Membumikan Tipe Kepemimpinan Profetik di Indonesia

Syahdan Nurdin, alweebee
·Bacaan 2 menit

VIVA – Rasulullah dan para nabi adalah sosok manusia yang bisa dijadikan tauladan dalam hal kepemimpinan. Selain merupakan sosok yang terjaga (iffah), setiap langkah yang dilakukan mereka selalu dibimbing oleh Wahyu. Itulah mengapa semua nabi memiliki seni yang bagus dalam memimpin.

Meskipun demikian, dalam teori kepemimpinan ada tiga hal yang mendasari seseorang menjadi pemimpin. Pertama, pemimpin yang dilahirkan. Ini dapat kita temui di negara yang menganut sistem monarki. Seorang raja akan melahirkan pangeran. Sang pangeran menjadi pemimpin, sejak ia dilahirkan.

Kedua, pemimpin itu dibentuk atau diciptakan. Ia bukan anak dari seorang raja, namun memiliki kemampuan dalam memimpin karena faktor lingkungan atau sosial. Misalnya dapat kita temui di dalam organisasi yang memilih pemimpin secara demokratis.

Ketiga, teori sintesis atau memadukan antar keduanya. Ia dilahirkan dari seorang yang berpengaruh atau memiliki kepemimpinan baik dan juga terlatih dan terbentuk di lapangan.

Jika mengacu pada teori tadi, setiap orang bisa menjadi pemimpin. Meski memang pada dasarnya manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw yang mengatakan setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.

Dalam konteks bernegara, tentunya pemimpin menjadi satu hal yang biasa dan terlihat di ruang ruang publik. Setiap orang memiliki keinginan dan berlomba lomba untuk mencari banyak suara agar terpilih menjadi seorang pemimpin. Posko posko kepemimpinan di Indonesia sangatlah kompleks.

Indonesia tidaklah kekurangan pemimpin. Indonesia hanya kekurangan orang yang memiliki tipe kepemimpinan profetik. Seperti yang kita ketahui, tipe kepemimpinan itu ada banyak sekali.

Ada demokratik, karismatik, fathernalistik, militeristik, dan lain lain. Namun apapun bentuk atau tipe kepemimpinan secara condongnya, tidaklah boleh keluar dari batasan batasan yang berlaku. Maka untun hal ini, nampaknya Indonesia perlu menekankan tipe kepemimpinan profetik.

Profetik berasal dari kata profet yang artinya nabi. Kepemimpinan profetik berarti kepemimpinan tipe kenabian. Meskipun nabi sudah tidak ada, setidaknya semangat dalam memimpin tertanam dalam jiwa umatnya.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa nabi memiliki sifat wajib yang ada dalam diri mereka yakni siddiq, amanah, tabligh, fathonah. Keempat sifat tersebutlah yang mesti dimiliki oleh setiap pemimpin.

Karena hal tersebut menjadi modal dasar bagi seorang pemimpin menciptakan kemakmuran dan kebijakan yang memihak pada rakyat. Tanpa itu, pemimpin hanya akan dijadikan alat bagi orang jahat untuk meraup keuntungan sebesar besarnya.

Sekolah kepemimpinan di Indonesia sudah banyak sekali. Namun output yang dihasilkan harusnya adalah bagaimana mencetak kader yang memiliki karakter kepemimpinan umat dan bangsa. Tentu hal tersebut harus didasari pada sifat sifat nabi yang empat. Ini bersifat wajib, mutlak. Tidak ada lagi tawar menawar dalam empat sifat ini.

Barulah Indonesia akan menemukan kemakmuran dan keadilannya saat seluruh pemimpin menerapkan tipe kepemimpinan profetik ini.

(Alwi Husein Al Habib, Ketua Umum HMI Korkom Walisongo 2019/2020, Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang dan Pengurus BPL HMI Cabang Semarang)