Menanti Gebrakan Menteri Sandi

Syahdan Nurdin, budisetiawan212
·Bacaan 4 menit

VIVA - Tentu menjadi kejutan bagi kita semua Ketika Presiden Jokowi mengumumkan reshuffle kabinet, di mana wishnutama sebagai menparekraf diganti oleh Sandiaga Uno yang merupakan kompetitor Jokowi di Pilpres 2019.

Namun dapat saya katakan bahwa pemilihan Sandiaga Uno sebagai Menparekraf adalah keputusan yang tepat. Memang, PR berat diemban oleh Sandiaga Salahudin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru tidak main-main.

Karena bagaimana meningkatkan kualitas destinasi wisata sekaligus meningkatkan kuantitas wisman dan turis lokal di era pandemi dengan dibarengi prokes sesuai standard CHSE (Clean, Health, Safety, and Environment) bukanlah hal yang mudah, belum lagi event internasional yang sudah terjadwal.

Tentu hal ini menjadi tantangan serius bagi Sandi. Kebijakan pemerintah dalam hal pemulihan pariwisata tentu akan menjadi kunci sukses. Belum lagi bagaimana meningkatkan kualitas ekonomi kreatif sehingga para pelaku UMKM dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Mungkin banyak yang belum mengetahui, bahwa di tahun 2021 ini pemerintah telah menganggarkan pembangunan Pariwisata tahun 2021 sebesar Rp. 14,4 Triliun. Jumlah anggaran fantastis itu diarahkan untuk mendorong pemulihan ekonomi di sektor pariwisata.

Nilai itu tentu sangat fantastis, karena selama ini kementerian pariwisata tidak pernah mendapat atau mengelola anggan sebesar ini. Tentu ada harapan besar dari Presiden Jokowi di mana di tahun 2019 telah mencanangkan bahwa devisa terbesar kedua Indonesia berasal dari sektor pariwisata.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah menetapkan 5 destinasi super prioritas dan 10 destinasi prioritas. 5 destinasi super prioritas ini adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Likupang.

Penetapan wilayah ini tentu sudah melalui kajian yang matang, dan diharapkan mampu menyedot bukan hanya turis lokal namun juga wisatawan mancanegara. Bagaimana caranya? tentu melalui pembenahan sektoral di kawasan tersebut yang dapat membuat nyaman dan aman bagi pengunjungnya. Biaya tidak sedikit akan digelontorkan ke 5 destinasi super prioritas tersebut.

Selain pembenahan infrastruktur, Menteri Sandi perlu menerapkan pengembangan Aspek 3A: Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas. Hal ini adalah syarat mutlak untuk mengembangkan destinasi. Setiap destinasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Kedua aksesbilitas, bagaimana akses menuju daerah / destinasi wisata menjadi mudah.

Contohnya seperti aksesibilitas menuju Wakatobi yang masih sulit lantaran hanya ada satu maskapai yang melayani akses. Yang ketiga adalah amenitas yang meliputi tersedianya fasilitas yaitu tempat penginapan, restoran, transportasi lokal yang memungkinkan wisatawan berpergian, sampai dengan alat-alat komunikasi yang diperlukan wisatawan.

Selanjutnya adalah 2P, Promosi dan Partisipasi para pelaku usaha swasta. Inilah peran kunci Sandiuno. Beliau sudah terbukti sukses dalam hal branding apalagi bersinergi dengan para pelaku usaha swasta. Ini adalah dunianya.

Bagaimana melakukan promosi yang tidak biasa di era pandemi ini, Sandi akan mengeluarkan jurus-jurus barunya. Pendekatan storynomic tourism yang mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture dan kekuatan budaya lokal, akan menjadi akselerator kinerja kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif di bawah Sandiuno.

PR besar pariwisata kita adalah kurangnya narasi terhadap desnitasi wisata. Contoh sukses narasi pengembangan destinasi wisata adalah Banyuwangi. Yang dulu kesan dari Kota Banyuwangi adalah kota hantu, kota san*et, namun dapat berubah menjadi destinasi wisata yang menakjubkan.

Semua Dinas adalah Dinas Pariwisata. Setiap Lokasi adalah Destinasi. Setiap yang datang adalah endorser, dan setiap spot foto instagramable. Ya betul, storynomic tourism ini adalah soal persepsi, dan persepsi orang terhadap banyuwangi sudah berubah.

Partisipasi pelaku usaha juga dapat dilakukan melalui skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha) dalam membangun pusat-pusat hiburan, seperti theme park yang akan menyerap banyak wisatawan, dan tentunya juga tenaga kerja bagi rakyat Indonesia.

Ke depan kita harapkan Indonesia memiliki Universal Studio dan/atau Disneyland tanpa perlu pergi ke Singapore, Hongkong dan Jepang untuk menikmati taman hiburan Internasional.

Tentunya Indonesia juga dapat membuat taman hiburan dengan cita rasa lokal dengan ciri khas daerahnya masing-masing yang dipadukan dengan Film Indonesia yang sudah mulai dengan Bumilangit Cinematic Universe.

Kerjasama antar anak bangsa ini tentunya akan mengharumkan nama Indonesia yang mana sudah banyak sekali berkontribusi dalam pembuatan film-film Hollywood. Kerjasama ini bukan hanya baik bagi sektor pariwisata tapi tentu juga sektor ekonomi kreatif. Mengingat tahun 2021 juga sudah ditetapkan sebagai tahun internasional ekonomi kreatif dunia.

Slogan kerja Sandi di kemenparekraf #Gercep (gerak cepat) #Geber (gerak Bersama) dan #Gaspol (garap semua potensi lapangan kerja) adalah sinyal, bahwa he knows the problems. Selanjutnya kita semua menunggu Sandi menterjemahkan dan mengeksekusi ide dan gagasannya itu.

Akhir kata, selamat bertugas Pak Menparekraf Sandiaga Uno. In Sandi We Trust.

[(Budi Setiawan, Chief I’M Gen Z (Indonesian Millennials and Generation Z)]