Memey, Hafidzah yang Kehilangan Tangan Kirinya

Syahdan Nurdin, pppadaqu
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gadis cilik itu bernama Meysa Widia, anak perempuan berusia tujuh tahun yang dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin menghafal Al Qur’an. Saat ini Memey, begitu Meysa Widia dipanggil, duduk di bangku kelas satu SD Negeri Ciwangi, Sukabumi. Memey adalah putri ketiga dari pasangan Muhammad Darin (40) dan Wiwin (35). Ayah Memey juga dikenal sebagai seorang guru ngaji.

Qodarulloh, beberapa waktu yang lalu Memey mengalami nasib malang, gadis cilik nan ceria itu mendapatkan ujian dari Sang Kholiq. Memey harus kehilangan tangan kirinya.

Ya, Memey mendapat musibah terjatuh dari saluran air setinggi satu meter, dan posisi jatuh Memey membuat tangan kirinya terlipat karena menopang beban tubuhnya saat terjatuh dan mengakibatkan tangan kirinya patah. Kejadian ini membuat keluarga Memey bersedih.

Memey dibawa oleh keluarga ke tempat pengobatan alternatif, semacam ahli urut patah tulang, yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya di Kampung Rancaseel, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Setelah selesai berobat, tangan Memey hanya ditutup dengan kain dan diikat dengan karet. Namun, karena tidak diobati dengan cepat setelah 5 hari peristiwa itu, Memey merasakan sakit.

Miris, setelah dibuka penutup kain ditangan kirinya, ternyata tangan Memey memar, dan terlihat gosong seperti bekas terbakar karena membusuk dari mulai bawah siku hingga ke jari-jari tangannya, yang kemudian menyebabkan tangan kiri Memey terlepas atau putus dengan sendirinya. Kini, tangan kiri Memey telah dikuburkan.

Namun, hal yang patut kita contoh dari Memey adalah ia tak menampakkan kesedihan seikitpun. Sejak saat kondisi lengannya membusuk, Memey tetap tidak mengeluh, ia terlihat tegar dan tak pernah mengeluhkan kondisinya sekarang ini. Bahkan selama sakit, Memey berjuang untuk kembali membangkitkan kepercayaan dirinya dengan mengaji, juga mulai menghafal Al-Qur’an dan Asmaul Husna.

Atas izin Allah, pada Ahad (8/11) lalu PPPA Daarul Qur’an Bogor dapat berkunjung ke kediaman Memey. ”Memey ikhlas, semoga tangan Memey yang dikuburkan itu menunggu Memey di pintu surge,” ucap Memey sambil tersenyum kepada PPPA Daarul Qur’an Bogor.

PPPA Daarul Qur’an Bogor juga berkesempatan berbincang dengan ayahnya, yang akrab disapa Ustadz Darin. Diketahui, dari pekerjaannya sebagai guru ngaji, Ustadz Darin mendapatkan penghasilan sekitar dua ratus ribu per bulan. Jumlah itu ia dapatkan dari mengajar mengaji di majelis ibu-ibu dan madrasah, juga mengajar mengaji anak-anak di kediamannya.

Ustadz Darin menyampaikan bahwa yang selama ini dilakukannya bersama keluarga adalah bersyukur agar selalu ditambahkan kenikmatan, dan Memey adalah salah satu bentuk nikmat yang Allah berikan. “Memey itu anak ketiga, bungsu, Alhamdulillah kecintaannya terhadap Al-Qur’an begitu besar. Ingin jadi hafidzoh katanya, bahkan saat tangannya sakit kemarin itu juga tetap memegang dan semangat hafalan Qur’an. Alhamdulillah sudah menyelesaikan hafalan juz 30,” tutur Ustadz Darin.

Ustadz Darin tengah berusaha mewujudkan harapan Memey yang menginginkan tangan palsu. Ya, saat ini Memey kecil ingin sekali mempunyai tangan palsu, ia pun menabung agar bisa mendapatkan tangan paslu tersebut. Semoga Allah mengizinkan untuk Memey memiliki tangan palsu seperti yang diinginkannya. Yang ingin membantu bisa mengunjungi sedekahonline.com/campaign/view/tanganpalsuuntukmemey. Amin