Menaker Ida Nilai Kenaikan Bahan Energi karena Kondisi Geopolitik

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menilai kenaikan bahan-bahan energi karena situasi geopolitik. Menurutnya kondisi perekonomian sudah mulai membaik usai pandemi, namun kembali terguncang karena faktor geopolitik.

"Dan sekarang sebenarnya kondisi perekonomian kita sudah mulai membaik, pandemi sudah bisa kita selesaikan. Tapi ternyata kondisi geopolitik yang tidak menguntungkan yang mengakibatkan kenaikan bahan-bahan energi," kata Ida saat memberikan sambutan di acara Penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU) kepada para pekerja, Badung, Selasa (13/9).

Sehingga, lanjut Ida, pemerintah tidak bisa lagi memberikan subsidi harga BBM. Sebagai pilihannya, subsidi disalurkan melalui cara lain.

"Karena kalau diikuti terus subsidi itu yang tidak mengejar APBN kita, akan habis untuk memberikan subsidi BBM. Maka pemerintah kemudian mengalihkan subsidi itu dalam bentuk bantuan langsung atau dalam bentuk seperti yang dikelola oleh Kementerian Ketenagakerjaan subsidi upah (BSU)," imbuhnya.

Ia juga menyebutkan, dari data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Kemenaker akan mensubsidi 16 juta pekerja. "Tapi setelah kami padamkan data dengan data PNS, ASN, TNI, Polri data penerima program PKH data penerima program kartu prakerja, akhirnya kami akan mensubsidi kepada 14,6 juta pekerja dari seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke," lanjut Ida.

Penyaluran BSU melalui himpunan bank milik negara, Bank Syariah Indonesia (BSI) dan untuk mempercepat proses penyaluran BSU bekerja sama dengan PT Pos.

"Kita melalui bank Himbara dan BSI. Dari BSI kita menyalurkan kepada penerima bantuan. Di luar itu kami dalam rangka mempercepat proses penyaluran itu, kerja sama dengan PT Pos Indonesia. Kenapa, PT Pos Indonesia banyak di antara teman-teman yang tidak memiliki rekening Bank Himbara. Sehingga mempercepat itu kita kerja sama dengan PT Pos Indonesia," ujarnya.

Penyaluran akan dilakukan secara bertahap. Sebelumnya Kemenaker telah menerima 5,09 juta data calon penerima BSU 2022 dari BPJS Ketenagakerjaan tetapi setelah dilakukan skrining dan untuk saat ini yang baru tersalurkan BSU kepada para pekerja sebanyak 4,1 juta.

"Kemarin 5,9 juta kemudian yang sudah tersalur dari (5,9 juta) pasti kita skrining dulu, apakah sudah padan datanya dengan penerimaan program Kartu Prakerja, dengan penerima program PKH dan BLT BBM, kemudian ASN, TNI dan Polri. Dari itu, kemudian kami salurkan dan sekarang 4,1 juta yang tersalurkan tahap pertama," ujarnya.

Kemudian, target penyaluran BSU diupayakan selesai sampai akhir tahun 2022. "Setelah ini, nanti tahap kedua BPJS akan menyerahkan data lagi prosesnya sama seperti hal yang pertama. (Untuk target) sebelum akhir tahun sudah selesai semua," ujarnya. [cob]