Memudarnya Daya Tarik Pempek Palembang Dihantam Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Palembang - Deretan beberapa mobil berjejer, di sepanjang lorong di Sentra Kuliner Pempek Palembang 24 Ilir Palembang Sumatera Selatan (Sumsel).

Namun, tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kawasan sentra kuliner khas Palembang ini sepi dari kerumunan warga, yang berburu pempek Palembang jelang berbuka puasa.

Seperti pemandangan di dalam warung pempek Cek Yaa, yang hanya diramaikan aktivitas ketiga anak kecil sedang asyik bermain. Tidak ada satu orang pun pedagang, yang menikmati lezatnya pempek di dalam warung ini.

Azizah (60), pemilik warung pempek Palembang ini hanya berdiri termenung di samping etalase dagangannya. Meski sudah satu bulan warungnya buka, namun pendapatannya menurun drastis di tengah pandemi Corona Covid-19.

“Sepi sekali penjualan, padahal saya harus menghidupi tiga orang cucu. Biasanya jelang lebaran, penjualan bisa sampai Rp1 jutaan setiap harinya. Produksi pempek juga bisa banyak,” ucapnya kepada Liputan6.com, Rabu (20/5/2020).

Namun saat ini, dia hanya bisa memproduksi 2 Kilogram bahan baku pempek. Karena penjualan sangat menurun. Terlebih di komplek Sentra Kuliner Pempek 24 Ilir Palembang, banyak juga warung pempek saingannya.

Memudarnya daya tarik pempek Palembang ini, dirasakannya sejak mewabahnya Corona Covid-19 di Kota Palembang. Bahkan sebelum memasuki bulan Ramadan, dia menutup warungnya karena sepinya pembeli.

“Baru awal bulan Ramadan saya buka lagi warung. Coba-coba jualan lagi dan berharap bisa kembali normal, apalagi kalau lebaran biasanya ramai. Tapi sekarang jauh dari harapan,” katanya.

Titik terendah penjualannya, baru dirasakannya saat ini sepanjang membangun usahanya sejak tahun 2012. Dia hanya bisa berharap, pandemi Corona Covid-19 segera berakhir, sehingga penjualannya kembali normal.

Kelesuan transaksi penjualan kuliner lokal ini, juga terjadi di Sentral Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. Sepanjang Jalan Mujahiddin 26 Ilir Palembang terlihat lebih lengang, dibandingkan bulan Ramadan di tahun-tahun sebelumnya.

Padahal biasanya ruas jalan di komplek kampung pempek Palembang ini, selalu padat dengan kendaraan para pemburu pempek Palembang, terlebih di bulan Ramadan.

Seperti diutarakan Yuni (35), pedagang pempek di Sentra Kampung Pempek 26 Ilir Palembang, yang merasa kesulitan menjual barang dagangannya di masa pandemi Corona Covid-19. Padahal dia sudah menjual dagangannya dengan harga yang sangat murah, yaitu Rp800 per buah pempek.

 

Penjualan Menurun Drastis

Sentra Kampung Pempek 26 Ilir Palembang yang terlihat sepi pengunjung (Liputan6.com / Nefri Inge)

“Biasanya beberapa hari jelang lebaran, penjualan bisa meledak. Bahkan tiap hari saya bisa mengolah 20 Kg bahan pempek dan selalu laris terjual,” ucapnya.

Pendapatan di awal bulan Ramadan biasanya mampu mencapai Rp800.000 per hari. Sedangkan beberapa hari jelang Idul Fitri, Yuni bisa mengantongi penghasilan hingga Rp3 jutaan.

Namun di masa pandemi Corona Covid-19, bahan olahan pempek Palembang sebanyak 4 Kg sangat sulit terjual habis.

“Saat pandemi Covid-19 ini, menembus penjualan hingga Rp100.000 saja sangat sulit. Apalagi di sini juga banyak pedagang pempek,” katanya.

Hal yang sama juga dialami Yan (36), pedagang pempek lenggang di Sentra Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. Karena tahun ini, dia terpaksa tidak berjualan pempek kecil, karena sepinya pengunjung yang berbelanja.

Modal Menipis

Penjualan pempek palembang jenis lenggang turut mengalami penurunan, karena sepinya pengunjung yang datang di Sentra Kampung Pempek 26 Ilir Palembang (Liputan6.com / Nefri Inge)

Untuk tetap bertahan hidup, dia terus menggeluti bisnisnya menjual pempek lenggang. Meskipun penjualannya juga turut menurun drastis terutama di bulan Ramadan 1441 Hijriah.

“Jelang lebaran, saya biasanya jualan pempek kecil. Tapi tahun ini stop dulu. Selain sepi pengunjung, modalnya juga tidak ada. Karena penjualan pempek lenggang saya juga sepi peminat,” ucapnya.

Selain hantaman Pandemi Corona Covid-19 yang membuat sepinya penjualan, harga ikan giling yang terus meroket juga membuat bisnisnya semakin terhimpit.

Apalagi setelah diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Palembang, Yan hanya bisa pasrah, jika dagangannya lebih sepi dari hari-hari sebelumnya.

“Kalau PSBB sudah tahu. Tapi mau bagaimana lagi, kami sebagai pedagang tidak bisa apa-apa. Hanya menuruti saja peraturannya,” ungkapnya.