Memvisualkan kisah dan karakter lewat teater radio

Ida Nurcahyani
·Bacaan 2 menit

Seniman dan sutradara Unlogic Teater, Dina Febriana akan terlibat dengan pembuatan teater radio sebagai salah satu rangkaian kesenian di Djakarta Teater Platform "Jeda" 2020.

Pemilihan teater radio juga bukan tanpa alasan. Dina mengungkapkan ketertarikannya untuk mengajak para seniman sekaligus penikmat seni untuk memvisualkan kisah dan karakter lewat teater radio.


Baca juga: DKJ minta Pemprov DKI proaktif soal informasi revitalisasi TIM

Baca juga: Revitalisasi TIM capai 15 persen

"Teater radio menyerang indera dan kesadaran kita dengan realitas dasar kehidupan," kata Dina melalui konferensi pers daring Djakarta Teater Platform, Jumat.

Menurut Dina, pemilihan teater radio juga didasari dengan keyakinannya bahwa suara dan bunyi-bunyian bisa menjadi sesuatu untuk mengekspresikan diri, serta menggugah imajinasi orang-orang yang terlibat di dalam, maupun bagi mereka yang mendengarkan.

"Suara adalah visual dalam bentuk yang imajinatif. Bisa mengajak lebih dekat dengan aktor untuk berimajinasi lewat dialog, efek suara, dan musik. Pun dengan penonton, membayangkan sendiri soal cerita dan karakter," jelas dia.

Ketika disinggung mengenai perbedaan teater radio dengan drama radio dan podcast, Dina mengatakan, teater radio tak ubahnya dengan pentas teater pada umumnya, dimana aktor akan berperan dengan menggunakan olah tubuh dan olah suara.

"Bagaimana pun, kita tetap berteater. Ketika kita lakukan proses itu pasti dengan olah tubuh, seperti teater pada umumnya. Dalam rekaman audio misalnya, aktor harus menampar diri sendiri, itu kan butuh ekspresi, gerak tubuh, yang tak serta-merta tepuk-tepuk saja dan berpura-pura," jelas Dina.

"Masih membutuhkan olah tubuh itu sendiri. Bagaimana kesakitan dari dalam itu yag mau kita sampaikan. Kita memang tidak membawakan naskah secara utuh atau naratif, tapi ekspresif. Dan kepekaan penonton dalam menangkap audio ini juga penting nantinya," imbuhnya.

Selain pertimbangan penyampaian yang berbeda dan lebih personal, platform daring juga menjadi hal yang diperhitungkan oleh Dina dan tim.

"Era ini, karena situasi ini, kita memilih daring. Tapi memang kembali lagi, yang paling adalah bagaimana suara memungkinkan untuk bisa ekspresikan diri manusia, dan teater radio menggunakan medium daring ini," pungkasnya.


Baca juga: Jakpro tegaskan tidak akan komersilkan TIM pascarevitalisasi

Baca juga: Menilik makna "Jeda" di Djakarta Teater Platform 2020

Baca juga: Pekan ini ada Sinema Musikal Rama dan Sinta & Opera Merah Putih