Menangkal Hoaks, Satu Cara untuk Menyukseskan Vaksinasi Covid-19

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta- Informasi hoaks seputar vaksin Covid-19 beredar luas dan menghantui masyarakat, informasi tersebut disajikan secara bombastis dalam berbagai bentuk baik tulisan, foto dan video.

Keberadaan informasi hoaks ini membuat masyarakat yang mudah mempercayai informasi tanpa melakukan verifikasi khawatir pada dampak vaksin Covid-19, sehingga dapat menghambat kelancaran program vaksinasi Covid-19.

Untuk membantu menyukseskan program vaksinasi, maka salah satu yang harus dilakukan adalah menangkal hoaks.Ini merupakan sudut pandang dari ilmu ekonomi perilaku.

Dikutip dari theconversation.com,Peneliti Ilmu Perilaku, Advisla Alanda Kariza mengatakan, berdasarkan temuan-temuan dari penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya, ilmu ekonomi perilaku mengumpulkan wawasan-wawasan ilmiah yang bisa diaplikasikan untuk mendorong penerimaan program vaksinasi Covid-19 di masyarakat.

Setidaknya ini tiga hal yang harus diperhatikan:

1. Informasi yang transparan

Pemberian informasi yang transparan terkait vaksin yang akan diberikan sangat penting.

Mulai dari efikasi atau efektivitas, hasil percobaan klinis, hingga hasil penggunaan vaksin tersebut di negara lain.

Semua ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, yang akan menjadi pihak yang menyelenggarakan program vaksinasi tersebut.

Walaupun pemerintah telah cukup transparan melalui informasi di media massa serta laman resmi [www.covid19.go.id] dan laman resmi gugus tugas penanganan COVID-19 di tingkat daerah.

Menurut tim peneliti dari Universitas Indonesia, data itu masih harus disempurnakan lebih detail seperti menyangkut status ketersediaan APD, seberapa banyak mesin PCR untuk tes COVID-19 yang tersedia dan dibutuhkan, begitu pun data ketersediaan serta kebutuhan sumber daya lainnya.

Ini termasuk dengan vaksin, di laman resmi pemerintah hanya menyertakan kumpulan berita tentang vaksin, namun tidak ada data yang mendetail dan laman khusus tentang sejauh apa program vaksinasi telah berjalan.

Saat ini, informasi yang kredibel tidak hanya disalurkan oleh pemerintah, tetapi banyak juga inisiatif-inisiatif baru dari masyarakat sipil yang membuat konten informasi di berbagai sosial media, mulai dari Instagram, Facebook, dan juga siniar (podcast).

Konten yang dibagikan ada yang berupa olahan riset, studi kasus dan lapangan, serta bentuk pencarian informasi lainnya yang dapat membantu masyarakat memahami isu-isu terbaru di tengah kepungan pandemi COVID-19.

Kontribusi masyarakat ini juga bisa menjadi salah satu usaha untuk memberikan informasi seluas-luasnya dari efek domino atau reaksi berantai yang tercipta di masyarakat.

2. Bukti sosial

Hal berikut yang tidak kalah pentingnya adalah bukti sosial atau “social proof”.

Manusia sebagai makhluk sosial cenderung menilik perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama handai taulan, untuk mempelajari bagaimana mereka harus bertindak.

Dampak negatif perilaku ini contohnya pada tahun 2019, seorang ibu urung memberikan vaksinasi untuk anaknya karena tetangganya menyebut vaksin itu haram.

Oleh karenanya, dalam strategi komunikasi terkait program vaksinasi ini, alangkah baiknya apabila pemerintah bisa menonjolkan besarnya dukungan masyarakat terhadap program vaksinasi dan bagaimana vaksinasi adalah suatu hal yang ‘populer’ dan ‘keren’ untuk dilakukan.

Selain itu, untuk mendorong masyarakat agar mau divaksin dan meningkatkan kepercayaan mereka terhadap program vaksinasi, figur-figur yang memiliki otoritas, mulai dari pejabat daerah, pejabat pemerintah pusat, hingga pemuka agama, maupun selebritas. Sebaiknya juga divaksin dan mengumumkan bahwa mereka telah divaksin.

3. Menangkal misinformasi

Misinformasi atau informasi yang salah harus dikelola dengan baik.

Berbagai macam informasi yang salah terkait kasus Covid-19, penanganan, vaksin, maupun obat-obatan beredar secara masif di berbagai platform digital terutama WhatsApp.

Hingga Juni 2020 setidaknya ada 850 kabar bohong atau hoaks terkait Covid-19.

Ke depan, kemungkinan besar akan ada lebih banyak lagi misinformasi terkait program vaksinasi.

Mulai dari bahan-bahan yang ada di dalamnya, status halal maupun haram, efek samping, dan sebagainya yang bisa jadi membuat orang tidak mau divaksin.

Pemerintah dan pihak-pihak yang terkait harus bisa menangkal misinformasi ini dengan menyediakan platform berita, informasi, dan komunikasi yang bisa diandalkan.

Selain itu, masyarakat juga harus aktif membantu pemerintah menangkal informasi hoaks agar tidak mengacaukan perspektif masyarakat terhadap Covid-19 dan vaksinasi.

Jika hal-hal ini diperhatikan maka pemerataan vaksin akan lebih cepat dan mengurangi kerumitan pemerintah untuk mencapai target vaksinasi kepada 181 juta dalam 15 bulan ke depan.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Simak Video Berikut