bintang seperti Mohamed Salah, Harry Kane, Rafael Leao, tak lagi bersama klubnya sekarang musim depan nanti.

Tetapi, ditambah mulai bangkitnya lagi bisnis sepak bola dan bakal penuhnya stadion mulai laga pertama sampai terakhir, sepak bola Eropa akan kian atraktif karena sepak bola menyerang menjadi pemandangan umum di stadion-stadion seantero Eropa.

Di antara faktor besar yang turut menciptakan atmosfer itu adalah semakin banyak tim yang menerapkan pendekatan yang diambil Klopp dan Guardiola, tidak hanya sesama klub elite, tetapi juga klub-klub biasa yang suatu saat nanti bisa menjadi tim yang luar biasa.

Baca juga: Lewandowski akan tetap bertahan di Bayern Muenchen, kata presiden klub

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel