Menakar Dampak Lonjakan Harga Komoditas ke Inflasi dan Investasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Krisis energi menjadi perhatian. Hal ini seiring permintaan melonjak mendorong kenaikan harga komoditas energi.

Krises energi ini juga menjadi salah satu perhatian dalam laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia. Dalam laporan itu menyampaikan sulit untuk mengabaikan lonjakan harga energi termasuk bahan bakar fosil dalam beberapa bulan terakhir.

Adapun hal yang perlu diwaspadai seiring krisis energi tersebut adalah apakah ini berkelanjutan dan seberapa besar dampaknya terhadap inflasi.

"Pandangan konsensus adalah harga energi mungkin akan menemukan keseimbangannya, tetapi saat ini global bertransformasi memakai energi bersih sebagai sumber kekuatan, dan kemungkin akan hadapi gejolak,” demikian mengutip laporan Ashmore Asset Management Indonesia yang dikutip Minggu, (10/10/2021).

Lalu apa saja sentimen yang mendorong kenaikan harga energi saat ini?

Ada sejumlah peristiwa yang terjadi pada waktu saham sehingga memicu kenaikan harga energi. Pertama, peningkataan permintaan karena pasar pulih dari pandemi COVID-19.

Kedua, gangguan pasokan dari pembangkit listrik tenaga angin/air yang telah digunakan oleh negara Eropa untuk transisi dari minyak fosial. Ketiga, kurangnya investasi bahan bakar fosil dalam dekade terakhir sehingga mengurangi pasokannya.

“Badai sempurna tercipta dan hasilnya menggandakan kontrak berjangka gas di Amerika Serikat dan kenaikan harga batu bara ka rekor tertinggi,” tulis Ashmore.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Bagaimana Dampak ke Investasi?

Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lalu apakah krisis energi dan kenaikan harga energi dapat teratas?

Dala waktu dekat,pasar melewasti ketidak seimbangan penawaran dan permintaan, harga energi cenderung lebih stabil. Dalam jangka panjang, stok energi menjadi solusi karena akan menstabilkan sumber pembangkit listrik yang tidak terpengaruh oleh iklim. Ahli mengatakan, hal itu akan memakan waktu bertahun-tahun.

Sementara itu, kenaikan harga akan berdampak terhadap inflasi, kenaikan ketidaksetaraan dan potensi kerugian dalam pertumbuhan ekonomi.

Lalu bagaimana hal ini pengaruhi keputusan investasi?

Dalam filosofi investasi didasarkan pada manajemen aktif yang memungkinkan untuk overweight dalam sektor dengan valuasi yang menarik.

“Sebelum kenaikan harga energi, komoditas batu bara, sawit dan minyak dunia terlalu rendah dalam pandangan kami, dan itu menjadi panggilan solid untuk portofolio saham,” tulis Ashmore.

Namun, potensi lonjakan inflasi mungkin berdampak buruk dengan asumsi harga listrik akan naik dan akan diteruskan ke pelanggan.

”Neraca Indonesia didukung dengan baik oleh kenaikan ekspor baru-baru ini karena harga komoditas, tetapi jika tidak diikuti oleh investasi langsung yang solid mungkin berumur pendek,” tulis Ashmore.

Risiko ini kemungkinan akan terjadi pada 2022. Ashmore Asset Management Indonesia menilai, risiko ini akan terjadi pada 2022 dan pengaruhi pasar obligasi ketimbang saham. “Ini berarti kami merekomendasikan untuk seimbangkan kembali ke aset saham,” tulis perseroan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel