Memenuhi Kebutuhan Hidup tanpa Kerja Kantoran, Berat tapi Kuyakin Rezeki Selalu Ada

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

TERKAIT: Ibu Rumah Tangga yang Terampil, Tak Gampang Panik saat Suami Dirumahkan

TERKAIT: Mengatur Uang sebagai Pekerja Lepas, Ini 3 Strategi yang Kuterapkan

TERKAIT: Kelalaian Pakai Kartu Kredit, PHK, dan Bangkit dengan Usaha Sendiri

***

Oleh: Wulandari

Dalam hidup, kita kadang dihadapakan pada keadaan yang cukup sulit untuk dijalani. Misalnya terpaksa berhenti bekerja karena perusahaan tempat kerja harus gulung tikar. Itulah yang saya alami tiga tahun silam.

Berhenti bekerja dengan pesangon yang tidak banyak membuat saya cukup bingung untuk melangkah. Satu-satunya yang terpikir saat itu adalah dengan mencari pekerjaan baru. Sayangnya, dengan usia yang sudah menginjak kepala tiga, tak banyak perusahaan yang bersedia menerima saya untuk bekerja. Lamaran pekerjaan berakhir hanya sebatas wawancara tanpa hasil apa pun. Banyak sudah uang yang keluar untuk menyiapkan lamaran dan biaya transportasi ke sana kemari. Sementara biaya untuk kebutuhan sehari-hari juga terus berjalan.

Berhari-hari di rumah juga menimbulkan kebosanan hingga pada suatu hari saya memutuskan untuk melamar menjadi pengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) di masjid dekat rumah. Saya pikir jika saat ini saya belum mendapatkan pekerjaan atau penghasilan setidaknya saya mau beramal. Jangan sampai saya menjadi orang yang tidak berguna yang menghasilkan uang tidak, pahala juga tidak. Akhirnya saya mangajar di TPA, dan dari TPA saya juga mendapat honor yang memang tidak untuk dibandingkan dengan penghasilan ketika bekerja kantoran.

Mencari Penghasilan dengan Mengajar

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Di masa-masa awal menganggur dan mengajar TPA, kondisi keuangan masih cukup stabil. Biaya kebutuhan bulanan juga masih bisa tercukupi. Saya juga sangat berhati-hati dalam menggunakan uang. Apalagi saya juga diberikan kenaikan honor sebagai pengajar di TPA sambil terus melamar pekerjaan ke sana kemari. Namun ada saja hal tak terduga yang terjadi. Belum genap satu tahun saya mengajar, pandemi Covid-19 merebak.

Hal ini membuat saya tak berkutik lagi dan berhenti total dari aktivitas mencari pekerjaan. Bahkan kegiatan belajar mengajar di TPA juga dihentikan sehingga semua pengajar tidak mendapatkan honor. Awalnya saya cukup khawatir karena saat itu sudah memasuki bulan Ramadan dan kebutuhan bulanan biasanya meningkat apalagi menjelang hari raya Idul Fitri.

Tapi, Allah selalu saja punya jalan untuk hamba-Nya. Di hari pertama Ramadahan saya pergi keluar rumah, membeli makanan pembuka untuk berbuka puasa. Tapi, di masa pandemi yang mewajibkan kita untuk tetap di rumah membuat saya kesulitan untuk mencari penjual makanan.

Keesokan harinya saya memutuskan untuk membuat kue sendiri dan tiba-tiba saja terlintas ingin mengunggah foto makanan yang saya buat di status Whatsapp. Seorang teman berkomentar dan minta dibuatkan, dan berkat bantuan promosi dari teman saya akhirnya selama Ramadan saya berjualan kue. Dengan begitu kebutuhan selama Ramadan hingga Idul Fitri bisa terpenuhi dengan baik.

Namun, tidak semua yang saya alami berakhir manis. Di tengah situasi pandemi yang semakin memburuk, kondisi lemari pakaian saya pun ikut memburuk. Lemari yang memang sudah cukup tua, awalnya masih mau saya pertahankan karena tabungan yang saya miliki sudah semakin menipis. Tapi, apalah daya, saat digeser, lemari tua itu jebol dan tak terselamatkan lagi. Ketika saya memutuskan untuk membeli lemari baru secara online saya malah kena tipu dan uang saya raib begitu saja. Alhasil saya harus mengelurkan uang lagi untuk membeli lemari baru.

Selain lemari, handphone juga harus diganti karena sudah tak lagi bisa mendukung kebutuhan saya untuk berkomunikasi dan mengerjakan beberapa hal.

Menjemput Rezeki

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Itulah sedikit cerita tentang saya dan uang. Meski sangat memprihatinkan tapi saya tetap bersyukur karena saya belajar banyak hal dari situasi ini.

Pertama, uang adalah sesuatu yang sangat mudah untuk habis. Sebijak dan sehemat apa pun kita dalam mengelolanya tetap saja ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa kita hindari. Misalnya saja untuk mengganti peralatan rumah tangga, membayar pajak kendaraan, atau membeli handphone. Jadi, kita harus siap untuk itu. Selain mencatat biaya rutin bulanan, kita juga harus mengalokasikan dana untuk kebutuhan tersebut dan menyimpannya untuk bisa digunakan saat dibutuhkan.

Kedua, uang tidak hanya berasal dari satu sumber. Maka kita harus pandai-pandai memanfaatkan keahlian atau mengasah kemampuan kita dalam berbagai hal. Contohnya ketika harus berhenti bekerja, saya memutuskan mengajar TPA karena saya sudah sering mengajar anak-anak semasa saya kuliah.

Bisa juga dengan mengikuti kursus memasak atau belajar berkebun tanaman hias yang saat ini sedang diminati atau keterampilan apa saja yang kita sukai. Maka ketika kondisi keuangan cukup lapang, jangan segan untuk belajar hal baru atau meningkatkan kemampuan yang sudah ada dengan mengikuti kursus, pelatihan atau bergabung dalam suatu komunitas.

Ketiga, uang juga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Di tempat tinggal saya ada suatu wadah yang bergerak dalam kegiatan mengumpulkan dana musibah kematian. Ada iuran tahunan dan dan iuran per musibah yang wajib dibayarkan oleh anggota, dan selama pandemi Covid 19 biaya yang harus dikeluarkan cukup lumayan sebab banyak sekali yang meninggal dunia.

Oleh sebab itu saya harus memiliki budget untuk kegiatan sosial kemasyarakatan karena di sana ada azaz saling tolong menolong, ada ikatan persaudaraan dan kekeluargaan antara kita dengan tetangga dan warga sekitar. Selain itu undangan yang juga terus berdatangan menjadi catatan saya untuk tak lupa menyiapkan dana untuk membeli kado atau mengisi amplop bagi yang mengundang.

Beberapa bulan ini saya memisahkan tabungan saya menjadi dua, yaitu tabungan untuk kebutuhan jangka pendek dan tabungan untuk kebutuhan jangka panjang. Karena penghasilan saya masih pas pasan saya masih membaginya sama rata.

Jadi setiap kali mendapatkan penghasilan, yang pertama saya lakukan adalah menyiapkan dana untuk kebutuhan rutin. Agar kebutuan rutin ini tak salah sasaran saya telah membuat catatan belanja per satu bulan dan per dua bulan sebab ada kebutuhan saya yang habis dipakai per dua bulan seperti skincare. Setelah itu saya menyiapkan uang untuk tabungan kebutuhan jangka panjang dan jangka pendek. Dan setelahnya saya menyiapkan dana untuk infak dan kegiatan sosial.

Saya selalu berharap agar semua hal yang saya usahakan mendatangkan hasil yang barokah. Uang memang bukan satu-satunya rezeki dari Allah, ada banyak yang patut kita syukuri meski tak bergelimang harta. Namun demikian kita harus tetap berusaha agar kita bisa memenuhi kebutuhan kita dengan jalan yang halal, berdo'a dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wata'ala, sebab uang tak akan begitu saja jatuh dari langit. Perlu usaha dan doa agar apa yang kita butuhkan bisa terpenuhi dengan baik, insya Allah.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel