Menaker Bagikan Tips agar Pekerja Migran Terhindar dari Rayuan Calo

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyosialisasikan pentingnya penguasaan kompetensi kerja bagi Calon Pekerja Migran Indonesia sebelum bekerja ke luar negeri.

Pekerja migran diharapkan tidak mudah tertipu dengan rayuan calo karena risiko yang amat tinggi bagi mereka.

"Jangan mudah terbujuk rayu yang manis dan sesaat, namun mendatangkan risiko tinggi. Jika kita sayang anggota keluarga kita, anak kita, tetangga kita, mari kita saling mengingatkan satu sama lain, agar menempuh jalur prosedural, demi keamanan dan kenyamanan bekerja, sehingga maksud dan tujuan bekerja ke luar negeri dapat terpenuhi, yaitu ‘Pergi Aman Pulang Mapan", kata Menaker Ida dalam pernyataannya, Selasa (17/11).

Untuk itu, Menaker Ida mengingatkan para pekerja migran untuk menyiapkan diri dengan kompetensi dan dokumen lengkap sesuai yang dipersyaratkan. Sehingga mempunyai ketrampilan yang mumpuni dan terhindar dari jerat calo.

"Antara lain, cari informasi sebanyak-banyaknya, baik itu melalui pusat layanan migrasi Desmigratif di kantor desa, ataupun melalui Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) atau Dinas Tenaga Kerja," tambahnya.

Sementara itu, Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK), Suhartono, menyampaikan dalam kegiatan juga diserahkan bantuan satu paket usaha tenaga kerja mandiri tahun 2020 dan 1.250 masker untuk desa Buraen dan Merbaun.

Ada juga delapan paket bantuan TKM tahun 2020 dalam rangka mendukung replikasi Desmigratif baru tahun 2020 binaan Kabupaten Kupang.

Selain itu, diserahkan juga secara simbolis klaim jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan Kepesertaan Non-ASN Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kupang, serta penyerahan bantuan subsidi upah untuk Wilayah Nusa Tenggara Timur.

Separuh Gaji Habis untuk Komunikasi, Pekerja Migran Indonesia Butuh Edukasi Finansial

Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani Saat Menjemput 52 PMI di Bandara Soekarno-Hatta. (Foto: Dokumentasi: BP2MI).
Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani Saat Menjemput 52 PMI di Bandara Soekarno-Hatta. (Foto: Dokumentasi: BP2MI).

Sejumlah problem mengenai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri masih menjadi hal harus diselesaikan pemerintah saat ini. Salah satu persoalan yaitu masalah komunikasi para pekerja dengan keluarga mereka di Tanah Air.

Persoalan itu menjadi salah satu hal yang disorot dalam Diseminasi hasil Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Dalam penelitian yang dilakukan sejak Maret 2019 hingga Oktober 2020 di Malaysia dan sejumlah daerah sumber pekerja migran di Indonesia ini disebutkan bahwa, perempuan pekerja migran asal Indonesia, khususnya yang bekerja di Malaysia dan Hong Kong lebih komunikatif dibandingkan laki-laki pekerja migran.

Selain itu, perempuan pekerja migran juga disebyt lebih kompleks pola komunikasinya.

"Jika laki-laki pekerja migran lebih banyak berkomunikasi mengenai kabar keluarga, perempuan pekerja migran, selain mengomunikasikan kabar keluarga, juga membahas keuangan dan masa depan kehidupannya,” ucap Ketua Tim Peneliti Nani Muksin dalam keterangan tertulisnya yang di terima Liputan6.com, Rabu, 11 November 2020.

Nani melanjutkan, perempuan pekerja migran juga lebih aktif bermedia sosial, tidak hanya melalui Facebook, tetapi juga Instagram, Whatsapp, atau media sosial lain. Namun, saat berkomunikasi dengan keluarga di daerah asalnya, pekerja migran mayoritas masih menggunakan sambungan telepon.

Dalam penelitian itu, Nani menyebutkan isi pesan yang dibicarakan dengan keluarga masih seputar kebutuhan hidup dan mengobati rasa rindu karena berada jauh dari kampung halaman.

Nani menambahkan, dari penelitian yang dipimpinnya, kebutuhan berkomunikasi, terutama melalui media sosial, sudah menjadi kebutuhan utama, bagi pekerja migran asal Indonesia, khususnya yang masih lajang. "Bermedia sosial bukan hanya untuk menyapa rekan atau keluarganya, melainkan juga untuk hiburan," ucap dia.

Namun, biaya untuk ”gaya hidup”, termasuk untuk berkomunikasi, pekerja migran Indonesia di Malaysia lebih kecil dibandingkan pekerja migran Indonesia di Hong Kong sehingga nilai kirimannya ke Tanah Air pun lebih besar.

Habis untuk Biaya Komunikasi

Nani menjelaskan, Malaysia menjadi lokasi penelitian Tim UMJ karena sejak lama pekerja migran asal Indonesia adalah yang terbesar di negeri jiran itu.

Data tahun 2015 menunjukkan, tidak kurang dari 728.890 warga negara Indonesia (WNI) bekerja di Malaysia dan merupakan 39 persen dari total pekerja asing di Malaysia. Namun, mayoritas mereka adalah pekerja kerah biru alias buruh.

Kendati mayorita berprofesi sebagai buruh, hampir semua pekerja migran itu memiliki telepon pintar (smart phone) atau telepon genggam untuk berkomunikasi dengan keluarganya di Tanah Air maupun bermedia sosial.

Namun, Nani menyayangkan, dalam berkomunikasi dan bermedia sosial itu, mereka belum mempunyai perencanaan keuangan yang baik, seperti menabung atau mengembangkan dana yang dimilikinya untuk kegiatan ekonomi produktif.

Karena itu, mantan Kaprodi Magister Komunikasi UMJ itu menganggap, literasi keuangan menjadi kebutuhan yang mendesak bagi pekerja migran sehingga mereka bisa memanfaatkan penghasilannya dengan lebih baik.

Saksikan video di bawah ini: