Menanti Autopsi Ulang Jenazah Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Pihak keluarga meminta autopsi ulang terhadap jenazah Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang tewas di rumah singgah Irjen Ferdy Sambo di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (8/7) sore. Permintaan itu telah disetujui dan diharapkan dapat membuat kasus yang menyita perhatian publik ini terungkap terang benderang.

Dalam pengajuan autopsi ulang itu, kuasa hukum dari keluarga Brigadir J meminta agar Kapolri membentuk tim independen serta melibatkan dokter-dokter dari sejumlah rumah sakit seperti dari TNI.

"Secara pasti maka kami memohon kepada Bapak Kapolri untuk membentuk tim yang membentuk independen yang melibatkan dokter-dokter yang lain, terutama bukan yang kemarin, dokter dari RSPAD, yang kedua RS Angkatan Laut, ketiga RS AD, RSCM, terus dari rumah sakit swasta," kata kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/7).

Permintaan autopsi ulang itu diminta oleh pihaknya, karena pernyataan Karopenmas Polri disebutnya tak sesuai. Saat itu, Brigadir J dikatakannya tewas akibat baku tembak.

"Karena dulu penjelasan Karopenmas Polri adalah meninggalnya almarhum ini adalah tembak menembak, tetapi temuan fakta kami bukan tembak menembak seperti ada jerat tali di leher atau kawat, tangan juga hancur dipatah-patahin tangannya ini tinggal kulitnya, kemudian ada luka robek di sini, ada luka robek di kepala ada luka robek di bibir, ada luka robek jahit di hidung, ada luka robek di bawah mata," jelasnya.

"Kemudian ada luka robek di area perut, memar-memar, sampai biru kemudian di kaki kemudian di jari-jari. Itu bukan peluru, oleh karena itu supaya pasti kami memohon," sambungnya.

Permintaan Autopsi Ulang Disetujui

Autopsi ulang atau ekshumasi yang diminta keluarga Brigadir J itu pun telah disetujui Polri untuk mengungkap tabir tewasnya Brigadir J pada Jumat (8/7) sore.

"Pada intinya dari hasil komunikasi dari pihak pengacara diminta untuk dilaksanakan autopsi ulang atau ekshumasi itu dipenuhi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (20/7).

Direktur Tindak Pidana Umum (Dir Tipidum) Brigjen Andi Rian Djajadi juga menyatakan segera menindaklanjuti permintaan keluarga terkait autopsi ulang terhadap Brigadir J.

"Dalam pertemuan awal tadi juga, keluarga meminta untuk dilaksanakan ekshumasi atau autopsi ulang. Tadi juga kita sudah menerima suratnya secara resmi, nah tentunya ini akan segera saya tindaklanjuti dengan cepat," ujar Andi Rian.

Proses Ekshumasi Secepatnya

Untuk melakukan autopsi ulang itu, nantinya pihaknya akan berkoordinasi dengan Persatuan Kedokteran Forensik Indonesia (PKFI) serta Komnas HAM dan Kompolnas.

"Saya akan berkoordinasi dengan Kedokteran Forensik, termasuk juga tentunya akan melibatkan unsur-unsur di luar Kedokteran Forensik Polri, termasuk Persatuan Kedokteran Forensik Indonesia, termasuk juga Kompolnas atau Komnas HAM akan saya komunikasikan untuk menjamin bahwa proses ekshumasi nanti tentunya bisa berjalan lancar dan juga hasilnya valid," ungkapnya.

Menurut Dedi, proses ekshumasi ini akan dilakukan secepatnya. Alasannya, agar tidak terjadi pembusukan terhadap jenazah korban.

"Semakin cepat maka proses ekshumasi semakin baik. Karena kita kalau misalnya dari jenazahnya itu sudah lama maka tingkat pembusukannya akan semakin lebih rusak ya. Kalau semakin rusak, maka autopsi ulang atau ekshumasi ini akan semakin sulit," kata Dedi kepada wartawan, Jumat (22/7).

Libatkan Pihak Eksternal

Dedi menegaskan, dalam pelaksanaan ekshumasi serta autopsi nanti akan melibatkan sejumlah pihak eksternal yang memang ahli dalam bidangnya. Hal ini ditegaskannya agar hasilnya menjadi transparan, akuntabel dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi keilmuan serta dari sisi yuridis.

Meski akan dilakukan secepatnya, akan tetapi jenderal bintang dua ini belum bisa memastikan kapan waktu bakal melakukan ekshumasi serta autopsi ulang tersebut. Namun, ia hanya memastikan, kegiatan bakal dilakukan di Jambi.

Selain itu, terkait dengan pihak luar atau eksternal yang disebutnya itu juga termasuk atas permintaan pihak keluarga Brigadir J, seperti Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

"(Rumah sakit) RS permintaan dari pihak pengacara kan ada beberapa rumah sakit. RSCM. (RSPAD) Boleh, dari pihak pengacara menyampaikan juga seperti itu dari berbagai RS dokter-dokter yang memang expert di bidang forensik itu. Nanti akan dihadirkan silakan, karena kita terbuka," ucapnya.

7 Orang dari Perhimpunan Forensik Indonesia

Dedi menyebut, saat ini sudah ada 7 orang yang akan ikut dalam autopsi ulang jenazah Brigadir J.

"Kalau dari Perhimpunan Kedokteran Forensik Indonesia yang saya sudah dapatkan informasi ada 7 orang," kata Dedi kepada wartawan, Jumat (22/7).

Kendati demikian, jenderal bintang dua ini belum mengetahui siapa saja nama-nama dari tujuh orang itu. Namun ia memastikan mereka memang ahli dalam bidang forensik.

"Namanya saya tidak hafal ada beberapa guru besar di situ yang memang expert di bidang terutama forensik itu akan hadir ya, termasuk nanti dari kedokteran forensik dari Polri yang juga sudah memiliki pengalaman," ujarnya.

Keterlibatan TNI

Selain itu, saat disinggung apakah akan melibatkan pihak TNI dalam melakukan autopsi ulang terhadap Brigadir J di Jambi, menurutnya, semua akan dibutuhkan jika memang ahli dalam bidangnya.

"(Keterlibatan TNI) Bapak Kapolri sudah menyampaikan bahwa kita terbuka dan kita transparan dan tentunya tetap semua pekerjaan kita harus akuntabel," sebut Dedi.

"Oleh karenanya, keterlibatan para ahli expert di bidangnya ini tentunya dibutuhkan dalam rangka untuk membuat kasus ini terang benderang," sambungnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel