Menang atau kalah, gerakan Trump bakal lebih kuat dan lebih besar

·Bacaan 4 menit

New York (AFP) - Pemilihan presiden AS masih berlangsung, tetapi satu hal yang pasti: gerakan yang diciptakan oleh Donald Trump tetap hidup dan terjaga baik, dan lebih solid dari yang diperkirakan para pakar.

Tidak peduli apakah dia menang atau kalah, Trumpisme tampaknya akan terus hidup.

Pakar politik Republik Sophia A. Nelson seketika menyimpulkan: "Gerakan Trump itu nyata. Dan akan tetap ada."

Meskipun berulang kali -dan secara salah- digambarkan sebagai hanya kalangan tua, berkulit putih dan pedesaan, basis pendukung Trump akan membantu memberikan total suara tertinggi ketiga dalam sejarah politik Amerika, hanya dikalahkan Joe Biden, dan Barack Obama pada 2008.

Para pemilih Hispanik yang seringkali diharapkan condong ke kiri, kali ini berpaling kepada Trump, partisipasi suara mereka di Florida membantu dia dengan mudah mengalahkan Biden di negara bagian yang dijuluki Sunshine State itu dalam pemilihan umum Selasa.

"Menjelang pemilu, banyak pakar membahas bagaimana Trump tidak membawa pemilih baru ke kubunya," kata Abraham Gutman, yang merupakan anggota dewan redaksi Philadelphia Inquirer.

Tetapi kali ini dia akan, setidaknya, memenangkan sekitar lima juta suara lebih banyak dibandingkan yang dia capai pada 2016 saat melawan Hillary Clinton.

"Terlepas dari hasil akhirnya -dalam kontes negara bagian untuk marjin elektor atau popular vote- media membutuhkan post mortem serius untuk mengeksplorasi bagaimana, meskipun begitu banyak tinta yang tumpah kepada pemilih Trump, kisah kemunculan gerakan Trump benar-benar tidak terjawab," kata Gutman.

Trump menggelar puluhan rapat umum kampanye menjelang pertarungan di tempat pemungutan suara melawan mantan wakil presiden Partai Demokrat, Selasa. Dia biasa disambut oleh kerumunan banyak orang.

Parade truk untuk petahana Republik itu bergulir melalui kota demi kota di Amerika, seperti halnya prosesi perahu dalam komunitas tepi air.

Semuanya adalah bukti adanya dukungan yang luas.

"Para pendukungnya mencintai dia. Mereka mencintai dia karena fakta dia mengutamakan Amerika dan rakyat Amerika," kata Jim Worthington, pendiri People4Trump, kepada AFP dalam sebuah wawancara telepon.

"Mereka menyadari bahwa dia berjuang demi mereka. Kami memperluas koalisi kami," tambah Worthington, yang memiliki dua gym.

Cara kontroversial Trump dalam menangani pandemi virus corona yang sejauh ini telah merenggut lebih dari 233.000 nyawa warga orang Amerika, kebijakan imigrasinya yang keras dan gaya bicaranya yang kurang ajar tidak membuat para penggemarnya berpaling.

Mogul real estate yang menjadi pemimpin dunia itu masih menjadi salah satu tokoh Republik paling populer dalam masa belakangan ini, sejak Ronald Reagan.

Para pendukungnya "sangat menyukai orang ini dengan semua kekurangannya atau mungkin karena kekurangannya," kata John Feehery, pelobi EFB Advocacy yang pernah bekerja dengan beberapa anggota parlemen Republik.

"Itu aneh. Saya pikir sebagian karena dia sangat otentik. (...) Dia mengatakan apa yang ada di pikirannya. Dan orang-orang suka melihat apa yang ada di pikirannya."

Dia juga menarik perhatian para pemilih yang memiliki "hasrat nasionalisme," kata Feehery.

"Jika Trump tidak ada, orang harus menemukan dia."

Jika Trump akhirnya memenangkan pemilu, masa depan dan warisan politiknya tidak akan jelas selama beberapa tahun lagi.

Seandainya dia kalah, "Saya kira gerakan itu tidak akan hilang," kata Worthington. "Saya kira semua orang berkumpul kembali. Dia akan memutuskan jalur apa yang kami ambil untuk kami semua dan saya pikir kami akan menguat bersama."

Adapun pengaruhnya secara keseluruhan di Partai Republik, yang besar-besaran mendukung dia selama empat tahun terakhir, banyak yang beranggapan kekalahan pada 2020 kemungkinan tidak akan berdampak buruk.

Bahkan dengan kekalahan tipis di Gedung Putih, Partai Republik berada di jalur untuk mempertahankan mayoritas Senat mereka dan tidak kalah secara spektakuler di Dewan Perwakilan Rakyat.

"Ini keadaan di mana partai-partai lebih cenderung untuk tetap berada di jalur daripada mengatakan, 'Kita perlu melakukan sesuatu yang amat sangat berbeda'."

Bagi David Hopkins, seorang profesor ilmu politik pada Boston College, Trump "telah dan akan terus berpengaruh besar kepada Partai Republik" paling tidak selama empat tahun ke depan, sekalipun dia kalah.

Feehery mengatakan bahwa jika kali ini Trump kalah, "Saya tidak akan kaget jika dia mencalonkan diri lagi."

Worthington mengatakan dia yakin pengusaha miliuner itu akan mendapat "banyak dukungan" jika dia mencalonkan diri lagi dalam empat tahun.

Ketika ditanya tentang kemungkinan gelombang baru politisi Trump, Worthington mengatakan dia memandang putri Ivanka, bukan putra tertuanya Don Jr, sebagai "pewaris."

"Dia (Ivanka) sungguh orang yang sangat mengesankan," kata dia seraya menegaskan bahwa dia pernah bekerja dengannya dalam Dewan Presiden untuk Olahraga, Kebugaran, dan Gizi.

Tetapi Hopkins memperingatkan: "Sudah pasti bagian dari daya tarik Trump adalah kepribadiannya sendiri, yang mungkin tidak dapat ditiru tokoh lain begitu dia sendiri menjauhi sorotan."


tu/sst/jm