Memori Pahit Tangis Paul Gascoigne dan Rakyat Inggris di Piala Dunia 1990

Bola.com, Jakarta - Sebelum generasi David Beckham hingga Wayne Rooney, ada pemain Timnas Inggris yang ikonik. Dia adalah Paul Gascoigne. Ia sosok yang spesial, karena punya gaya yang berbeda dengan rata-rata pesepak bola asal Inggris.

Pemain yang kerap disapa Gazza ini sedikit dari pemain asal Negeri Tiga Singa yang punya kemampuan olah skill di atas rata-rata. Ia doyan memegang bola dan meliuk-liuk bak seniman sepak bola asal Amerika Latin. Buat publik sepak bola Inggris hal itu fenomena langka.

Di balik kejeniusannya Gazza juga dikenal sebagai sosok tempramental. Ia kerap terlibat keributan di luar lapangan, dan sering juga terbawa ke lapangan. Hobi pesta di kehidupan malam jadi sorotan media-media Inggris.

Namun, sosok Bobby Robson pelatih Timnas Inggris tahu benar dengan bakatnya yang luar biasa, ia sangat membutuhkan jasa Paul Gascoigne di Piala Dunia 1990.

Pada Piala Dunia yang berlangsung di Italia ini, menjadi momen yang bakal dikenang publik sepak bola Inggris. Dalam turnamen ini, Three Lions menampilkan performa terbaik sejak mereka juara Piala Dunia 1966.

Yuk kita nostalgia aksi Paul Gascoigne yang ikonik di Piala Dunia 1990.

Miskin Kemenangan di Penyisihan Grup

Inggris kesulitan menang pada babak penyisihan grup Piala Dunia 1990. Mereka hanya bermain imbang 1-1 pada laga pertamanya melawan Republik Irlandia.

Kemudian Paul Gascoigne dkk juga hanya bermain imbang 0-0 melawan Belanda di laga keduanya. Three Lions akhirnya berhasil menang tipis 1-0 saat menghadapi Mesir di laga terakhirnya.

Meski demikian, Inggris menjadi juara grup dan berhak lolos ke babak sistem gugur. Mereka kemudian mencapai laga semifinal usai menang dari Belgia (16 besar) dan Kamerun (perempat final) yang keduanya melalui babak perpanjangan waktu.

 

Kartu Kuning Pemicu Tangis

Ekspresi kiper Inggris, Peter Shilton (kiri), setelah gagal mencegah tendangan bek Jerman Andreas Brehme pada Piala Dunia 1990. (AFP/Bob Pearson)
Ekspresi kiper Inggris, Peter Shilton (kiri), setelah gagal mencegah tendangan bek Jerman Andreas Brehme pada Piala Dunia 1990. (AFP/Bob Pearson)

Pada laga semifinal Piala Dunia 1990 melawan Jerman, Gascoigne tampil penuh dengan semangat bagi Inggris. Sayangnya penampilan 110% ini membuatnya melakukan pelanggaran kepada Lothar Matthaus.

Usai melakukan pelanggaran Gazza sempat jongkok untuk melihat kondisi Matthaus. Dia lalu berdiri dan melihat wasit telah ada di hadapannya lalu mengambil kartu kuning dari sakunya.

Setelah wasit mengeluarkan kartu kuning, terlihat Gazza nampak menangis. "Pada saat itu saya hanya ingin ditinggal sendirian, saya tidak ingin berbicara dengan siapa pun atau melihat siapa pun," ujar Gascoigne.

 

2 Kartu Kuning

Bintang timnas Inggris, Paul Gascoigne, usai mencetak gol ke gawang Skotlandia, pada penyisihan Grup A Piala Eropa 1996, di Stadion Wembley, 15 Juni 1996. (UEFA).
Bintang timnas Inggris, Paul Gascoigne, usai mencetak gol ke gawang Skotlandia, pada penyisihan Grup A Piala Eropa 1996, di Stadion Wembley, 15 Juni 1996. (UEFA).

Gazza menangis bukan tanpa sebab meski dia hanya mendapat kartu kuning. Namun itu adalah kartu kuning kedua baginya di turnamen ini.

Sebelum melawan Jerman, dia telah mendapatkan kartu kuning saat menghadapi Belgia di 16 besar. Hal ini tentu saja berarti dia tidak akan bermain di laga final Piala Dunia karena hukuman akumulasi kartu kuning.

"Dia (wasit) pergi untuk sakunya. Tiba-tiba aku tidak bisa mendengar apa-apa. Dunia terasa berhenti dan bibir bawah saya seperti landasan helikopter," kata Gazza.

 

Absen di Final

Bryan Robson kapten Inggris juga mengaku sangat sedih melihat anak-asuhnya mendapat kartu kuning. "Hati saya tenggelam saat wasit mengeluarkan kartu kuning," kata gelandang yang kala itu bermain di Manchester United.

"Karena saya langsung menyadari, Paul Gascoigne tidak akan bermain di final. Dan itu adalah tragedi-baginya, saya, tim, negara, seluruh sepakbola. Karena dia sangat bagus, dan dia luar biasa dalam pertandingan," sambungnya.

Di sisi lain, striker Inggris, Gary Lineker meminta rekan-rekannya mengawasi Gazza. Dia khawatir jika Paul Gascoigne sewaktu-waktu mengamuk usai mendapat kartu kuning.

Kalah Adu Penalti

Kamerun. Termasuk Piala Dunia 2022, Kamerun telah lolos sebanyak 8 kali ke putaran final Piala Dunia. Dalam 7 edisi sebelumnya, 1982, 1990 hingga 2002, 2010 dan 2014 mereka hanya mampu 1 kali lolos dari fase grup, yaitu di Piala Dunia 1990 dan terhenti di babak perempatfinal usai kalah 2-3 dari Inggris lewat perpanjangan waktu usai bermain imbang 2-2 hingga waktu normal. Kamerun menjadi negara Afrika pertama yang lolos hingga babak perempatfinal di putaran final Piala Dunia. (AFP/Georges Gobet)
Kamerun. Termasuk Piala Dunia 2022, Kamerun telah lolos sebanyak 8 kali ke putaran final Piala Dunia. Dalam 7 edisi sebelumnya, 1982, 1990 hingga 2002, 2010 dan 2014 mereka hanya mampu 1 kali lolos dari fase grup, yaitu di Piala Dunia 1990 dan terhenti di babak perempatfinal usai kalah 2-3 dari Inggris lewat perpanjangan waktu usai bermain imbang 2-2 hingga waktu normal. Kamerun menjadi negara Afrika pertama yang lolos hingga babak perempatfinal di putaran final Piala Dunia. (AFP/Georges Gobet)

Kekhawatiran Lineker akhirnya tidak terjadi dan Gascoigne bermain hingga menit ke 119. Laga ini harus diakhiri dengan babak adu penalti usai kedudukan 1-1 selama 120 menit.

Lineker mencetak gol penyeimbang usai Jerman terlebih dahulu mencetak gol melalui Andreas Brehme. Gascoigne memilih untuk diganti sebagai penendang penalti karena saat itu hatinya sedang kacau.

Di sisi lain, wasit yang memimpin jalannya laga, Jos Albertus Roberto Wright mengatakan tidak ada kontroversi saat dia memberikan kartu kuning kepada Gazza. "Dia (Gazza) menghentikan lawan dari belakang dan saat itu, dia bahkan bisa diusir," ungkapnya.

 

Rakyat Inggris Bersedih

Tammy Abraham menjadi pesepak bola Inggris kedua yang mencetak gol dalam laga Derby della Capitale di Serie A setelah Paul Gascoigne (Lazio) pada 29 November 1992. (AFP/Andreas Solaro)
Tammy Abraham menjadi pesepak bola Inggris kedua yang mencetak gol dalam laga Derby della Capitale di Serie A setelah Paul Gascoigne (Lazio) pada 29 November 1992. (AFP/Andreas Solaro)

Ternyata tidak hanya Gascoigne yang menangis di laga ini. Seluruh pemain bahkan rakyat Inggris harus menangis seusai laga.

Mereka takluk 3-4 dari Jerman di babak adu penalti dan gagal ke laga final. Inggris hanya akan berlaga di perebutan tempat ketiga melawan tuan rumah Italia hingga akhirnya kalah 1-2.

Di laga final, Jerman tetap tampil superior dengan mengalahkan sang juara bertahan Argentina yang bersama Diego Maradonanya. Der Panzer menang tipis 1-0 melalui gol Andreas Brehme.

Sumber: FIFA