Membuat Film, Media Terapiku untuk Menjadi Lebih Baik

·Bacaan 1 menit

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Linda Nursanti

Lima tahun lalu aku masih anak kuliahan yang pemalu, pemurung, dan tidak punya mimpi. Aku sadar akan kekuranganku dan aku ingin berubah. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kadang aku merasa iri dengan teman-teman yang mempunyai mimpi. Kadang aku juga menyesali masa laluku yang buruk. Aku selalu menyalahkan keadaan.

Tapi aku sadar hidupku adalah tanggung jawabku. Daripada menyesali keadaan, lebih baik berdamai dengan masa lalu dan berbuat sesuatu untuk masa depan lebih baik.

Tanpa kusadari, film dokumenter menjadi media terapiku untuk berubah. Dengan membuat film aku mendorong diri untuk terbuka dengan orang lain, berinteraksi dengan banyak orang, banyak belajar dari pengalaman hidup mereka. Dan akhirnya aku menemukan mimpiku, menjadi filmmaker dokumenter.

Tugas Akhir Kuliah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/xmee
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/xmee

Aku membuat film dokumenter panjang pertamaku "Lakardowo Mencari Keadilan" untuk tugas akhir kuliah. Tidak disangka filmku diapresiasi di banyak film festival dan berdampak besar di masyarakat. Hal ini membuatku ingin terus berkarya.

Kenyataan ini membuatku menyadari aku bisa membantu orang lain dengan kemampuanku. Yang kupikir awalnya film hanya menjadi sebuah hiburan semata. Lulus kuliah aku mengurungkan niatku untuk mencari kerja di Jakarta.

Aku pulang ke desa, usaha telur puyuh bersama keluarga suamiku agar bisa terus berkarya membuat film dokumenter, menjadi Super Lady Boss di rumah dan bisa selalu dekat dengan keluarga.

#ChangeMaker