Memuliakan Kopi Pagaralam

Subagyo
·Bacaan 10 menit

Pagaralam merupakan daerah di Sumatera Selatan yang dikenal karena keindahan panorama alamnya. Layaknya nama yang disematkan kepadanya, daerah yang berada di ketinggian lebih kurang 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini benar-benar dipagari oleh alam yakni dikelilingi oleh Bukit Barisan dan Gunung Dempo.

Berada di kaki gunung, membuat daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kaur (Bengkulu) ini terkenal atas kesuburannya sehingga unggul di sektor perkebunan dan pertanian.

Tak mengherankan selama puluhan tahun, Pagaralam yang berjarak sekitar 298 Kilometer dari Kota Palembang (ibu kota Sumsel) ini menjadi penghasil kopi, buah-buahan dan sayuran yang produknya juga memenuhi kebutuhan provinsi tetangga yakni Lampung, Bengkulu dan Jambi.

Soal kopi, daerah yang secara administrasi pemerintahan sudah disebut kota ini memiliki sejarah panjang karena berkaitan dengan masa penjajahan Belanda.

Ambisi perusahaan dagang Belanda (VOC) untuk mengalahkan bangsa Arab dalam perdagangan kopi internasional, telah melahirkan ribuan hektare perkebunan kopi di Jawa hingga Sumatera (Sumsel, Bengkulu dan Jambi). Sejak itu, sekitar tahun 1920, bukit-bukit indah yang ada di Pagaralam mulai ditanami kopi jenis robusta dalam skema tanam paksa.

Namun disayangkan, walau sudah berproduksi satu abad lebih, kopi asal Pagaralam ini sulit naik kelas. Istilah ‘kopi asalan’ demikian melekat pada kopi yang memiliki keunggulan dari rasa pahitnya yang ‘nendang’ itu. Walhasil, biji kopinya hanya dibanderol Rp18.000/Kg.

Tak dapat disalahkan juga, istilah asalan itu muncul disebabkan petani setempat melakukan pasca panen yang ‘ngasal’, mulai dari petik pelangi yakni memetik seluruh buah secara serentak mulai dari yang berwarna merah, kuning dan hijau), hingga menjemur biji kopi di tanah atau di jalan beraspal.

Dari sisi brand, Kopi Pagaralam ini juga masih kalah terkenal dibandingkan Kopi Semendo asal Lahat. Belum lagi jika berbicara untuk wilayah Sumatera, karena sudah ada Kopi Lampung, Kopi Kerinci (Jambi), dan Kopi Gayo (Aceh).

Terkait brand ini, bahkan ironi yang terjadi. Kopi Pagaralam diketahui sebagai besar masuk ke Lampung karena pintu perdagangannya memang ke sana (pengepul membawa barang ke Lampung, bukan ke Palembang). Namun, ketika sudah berpindah wilayah, Kopi Pagaralam pun tenggelam dan berganti nama menjadi Kopi Lampung.

Akan tetapi, kemunduran yang terjadi selama puluhan tahun itu kini mulai didobrak oleh kalangan muda petani kopi Pagaralam.

Rumah pasca panen (talang) di kaki Gunung Dempo, Pagaralam. (ANTARA/HO-Dewisekopi Basemah/20)
Rumah pasca panen (talang) di kaki Gunung Dempo, Pagaralam. (ANTARA/HO-Dewisekopi Basemah/20)

Sejak setahun ini, sejumlah petani muda melakukan perubahan drastis dalam proses pasca panen dengan menerapkan pola yang lebih higienis. Ini berkat pencerahan yang diberikan para pegiat kopi Tanah Air yang mengajarkan bagaimana memuliakan kopi sebagai produk makanan.

“Masak kopi dijemur di tanah, itu kan makanan, tidak boleh,” kata Kristian Tri Purnomo (38), salah seorang petani kopi golongan muda di Pagaralam ketika berbagi pengalaman saat diajarkan cara memproduksi biji kopi kelas premium.

Keinginan para petani muda ini dilatari kemauan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Petani selalu bertanya-tanya mengapa selisih harga antara hulu dan hilir demikian lebar.

Jika dihitung mengunakan skala UMR, maka harga yang diterima petani saat ini sungguh tak pantas. Dengan asumsi memiliki satu hektare, yang didapat hanya Rp18 juta/tahun karena harga jual hanya Rp18.000/Kg. Artinya, jika dibagikan per bulan maka hanya berpenghasilan Rp1.500.000/bulan.

Warga Pagaralam selama ini bisa bertahan dan bisa lebih sejahtera dibandingkan daerah lain di Sumsel, lantaran setiap petani memiliki lebih dari satu hektare, bahkan ada yang memiliki 10 hektere. Sebab itu pula, bukan keganjilan melihat tauke-tauke kopi ini menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi di Jawa sejak era tahun 80-an.

Rupanya, lecutan untuk berubah itu tak lepas dari dorongan seorang eksportir kopi yang memiliki organisasi Kopi Tanah Air Kita. Darinya, mereka mengenal konsep Desa Wisata dan Sekolah Kopi (Dewisekopi) sehingga mendirikan Dewisekopi Basemah.

Proyek percontohan pertama kali dilakukan di dua kelurahan yakni Agung Lawangan dan Talang Darat yang menyasar sekitar 206 petani dari berbagai desa di sana.

Penggiat kopi ini mengajak petani untuk meninggalkan cara-cara lama. Jelas tidaklah muda karena petani dipaksa rela “menunda” untuk mendapatkan uang. Biasanya dalam dua minggu sudah terima uang dari pengepul, kini harus melewati masa hingga 30 hari.

“Dulu, petani itu maunya cepat-cepat saja. Petik, jemur, giling, terus jual, langsung dapat uang. Tapi cara yang baru tidak bisa lagi seperti itu,” kata Kristian.

Petani dituntut bersabar dalam memproses kopi yang bisa berhari-hari, mulai dari petik merah, yakni hanya memetik biji kopi yang sudah merah saja sehingga masa pemetikan ini menjadi lebih lama dari biasanya, dari dua bulan menjadi empat bulan.

Kemudian biji kopi yang berwarna merah itu direndam di dalam air, untuk dilakukan penyortiran. Biji yang terapung dianggap tidak layak produksi.

Lalu dilakukan proses penjemuran selama 30 hari, atau lebih lama dua pekan dari biasanya di atas ‘para-para’ yakni tempat yang berjarak 70 cm dari tanah. Berbeda dengan selama ini, petani menjemur di tanah atau di jalan beraspal. Ini suatu kerugian paling mendasar yang menghilangkan aroma unik kopi mengingat sifat dari tanaman ini yang menyerap aroma di sekitarnya.

Setelah itu, barulah biji kopi memasuki proses pengilingan untuk mengupas kulit kopi. Ini pun dilakukan proses penyortiran hingga tiga kali untuk membedakan ukurannya. Lalu, biji kopi yang sudah unggul itu baru diizinkan melalui proses pengorengan (roasting).

Hasil yang didapat melalui proses panjang ini, sudah dipastikan produk biji kopi premium yang harganya berkisar Rp34.000/Kg.

Untuk menjaga keunggulannya itu, proses penyimpanannya pun tidak bisa dilakukan sembarang atau harus dimasukkan dalam plastik kedap udara yang memiliki teknologi memastikan tidak ada jamur.


Pengakuan dunia

Belum genap setahun proses pemuliaan Kopi Pagaralam itu dilakukan, para petani muda ini telah mendapatkan pengakuan internasional pada ajang kontes kopi dunia AVPA (Agency for the Valorization of the Agricultural Products) Gourmet Product tahun 2020 di Paris, Prancis.

Ketua Dewan Kopi Sumsel M Zain Ismed (dua dari kiri) bersama pengurus Dewasekopi Basemah menunjukkan produk Kopi Pagaralam yang telah mendapatkan pengakuan internasional di Palembang, Kamis (19/11). (ANTARA/Dolly Rosana/20) (ANTARA/HO-Dewisekopi Basemah/20)
Ketua Dewan Kopi Sumsel M Zain Ismed (dua dari kiri) bersama pengurus Dewasekopi Basemah menunjukkan produk Kopi Pagaralam yang telah mendapatkan pengakuan internasional di Palembang, Kamis (19/11). (ANTARA/Dolly Rosana/20) (ANTARA/HO-Dewisekopi Basemah/20)

Ketua Dewan Kopi Sumsel M Zain Ismed mengatakan keberhasilan ini sangat membanggakan karena Kopi Pagaralam ini berhasil bersaing diantara 130 produk yang dikirimkan 15 negara produsen kopi di dunia.

Hanya ada 74 produk yang diakui meraih Gourmet Medal pada kontes tahunan ini dan salah satunya Kopi Pagaralam yang diumumkan pada 18 November 2020.

Pada kontes itu, selain kopi asal Pagaralam, Indonesia juga meraih penghargaan untuk Kopi Kintamani (Bali), tiga jenis kopi asal Jawa Barat dan kopi asal Pasuruan (Jawa Timur).

Kopi Pagaralam yang berjenis robusta ini dipilih dewan juri karena memiliki keunggulan dari sisi rasa berupa ‘strong bitter’. Rasa pahit yang unik ini didapatkan karena tanaman kopinya ditanam di ketinggian 1.000-1.4000 mdpl, yang berdampingan dengan jenis tanaman lain yakni cengkih, kayu manis, dan petai. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman kopi itu menyerap saripati tanaman yang ada di sekitarnya.

Abdurahman Are, salah seorang petani kopi asal Pagaralam yang menjadi anggota Dewasekopi Basemah mengatakan dirinya sangat bangga atas keberhasilan ini.

Adanya pengakuan internasional itu semakin membuat petani kopi Pagaralam percaya diri bahwa apa yang dilakukan ini bermanfaat untuk generasi mendatang.

“Kami ingin perkebunan kopi ini abadi jadi sumber pemasukan hingga anak cucu, kami ingin kopi Pagaralam ini semakin terangkat, sehingga petani semakin sejahtera,” kata dia.


Pasar Ekspor

Ketua Dewasekopi Basemah Achmad Ardiansyah mengatakan sejauh ini dari 206 petani binaan itu sudah dihasilkan 180 ton biji kopi untuk dijual ke pasar dunia melalui eksportir asal Jakarta, Rudi Mickhael.

“Karena ini tahun pertama, jadi belum maksimal karena masih ada petani yang membagi. Separuh jual asalan, dan separuh lagi untuk premium. Tapi di 2021, kami targetkan sudah semuanya,” kata dia.

Rudi Mickhael mengatakan dirinya memperkirakan harga Kopi Pagaralam ini bakal terus merangkak naik di masa datang, apalagi sudah mendapatkan pengakuan internasional.

Saat ini saja, dirinya telah mendapatkan permintaan dari China dan Taiwan, serta mengirimkan sampel ke Rusia dan Jepang.

Bahkan jika, permintaan terus meningkat, Rudi tak ragu untuk mendatangkan pesawat sewa ke Pagaralam yang khusus untuk mengangkut kopi. Ini sangat mungkin karena Pagaralam memiliki lapangan udara perintis.

“Selama ini lewat jalur darat, mereka kirim pakai truk ke Jakarta dalam bentuk green bean (biji kopi), lalu saya roasting di Jakarta. Tapi ke depan, saya maunya roasting juga dilakukan petani di Pagaralam, agar harga lebih ngangkat lagi,” kata dia.

Rudi yang telah lama berkecimpung dalam perdagangan kopi di 25 negara ini karena juga menjual kopi dari daerah lain di Tanah Air, terutama untuk memunculkan kopi yang belum dikenal seperti Kopi Flores (NTT), Kopi Rejang Lebong (Bengkulu) dan Kopi Kepayang (Bengkulu).

Produksi dari Dewisekopi Basemah ini pada 2020 sudah dikirimkan ke Taiwan dan China, dan ke depan akan dikirimkan ke Jepang dan Singapura.

Ia menyakini nantinya Kopi Pagaralam ini bakal menjadi buruan karena sempat melakukan uji ke sejumlah praktisi kopi internasional yang pada umumnya menyatakan kekaguman atas rasanya.

“Bisa dibayangkan, kopi jenis robusta yang ditanam di ketinggian 1.400 mdpl yang ada rasa arabicanya. Mungkin hanya Kopi Pagaralam yang bisa,” ujar Rudi.


Desa wisata

Selain mengelola bisnis intinya, yakni penjualan biji kopi, sejatinya perkebunan kopi ini juga memiliki bisnis turunan yakni destinasi wisata.

Area perkemahan di Desa Wisata dan Sekolah Kopi Basemah, Pagaralam, yang menghadap Gunung Dempo. (ANTARA/HO-Dewisekopi Basemah/20)
Area perkemahan di Desa Wisata dan Sekolah Kopi Basemah, Pagaralam, yang menghadap Gunung Dempo. (ANTARA/HO-Dewisekopi Basemah/20)

Dewasekopi Basemah sejauh ini telah mendirikan desa wisata, dengan memanfaatkan lahan kopi milik salah seorang anggotanya. Pemilik yang merupakan generasi keempat pekebun kopi menyatakan bersedia menyediakan asetnya itu demi pengembangan Kopi Pagaralam.

Di perkebunan itu terdapat rumah-rumah untuk proses pasca panen atau yang dikenal dengan sebutan talang, yang nantinya dapat dijadikan sarana homestay bagi wisatawan. Ada 21 talang di sana.

Keberadaan talang ini pun ada kisahnya tersendiri. Rupanya, para pekebun kopi itu enggan kesepian di pegunungan saat melakukan pasca panen. Mereka akhirnya mendirikan talang di perbatasan antarkebun untuk bisa saling melonggo aktivitas masing-masing.

Proses memanen biji kopi itu biasanya dua bulan lamanya, sehingga setelah itu talag akan ditinggalkan begitu saja, dan baru didatangi lagi pada tahun berikutnya atau saat panen tiba.

Adanya konsep desa wisata dan sekolah kopi ini, tentunya bakal membuat talang-talang tersebut ramai sepanjang tahun. Apalagi di dalam konsep itu akan ada shelter kopi dan sekolah untuk baracik.

“Untuk awal, satu malam hanya dikenakan biaya Rp20 ribu dan sewa tenda hanya Rp50 ribu, plus secangkir kopi,” kata Ketua Dewasekopi Basemah Ardiansyah.

Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan salah satu provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia dengan luas tanam mencapai 251.027 hektare. Produksi biji kopi yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai 144.166 ton.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang Amin Rejo menyatakan guna meningkatkan kualitas produksi komoditas kopi Sumatera Selatan menghadapi berbagai persoalan terutama dari sisi perilaku yang tidak terpola dengan baik.

"Itu yang menjadi penyebab selain perhatian pemerintah terhadap pembinaan petani kopi dan fasilitas yang diberikan masih minim," kata Amin Rejo.

Ia menjelaskan kopi Sumsel seperti kopi 'semendo' atau 'semende' Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam adalah satu yang terbaik di Indonesia. Namun pemasarannya banyak beralih ke daerah lain seperti Lampung.

Itu terjadi sebagai dampak Provinsi Sumatera Selatan hingga kini belum memiliki pelabuhan ekspor, sehingga membuat kopi Sumsel itu seakan produk daerah lain.

Kemudian dari sisi perilaku sebagian besar petani kopi, katanya, melakukan masa panen sebelum tiba pada waktunya artinya memetik buah belum terlalu matang atau masak.

"Ada sebagian petani beralasan memetik buah kopi sebelum waktunya panen karena khawatir takut dicolong orang lain. Ini sebenarnya menjadi sebuah persoalan yang harus ditanggulangi pemerintah daerah," ujar Amin yang juga Direktur Pasca Sarjana Unsri tersebut.

Begitu juga saat menjemur biji kopi kebanyakan mereka memanfaatkan jalan umum desa, sehingga terkadang sering digilas kendaraan yang melintas di jalan.

Untuk itu, perlu keseriusan dari berbagai pihak terkait untuk membenahinya karena potensi dari kopi asal Sumsel ini sesungguhnya sangat luar biasa. Selain bisa menyejahterakan, dapat juga mengangkat nama daerah ke pentas dunia.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan pemprov akan mengawal pengembangan Kopi Pagaralam ini dari sisi hulu dan hilir untuk meningkatkan nilai tambahnya.

“Sarana dan prasarana desa wisata akan kami bantu, begitu pula pintu perdagangannya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat pelabuhan laut di Tanjung Carat terealisasi sehingga jalur pedagangan luar negeri semakin terbuka,” kata Herman Deru.

Perkebunan kopi sudah lama memberikan kesejahteraan bagi Pagaralam, tapi diakui selama itu pula produknya tidak bisa naik kelas.

Apa yang dilakukan sejumlah petani muda di Pagaralam ini patut diacungi jempol karena berani mendobrak jalur perdagangan klasik. Mereka mendekatkan sisi hulu dan hilir, sembari memberikan nilai tambah berupa pendirian desa wisata plus sekolah kopi. Kiat ini layak dikembangkan di daerah lain.