Membongkar Proyek Revitalisasi Trotoar Margonda Depok, Benarkan Asal-asalan?

Merdeka.com - Merdeka.com - Proyek revitalisasi trotoar di Jalan Margonda, Kota Depok dikeluhkan banyak warga. Selain menyebabkan semakin parahnya kemacetan, juga semakin menyulitkan pejalan kaki lantaran trotoar yang dibongkar. Belum lagi di beberapa ruas yang sudah selesai dikerjakan, justru dipakai parkir kendaraan.

Di sosial media, kritikan hingga protes membanjiri kolom komentar sebuah unggahan foto yang menampilkan beberapa ruas Jalan Margonda. Proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut pun dikesankan sebagai asal-asalan.

Penataan trotoar Margonda saat ini sudah sebagian terlihat hampir selesai. Proyek revitalisasi trotoar ini terbagi dalam tiga segmen. Segmen I dimulai dari Jalan Dahlia sampai Masjid Ramanda sepanjang kurang lebih 800 meter dan segmen III.

Total panjang trotoar segmen III yang direvitalisasi sepanjang 4,8 km dengan lebar 4 meter. Sedangkan untuk I, lebar trotoar hanya 3 meter. Untuk segmen III lebih lebar karena akan ada aksesoris yang digunakan seperti bangku, bola-bola dan lampu.

"Konsepnya yang etnik, futuristik dan Instagramable. Jadi nanti right of way (ROW) nya kita lebarkan 4 meter, kemudian ada penerangan jalan umum (PJU) etnik juga," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Citra Indah Yulianty baru-baru ini.

Lampu etnik nantinya akan dipasang. Kemudian juga trotoar dilengkapi dengan bangku. Selain itu juga akan dilengkapi dengan jalur sepeda dan jalur khusus disabilitas. "Lampu dan bangku dipasang tiap 20 meter. Akan ada jalur sepeda dan khusus disabilitas," ujarnya.

Revitalisasi trotoar Margonda sudah berlangsung sejak 6 September dan ditargetkan selesai 16 Desember. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp23,5 miliar.

"Masa pengerjaan 102 hari kalender. Selesai 16 Desember 2022, mudah-mudahan sih awal Desember sudah selesai sebelum kontrak berakhir," ujarnya.

Revitalisasi trotoar Margonda yang dilakukan sekarang menggunakan teknik berbeda dengan sebelumnya. Kali ini menggunakan metode steam concrete, sehingga memang dilakukan pembongkaran pada trotoar lama secara bersamaan di sepanjang Margonda.

"Sekarang kan sudah ngga menggunakan ubin lagi. Kemudian untuk ketinggian (trotoar) dulu kan 30 cm, sekarang kita ketinggian lebih rendah lagi 20 cm karena kan bisa digunakan untuk yang bersepeda," ungkapnya.

Penggunaan metode steam concrete dilakukan dengan tahapan pengecoran terlebih dulu. Setelah itu baru diberi motif. "Motifnya juga langsung ya sebelum menunggu kering coran. Jadi makanya memang kita bongkarnya tidak bisa sebagian-sebagian, karena coran itu kan harus sekaligus habis," katanya.

Diakui dia, dengan pembongkaran secara keseluruhan ini banyak dikeluhkan warga pengguna jalan. dia pun meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut. Dia pun meminta warga untuk bisa bersabar dan memahami dampak pengerjaan proyek tersebut.

"Jadi kita bukan tidak menghormati pengguna jalan, karena ini akan dilebarkan lagi dari kondisi esisting kemarin. Jadi mohon untuk bersabar, mudah-mudahan sebelum 16 Desember kita sudah selesai pengerjaannya. Jadi Insya Allah kalau sudah cakep warga juga nyaman, bisa foto-foto karena instagramable seperti di kota lain bisa berfoto ria, nyaman, dan ada kursi-kursinya juga," ujarnya.

Dikaitkan dengan Kisruh Relokasi SDN Pondok Cina 1

Dampak dari revitalisasi trotoar ini ternyata banyak dikeluhkan warga. Di antaranya oleh wali murid SDN Pondok Cina 1 Depok. Pasalnya, akses masuk ke sekolah menjadi sulit akibat trotoar yang ditinggikan.

Siswa sudah diminta untuk melakukan belajar dari rumah (BDR) sejak 7-11 November. Namun masih banyak siswa yang datang untuk belajar di sekolah. Sejumlah wali murid pun memprotes kebijakan yang dianggap minim sosialisasi. Bahkan sempat beredar video yang berisi bahwa akses masuk sekolah tertutup proyek trotoar. Tidak pelak, proyek tersebut terkesan asal-asalan.

"Ya Allah jalanan ke sekolah aja ditutup coba? Gimana coba anak-anak mau masuk sekolah separah inikah sekolah? Ini sekolah loh masih berjalan loh masa jalanannya ditutup," kata seorang wanita yang merekam video tersebut, Kamis (10/11).

Menurut Citra, pembangunan tersebut mengikuti DED yang sudah ada karena di lokasi tersebut akan dibangun Masjid Agung.

"Proses pembangunan trotoar sudah sesuai dengan arahan Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Depok. Kenapa kami meninggikan trotoar tersebut? Karena memang sesuai arahan dari Dinas Rumkim bahwa itu sesuai dengan gambar DED yang ada. Jadi nanti keluar masuk mobil itu dari sisi Margonda," katanya.

Kendati demikian, Citra meminta maaf atas kekisruhan yang dikaitkan dengan proyek pengerjaan trotoar tersebut. Terkait dengan relokasi sekolah pun kata dia, sudah dikoordinasikan dengan pihak Dinas Pendidikan Kota Depok.

"Sebelumnya atas nama dinas PUPR, kami minta maaf dengan adanya kekisruhan yang terjadi. Yang pasti di sana memang ada rencana dari Pemerintah Kota Depok untuk merelokasi untuk masalah masjid," ujarnya.

Rencana relokasi kata dia, sudah ada sejak tahun 2016. Hanya saja dulu di lokasi tersebut akan dibuat ruang terbuka hijau, kemudian sekarang akan dibangun masjid. Sosialisasi mengenai hal tersebut kata Citra sudah dilakukan sejak 3 November melalui surat edaran yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Kota Depok.

"Itu sudah disosialisasikan dari kepala sekolah kepada orang tua murid. Jadi menurut informasi yang kami peroleh, semua sudah diinfokan. Kami meninggikan trotoar itu juga sebenarnya kami hold dari hari Sabtu karena kami menunggu koordinasi dari dinas Rumkim dan Disdik," ujarnya.

Pada Rabu (9/11), proyek revitalisasi trotoar di depan SDN Pondok Cina 1 sempat diprotes orang tua siswa. Pasalnya dengan adanya kegiatan pembangunan tersebut, sejumlah siswa yang hendak berjalan si sekolah, jadi terhambat. Pihak Dinas PUPR Kota Depok mengklaim bahwa kegiatan pembangunan trotoar tersebut sudah disosialisasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Depok kepada pihak sekolah. Selanjutnya pihak sekolah pun telah melakukan sosialisasi kepada para orangtua siswa dan mewajibkan para siswa untuk belajar di rumah.

Gandeng TNI Polri untuk Awasi Trotoar

Wali Kota Depok Mohammad Idris berencana menggandeng TNI-Polri untuk mengawasi kawasan trotoar di Jalan Margonda. Alasannya, agar trotoar tidak disalahgunakan sebagai lokasi jualan dan parkir liar. Harapannya, trotoar menjadi tertib. Karena jika hanya dijaga oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat ini jumlahnya masih terbatas. "Nah kami juga akan arahkan kerja sama dengan TNI Polri," kata Idris.

Ditegaskan, untuk mengawasi trotoar Margonda harus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, usulan menggandeng TNI-Polri diperbolehkan secara aturan. "Ternyata selama ini kan boleh dengan MoU. Dengan Pangdam nanti diturunkan ke Kodim dengan tentara, kita bisa MoU PKS (perjanjian kerja sama) dalam satu kegiatan tertentu untuk kontrol," akunya.

Idris menuturkan, saat ini, kata dia, jumlah petugas Satpol PP Kota Depok saat ini masih kurang. Karena petugas banyak melakukan kegiatan lainnya. "Jadi nanti bisa pakai mereka petugas-petugas itu. Termasuk yang lainnya," katanya.

Diminta Lapor dan Posting di Sosmed

Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono mengaku sangat sedih warganya masih belum semua tertib. Terlihat dari masih banyak pengendara yang menggunakan trotoar sebagai lokasi parkir. Padahal trotoar direvitalisasi untuk kenyamanan pejalan kaki.

"Ya saya sangat sedih ya, kepada masyarakat yang memanfaatkan trotoar untuk kepentingan pribadinya baik untuk parkir, untuk dagang, apalagi trotoarnya baru dibetulin. Kasihan masyarakat pejalan kaki di lingkungan trotoar itu harus bersaing dengan motor dan mobil, maka saya imbau agar seluruh masyarakat, pertama agar tak menggunakan trotoar sebagai parkir dan bisnis," katanya.

Imam meminta jika ada yang melihat pengguna kendaraan memarkir di trotoar, agar dilaporkan. Bahkan dia meminta agar diunggah di sosial media. "Untuk yang melihat tolong kasih tahu, kerja sama dengan kami, bisa dimasukin ke media sosial, juga beritahu dengan baik agar tak menggunakan trotoar yang sudah kita bangun," ujarnya.

Dia pun berharap agar warga bisa memahami fungsi trotoar yang seharusnya. Pemkot Depok merevitalisasi trotoar dengan tujuan memberikan ruang untuk pejalan kaki, bukan untuk jualan atau sebagai lokasi parkir.

"Kemarin saya sudah mulai mengawasi, maka sudah dievaluasi juga hal tersebut. Mudah-mudahan ini enggak berlarut. Kami punya filosofi, ketika trotoar dibangun itu untuk orang jalan, bukan untuk dagang dan parkir," ujarnya.

Dirinya memang mengakui saat ini belum ada kantong parkir yang di Margonda. Namun kalau memang warga mau, mereka bisa memarkir kendaraan di area Balai Kota Depok. Sehingga warga bisa jalan kaki ke Margonda.

"Pemkot belum menyediakan kantong parkir, kalau mau parkir karena trotoar sudah bagus maka kita sediakan parkir di Pemda. Tinggal jalan kaki, kita ingin mengajak warga sehat dengan berjalan kaki. Kita ingin menumbuhkan ekonomi warga dengan banyaknya orang berjalan kaki di sepanjang jalan Margonda," tukasnya.

Terkait ketersediaan kantong parkir, sambung Imam, pihaknya akan melakukan rapat untuk membahas hal tersebut. Sekali lagi dia menegaskan, pelaku usaha di Margonda yang tidak memiliki area parkir jangan sampai menggunakan trotoar sebagai alternatifnya.

"Ya nanti kita akan rapat, soal dilarang parkir dan berhenti. Bagi toko yang tidak mempunyai area parkir, jangan menggunakan trotoar sebagai tempat parkir, itu bukan tujuan dibangunnya trotoar," pungkasnya. [cob]