Memori Risdianto, Arek Pasuruan yang Sukses di Persija dan Melegenda di Timnas Indonesia

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Aksi legenda Timnas Indonesia, Risdianto sebagai striker kental mewarnai perjalanan sepak bola Tanah Air era 1970-an. Pencapaian terbaiknya adalah membawa Persija Jakarta dua kali meraih trofi juara Perserikatan pada 1973 dan 1978/1979.

Pria kelahiran Pasuruan 3 Januari 1950 ini juga menjadi tombak utama Warna Agung ketika meraih gelar Galatama edisi perdana pada 1979/1980.Risdianto juga melengkapi suksesnya bersama tim Ibukota dengan membawa DKI Jakarta dua kali meraih medali emas PON yakni pada 1973 dan 1977.

Di level tim nasional, Risdianto menjadi bagian skuat Garuda yang nyaris melenggang ke Olimpiade Montreal 1976. Sayang ambisi timnas Indonesia dikandaskan Korea Utara dalam drama adu penalti di Stadion Gelora Bung Karno, 26 Januari 1976.

Dalam channel Youtube Omah Balbalan, Risdianto mengungkap nostalgia perjalanannya di sepak bola yang dimulai dengan memperkuat tim kota kelahirannya, Persekap Pasuruan ketika usianya jelang 14 tahun.

Menariknya, pada momen itu, ia menjadi bagian dari sukses Persekap promosi ke Divisi Utama Perserikatan. Lima tahun memperkuat Persekap, Risdianto akhirnya mengawali perantauannya di luar Pasuruan dengan bergabung di Pardedetex pada 1969.

Proses perpindahan Risdianto ke klub internal PSMS Medan itu terbilang unik. Penampilannya terpantau TD Pardede, pemilik Pardedetex ketika Persekap menghadapi PSM Makassar pada laga persahabatan di Malang. Kebetulan Pardede bersama klubnya itu sedang berada di Malang.

"Pak Pardede pun menghubungi ayah saya yang kebetulan pengurus Persekap. Oleh ayah saya, Pardedetex diajak beruji coba ke Pasuruan sebagai bukti keseriusan mereka. Ternyata mereka setuju," kenang Risdianto.

Tak hanya sampai disitu, Pardedetex pun diminta menunggu Risdianto memperkuat tim Jatim di PON 1969 terlebih dulu. Setelah semua beres, pengurus Pardedetex pun meminta Risdianto membuat paspor di Malang.

"Saya juga heran saat itu, mosok ke Medan harus pake paspor. Ternyata setelah seminggu di Medan, Pardedetex melakukan tur ke luar negeri," ungkap Risdianto yang seangkatan dengan Sutjipto Soentoro dan Jacob Sihasale di Timnas Indonesia.

Persija dan Tim DKI

Risdianto di kompetisi PSSI tahun 1971. (Istimewa)
Risdianto di kompetisi PSSI tahun 1971. (Istimewa)

Risdianto tak sampai dua tahun di Pardedetex. Sepulang dari tur di Hongkong, ia memutuskan pulang ke Pasuruan karena mengalami cedera patah tulang kering.

Sebelum ke Pasuruan, rekannya di Pardedetex, Gunawan mengajaknya mampir di Jakarta. Di Ibukota, Gunawan mengajaknya tinggal di mes pemain UMS, klub internal Persija Jakarta.

Dua hari di Jakarta, Risdianto merasa tidak enak. Ia pun meminta Gunawan untuk melapor Endang Witarsa, pelatih UMS. Lewat Gunawan, Endang pun meminta Risdianto menemuinya di tempat prakteknya sebagai dokter gigi yang tak jauh dari mes pemain UMS.

Endang yang pernah menjadi pelatih tamu di Pardedetex sudah tahu kemampuan Risdianto dan mengajaknya bergabung di UMS. Risdianto yang masih cedera langsung setuju. Tapi, ia meminta izin pulang dulu ke Pasuruan selama dua pekan.

"Pak Endang sempat menawar dan meminta saya tak lama di Pasuruan, tapi saya ngotot tetap dua pekan. Akhirnya beliau setuju dan meminta surat keluar saya dari Pardedetex. Ternyata saya langsung didaftar sebagai pemain UMS di kompetisi internal Persija," terang Risdianto.

Kenangan dengan Dukun Pijat

Legenda Timnas Indonesia, Risdianto, saat berbincang dengan YouTube Omahbalbalan. (Bola.com/YouTube Omah Balbalan)
Legenda Timnas Indonesia, Risdianto, saat berbincang dengan YouTube Omahbalbalan. (Bola.com/YouTube Omah Balbalan)

Risdianto pun memanfaatkan kepulangannya ke Pasuruan untuk mengobati cederanya di seorang dukun pijat terkenal di kampungnya dan pulih dengan cepat.

Ia pun kembali ke Jakarta. Dua hari kemudian, ia langsung dimainkan Endang di kompetisi yang berlangsung di Stadion Menteng Jakarta Pusat.

"Pada laga itu, saya cedera lagi di kaki yang sama. Saat itu, saya dilarikan ke rumah sakit."

Ternyata setelah di rontgen, cedera Risdanto tak terlalu parah. Tapi, kejadian itu sempat membuatnya trauma.

"Saya lebih banyak menggunakan kaki kiri, karena takut cedera kaki kanan saya kembali kambuh. Sampai tiba pada satu momen, kaki kanan saya dilabrak lawan ternyata tidak apa-apa. Dari situ, saya lebih percaya diri karena memiliki dua kaki yang kuat," pungkas Risdianto.

Bersama UMS yang termasuk klub elite di kompetisi Persija, karier Risdianto pun berjalan mulus. Selain memperkuat Persija, ia pun masuk dalam skuat Garuda pada sejumlah laga internasional serta memperkuat tim DKI Jakarta di PON.

Video