Memori Indah Hanafing, Usia 18 Tahun Membela Niac Mitra dan Jadi Idola Seisi Stadion Tambaksari

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Aksi Hanafing sebagai penyerang sayap pernah mewarnai pentas sepak bola tanah air pada era 1980 sampai awal 1990-an. Bersama Niac Mitra, pria berdarah Makassar ini dua kali meraih trofi juara kompetisi Galatama pada musim 1982-1983 dan 1987-1988. Ia pun menjadi bagian dari skuat tim nasional Indonesia ketika meraih medali emas cabang sepak bola di Sea Games Manila 1991.

Dalam channel YouTube Omah Balbalan, Hanafing yang kini lebih aktif sebagai instruktur pelatih ini menceritakan perjalanan panjang kariernya di sepak bola yang dimulai ketika memperkuat tim Sulawesi Selatan pada Kejurnas antar pelajar 1979. Dari ajang itu, namanya terpantau untuk masuk dalam program Diklat Ragunan angkatan pertama.

"Tapi, saya tak lama di Diklat Ragunan. Kebetulan pada waktu yang sama ada panggilan dari PSM Junior," kenang Hanafing.

Di PSM Junior, bakat Hanafing sebagai penyerang berkaki kidal dan memiliki kecepatan yang tinggi kian terasah dibawah penanganan Suwardi Arlan, legenda Juku Eja dan timnas Indonesia. Dari PSM Junior, Hanafing memperkuat Bima Kencana, klub Makassar yang bermain di Divisi Dua Galatama.

"Waktu itu, saya masih duduk di bangku SMEA Makassar," ungkap Hanafing.

Peruntungan Hanafing di sepak bola kian terbuka ketika Bima Kencana tampil di level elite Galatama, di mana pada satu momen, Bima Kencana bertandang ke Surabaya menghadapi Niac Mitra, klub elite Galatama yang bermarkas di Stadion Tambaksari. Di mata manajemen dan pelatih Niac Mitra, Hanafing dinilai tampil baik pada laga itu.

Menurut Hanafing, ia termotivasi tampil optimal setelah melihat penonton yang membludak di Stadion Tambaksari. "Terus terang saat itu saya sempat merinding melihat stadion yang dipenuhi penonton. Tapi, sebagai anak Makassar, saya justru semakin tertantang untuk menunjukkan kemampuan terbaik saya."

Bima Kencana akhirnya takluk dengan skor 0-1. Tapi, Agustinus Wenas, pemilik Niac Mitra, yang sudah kepincut dengan penampilan Hanafing langsung mengutus Pelatih M. Basri untuk menemui Aryantomo Andi Lolo, bos Bima Kencana. Sejatinya, pada waktu yang bersamaan, ada juga tawaran dari Ronny Pattisarani yang mengajak Hanafing untuk bergabung di Tunas Inti, klub elite Galatama lainnya.

Tapi, setelah berdiskusi dengan Aryantomo, Hanafing kemudian memilih Niac Mitra sebagai pelabuhan berikutnya. Apalagi selain M. Basri sebagai pelatih, di Niac Mitra juga ada sejumlah pemain asal Makassar seperti Dullah Rahim, Yusuf Malle dan Hendrik Montolalu.

Tekad Hanafing ke Surabaya kian kuat setelah membaca berita di Harian Fajar, media lokal Makassar yang menulis ketertarikan Niac Mitra.

"Bisa bergabung bersama klub sebesar Niac Mitra jadi kebanggaan tersendiri buat saya yang waktu itu masih berusia 18 tahun dan baru lulus dari bangku SMEA," terang Hanafing yang mendapat gaji pertama sebesar Rp75 ribu per bulan.

Idola Stadion Tambak Sari

Sebagai pemain muda, Hanafing tak langsung menjadi pemain starter pada musim pertamanya di Niac Mitra. Di posisinya sebagai penyerang sayap kiri saat itu masih ada seniornya Dullah Rahim. Tapi, motivasi Hanafing tetap terjaga.

"Bagi saya, persaingan dalam tim adalah hal biasa. Masuk dalam tim utama saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri," terang Hanafing.

Meski belum menjadi pemain inti, nama Hanafing selalu masuk dalam line-up Niac Mitra baik di laga kandang mau pun tandang. Pada momen itu, julukan supersub melekat pada Hanafing.

Ketika dimainkan di pertengahan babak kedua, penampilan skuad M. Basri lebih agresif. Pada satu laga, Hanafing mencuri perhatian publik Stadion Tambaksari ketika mencetak dua gol kemenangan Niac Mitra atas Arseto Solo yang bermaterikan sejumlah peman timnas Indonesia, termasuk mendiang Ricky Yakobi.

"Saya baru masuk di babak kedua dan mencetak dua gol. Berkat penampilan itulah, publik Stadion Tambaksari sering meneriakkan nama saya kala Niac Mitra berlaga," papar Hanafing.

Hanafing pun kemudian mulai mendapat tempat di formasi starter pada akhir musim pertamanya di Niac Mitra. "Publik sepak bola Surabaya sama saja dengan Makassar. Kalau tampil bagus, pasti jadi idola. Begitu pun sebaliknya. Itulah mengapa, saya selalu berusaha keras tampil optimal untuk menghibur pendukung Niac Mitra."

Video